Teknik Cognitive Shuffling Disebut Dapat Membantu Otak Lebih Cepat Terlelap
- 17 Jul 2026 08:14 WIB
- Jember
Poin Utama
- Insomnia
- Cara mengatasi susah tidur
RRI.CO.ID, Jember: Kesulitan tidur sering kali dipicu oleh pikiran yang terus berputar, mulai dari kekhawatiran hingga rencana untuk keesokan hari. Untuk mengatasinya, para peneliti memperkenalkan teknik cognitive shuffling, yaitu latihan mental yang dirancang untuk meniru pola pikir acak yang secara alami muncul saat seseorang mulai tertidur.
Dilansir dari BBC Future (13-3-2026) menyebutkan bahwa teknik ini dikembangkan oleh ilmuwan kognitif dari Simon Fraser University, Kanada, Dr. Luc P. Beaudoin. Ia menjelaskan bahwa menjelang tidur, otak biasanya menghasilkan gambaran-gambaran acak atau micro-dreams yang menjadi pertanda tubuh sedang beralih dari kondisi sadar menuju tidur."Ketika seseorang dibangunkan pada saat baru mulai terlelap, mereka kerap mengatakan bahwa sedang mengalami rangkaian mimpi-mimpi kecil." kata Beaudoin. Pernyataan itu menjelaskan bahwa orang yang dibangunkan saat mulai tertidur kerap melaporkan mengalami "mimpi-mimpi kecil" berupa gambaran atau adegan yang muncul secara acak.
Berangkat dari fenomena tersebut, Beaudoin mengembangkan teknik yang disebut serial diverse imagining atau cognitive shuffling. Caranya cukup sederhana. Seseorang memilih satu kata yang bersifat netral, misalnya "rumah", kemudian membayangkan berbagai benda yang diawali huruf pertama dari kata tersebut, seperti "roti", "roda", atau "ranting". Setelah kehabisan ide, lanjutkan ke huruf berikutnya hingga akhirnya tertidur.
Menurut Beaudoin, latihan ini membantu mengalihkan otak dari pola pikir yang dipenuhi kecemasan atau upaya memecahkan masalah. "Sulit bagi otak untuk memikirkan hal-hal yang benar-benar acak, tetapi teknik sederhana ini dapat membantu orang untuk lebih mudah tertidur." ujarnya.
Penelitian awal yang dilakukan tim Beaudoin menunjukkan bahwa cognitive shuffling memiliki efektivitas yang sebanding dengan metode constructive worry, yakni menuliskan berbagai kekhawatiran beberapa jam sebelum tidur. Bedanya, teknik ini dapat dilakukan kapan saja, termasuk ketika seseorang terbangun di tengah malam dan sulit tidur kembali.
Meski demikian, para pakar mengingatkan bahwa teknik ini bukan solusi untuk semua kasus insomnia. Bagi mereka yang mengalami gangguan tidur kronis, terapi perilaku kognitif untuk insomnia (Cognitive Behavioral Therapy for Insomnia atau CBT-I) masih menjadi pendekatan yang paling direkomendasikan karena didukung bukti ilmiah yang lebih kuat.
Selain mencoba cognitive shuffling, para ahli tetap menekankan pentingnya menerapkan kebiasaan tidur yang sehat, seperti menjaga jadwal tidur yang teratur, mengurangi paparan cahaya dari layar sebelum tidur, membatasi konsumsi kafein pada malam hari, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila gangguan tidur berlangsung dalam jangka panjang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....