Polije Kembangkan AI Kusta Care untuk Percepat Deteksi Dini

  • 03 Mar 2026 17:30 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Politeknik Negeri Jember (Polije) terus mengembangkan aplikasi berbasis kecerdasan buatan bernama AI Kusta Care, untuk membantu percepatan deteksi dini penyakit kusta.

Dosen Polije, Tegar Wahyu Yudha Pratama, mengatakan pengembangan aplikasi ini dilatarbelakangi masih ditemukannya kasus kusta di sejumlah puskesmas di Kabupaten Jember.

“Di beberapa puskesmas masih ditemukan antara satu sampai sembilan penderita. Sementara secara standar global, targetnya adalah nol kasus. Itu yang mendorong kami mengembangkan AI Kusta Care,” ujarnya.

Menurut Tegar, aplikasi ini dirancang sebagai jembatan antara masyarakat dan layanan kesehatan agar penanganan kusta dapat dilakukan lebih cepat dan mencegah keterlambatan diagnosis.

AI Kusta Care memiliki tiga menu utama, yakni skrining, edukasi, dan informasi layanan kesehatan terdekat. Pada menu skrining, pengguna dapat masuk melalui akun pribadi atau Google.

“Lalu memotret bagian kulit yang memiliki gejala seperti bercak merah atau putih. Sistem kemudian menganalisis citra itu dan membandingkannya dengan basis data gambar yang telah tersimpan,” ujarnya.

Jika hasil analisis mengarah pada indikasi kusta, maka pengguna akan mendapatkan rekomendasi untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Sebaliknya, jika tidak terindikasi, maka sistem memberikan saran tindak lanjut lainnya.

“Komponen utama yang dianalisis adalah citra kulit. AI bekerja dengan membandingkan foto yang diunggah dengan database yang sudah ada di sistem,” tambahnya.

Aplikasi ini telah tersedia di Playstore dengan nama AI Kusta Care dan bersifat open source. Sejak tahap uji coba, lebih dari 50 orang telah mencoba menggunakan aplikasi tersebut.

Dosen Polije, Sabran, menambahkan saat ini pengembangan aplikasi itu masih berfokus pada deteksi mandiri. Pada tahap selanjutnya, ia menargetkan integrasi langsung dengan layanan kesehatan.

“Ke depan, ketika masyarakat melakukan skrining, hasilnya bisa langsung dimonitor oleh puskesmas sehingga tenaga kesehatan dapat melakukan analisis lanjutan dan tindak lanjut,” katanya.

Menurutnya, jika digunakan secara luas dan merata, aplikasi ini dapat berpotensi berkontribusi hingga 80 persen dalam membantu percepatan eliminasi kusta di Jember.

Meski demikian, pengembangan AI Kusta Care masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah literasi digital masyarakat.

“Masih ada masyarakat, terutama di pedesaan, yang menggunakan smartphone hanya untuk komunikasi. Ketika diminta menggunakan aplikasi kesehatan, perlu pendampingan,” ujarnya.

Selain itu, akurasi analisis juga bergantung pada kualitas foto yang diunggah. Pencahayaan yang kurang baik atau gambar yang tidak jelas dapat memengaruhi hasil deteksi.

Untuk meningkatkan akurasi, tim pengembang terus menambah database citra kulit dan menyempurnakan sistem analisis.

Dosen Polije, Mas'ud Hermansyah, menambahkan dalam proses uji coba, timnya mendapat dukungan perizinan dari dinas kesehatan, puskesmas, dan perangkat desa untuk melakukan sosialisasi dan simulasi penggunaan aplikasi di masyarakat.

Ia berharap, ke depan ada dukungan lebih lanjut, termasuk dari sisi operasional, agar pengembangan dan integrasi sistem dapat berjalan optimal.

“Teknologi bisa membantu meringankan tugas tenaga kesehatan dan meningkatkan kemandirian masyarakat dalam deteksi dini. Kusta bisa disembuhkan, semakin cepat dideteksi, semakin kecil risiko kecacatan,” katanya.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak takut memanfaatkan teknologi untuk kepentingan kesehatan.

“Digitalisasi ini bukan membuka data pribadi sembarangan, tetapi mempermudah akses layanan kesehatan,” kata dia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....