Kenali Ciri Tantrum pada Anak akibat Kurang Tidur

  • 30 Sep 2026 11:44 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember : Tantrum adalah ledakan emosi hebat yang umum terjadi pada anak usia dini, ditandai dengan sikap rewel, menangis kencang, menjerit, melempar barang, hingga berguling-guling di lantai. Dalam dunia medis dan psikologi perkembangan, tantrum bukanlah bentuk manipulasi atau kenakalan anak, melainkan bentuk keterbatasan kemampuan regulasi emosi. Secara neurobiologis, area otak anak khususnya korteks prefrontal yang berfungsi mengatur emosi, penalaran, dan kontrol impuls—belum berkembang secara sempurna. Sementara itu, sistem limbik (pusat emosi) anak sudah dapat merespons frustrasi dengan sangat cepat.

Tantrum umumnya dipicu oleh beberapa faktor seperti kesulitan dalam mengungkapkan perasaan frustasi, kelelahan fisik, hingga perasaan ingin melakukan sesuatu yang terhalang oleh batasan orang tua. Faktor kurang tidur merupakan salah satu penyebab anak tantrum yang tergolong dalam kelelahan fisik. Dikutip RRI (Rabu, 30 September 2026) melalui laman ayosehat.kemkes.go.id, tidur bukan sekadar waktu untuk beristirahat. Tidur berperan penting dalam proses belajar, konsolidasi memori, serta regulasi emosi. Ketika anak kurang tidur, kemampuan otak untuk mengatur respons emosional dapat ikut terpengaruh. Anak menjadi lebih mudah frustrasi, impulsif, dan kewalahan menghadapi stimulasi atau perubahan kecil.

Pada balita, kemampuan regulasi emosi memang masih berkembang. Ketika ditambah dengan rasa lelah, kemampuan mereka untuk menghadapi frustrasi menjadi semakin terbatas.Inilah sebabnya anak yang kurang tidur terkadang terlihat lebih rewel, sensitif, sulit diajak bekerja sama, atau lebih mudah tantrum. Berikut ini merupakan ciri- ciri tantrum yang disebabkan oleh kurangnya waktu tidur :

  1. Tantrum terjadi pada waktu yang sama setiap hari : Perhatikan apakah tantrum lebih sering muncul menjelang tidur siang atau tidur malam.

    Ketika anak sudah lelah, toleransinya terhadap frustrasi menurun sehingga hal kecil lebih mudah memicu ledakan emosi.

  2. Intensitas tantrum tidak sebanding dengan pemicunya : Biskuit patah, mainan tidak berada di tempat yang diinginkan, atau diminta memakai sepatu bisa tiba-tiba berakhir dengan tangisan besar.

    Bukan berarti anak "berlebihan". Saat sudah sangat lelah, kemampuan mereka untuk menghadapi kekecewaan memang dapat menurun.

  3. Anak sulit ditenangkan : Ketika sudah overtired, distraksi, bujukan, atau permainan favorit yang biasanya berhasil mungkin tidak lagi membantu.

    Anak bisa terlihat sangat kewalahan dan membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali tenang.

  4. Mood membaik drastis setelah tidur : Coba perhatikan kondisi anak setelah mendapatkan tidur siang atau tidur malam yang cukup.

    Jika setelah tidur anak kembali ceria, lebih kooperatif, dan lebih mudah menghadapi frustrasi, kelelahan mungkin menjadi salah satu faktor yang memperburuk tantrumnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....