Burnout ternyata Bukan Sekadar Masalah Zaman Modern

  • 20 Jul 2026 07:52 WIB
  •  Jember
Poin Utama
  • Kesehatan Mental
  • Burnout

RRI.Co.ID, Jember: Burnout sering dianggap sebagai persoalan khas masyarakat modern akibat tekanan pekerjaan, teknologi, dan budaya yang menuntut produktivitas tanpa henti. Namun, artikel BBC Culture mengungkap bahwa kelelahan mental dan emosional telah dikenal sejak Abad Pertengahan melalui sebuah konsep yang disebut acedia.

Seperti dilansir dari BBC (15-6-2026), penulis artikel, David Robson, mengutip pandangan sejarawan abad pertengahan Peter Jones, yang menjelaskan bahwa acedia bukanlah kemalasan seperti yang sering dipahami saat ini. Menurut Jones, "Acedia is not laziness – it's a paralysis of care," atau "Acedia bukanlah kemalasan, melainkan kelumpuhan untuk peduli." Kondisi ini menggambarkan seseorang yang kehilangan semangat, tujuan, dan makna dalam aktivitas yang sebelumnya memberi kepuasan.

Gejala tersebut dinilai memiliki kemiripan dengan burnout masa kini. Pada abad ke-5, biarawan dan teolog John Cassian telah menuliskan pengalaman para rahib yang merasa gelisah, kehilangan motivasi, sulit berkonsentrasi, hingga muncul keinginan untuk meninggalkan pekerjaannya. Saat itu, kondisi tersebut dipahami sebagai pergulatan spiritual, bukan gangguan kesehatan mental seperti yang dikenal sekarang.

Meski demikian, masyarakat abad pertengahan tidak hanya mendeskripsikan masalah itu, tetapi juga menawarkan cara menghadapinya. Salah satunya datang dari penulis abad ke-13 William Peraldus, yang menganjurkan setiap orang menemukan "a strong mountain", atau "gunung yang kokoh", sebagai tempat bersandar ketika menghadapi masa sulit. Gunung tersebut dimaknai sebagai tujuan hidup, keyakinan, atau sosok yang mampu memberikan kekuatan dan harapan.

Peraldus juga menggunakan perumpamaan ladang penuh duri yang suatu saat dapat menghasilkan panen. Pesan itu mengingatkan bahwa masa-masa sulit tidak selalu berlangsung selamanya dan membutuhkan kesabaran untuk melewatinya.

Sementara itu, tokoh gereja Bernard dari Clairvaux mengibaratkan kehidupan seperti perjalanan melintasi medan berbatu. Ia mengatakan bahwa siapa pun yang menempuh perjalanan panjang pasti akan tersandung. Melalui analogi tersebut, Bernard mengajak orang untuk tidak terlalu keras menghakimi diri sendiri ketika mengalami kelelahan atau kehilangan arah.

BBC Culture menilai pelajaran dari Abad Pertengahan masih relevan hingga saat ini. Burnout tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan individu menghadapi tekanan, tetapi juga oleh budaya kerja dan lingkungan sosial yang membentuk cara manusia menjalani kehidupannya. Karena itu, pemulihan burnout tidak cukup dilakukan dengan meningkatkan ketahanan pribadi, melainkan juga dengan membangun lingkungan yang memberi ruang untuk beristirahat, menemukan kembali makna pekerjaan, serta memperoleh dukungan dari orang lain.

Melalui telaah sejarah tersebut, BBC Culture menunjukkan bahwa kelelahan bukanlah fenomena baru. Yang berubah hanyalah cara manusia memaknainya. Jika pada Abad Pertengahan burnout dipahami sebagai krisis spiritual, maka di era modern ia dipandang sebagai persoalan kesehatan mental. Namun, pesan yang tetap bertahan selama berabad-abad adalah pentingnya tujuan hidup, hubungan sosial, dan belas kasih terhadap diri sendiri ketika menghadapi kelelahan yang berkepanjangan

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....