Terjebak dalam Lamunan? Kenali Fenomena Maladaptive Daydreaming

  • 24 Jun 2026 12:39 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Melamun adalah aktivitas mental yang normal. Namun, bagi sebagian orang, melamun bisa berubah menjadi "bioskop internal" yang sangat imersif hingga menyita waktu berjam-jam setiap harinya. Fenomena ini dikenal sebagai Maladaptive Daydreaming (MD), sebuah kondisi di mana imajinasi bukan lagi alat untuk kreatif, melainkan pelarian yang bersifat adiktif.

Apa Itu Maladaptive Daydreaming?

Menurut laporan dari BBC, Maladaptive Daydreaming adalah kondisi saat seseorang menghabiskan sebagian besar waktu bangunnya untuk berfantasi dengan detail yang sangat rumit, karakter yang mendalam, dan alur cerita yang bisa berlangsung selama bertahun-tahun.

Berbeda dengan melamun biasa yang bermanfaat untuk kreativitas dan regulasi emosi, penderita MD sering kali merasa terjebak. "Masalah muncul ketika seseorang tidak lagi mengendalikan fantasinya, melainkan fantasi yang mengendalikan orang tersebut," ujar Eli Somer, profesor psikologi klinis yang pertama kali mencetuskan istilah ini.

Tanda-tanda Kondisi Ini Menjadi Masalah

Melamun bisa dikatakan sudah masuk dalam kategori maladaptif jika:

  • Bersifat Kompulsif: Ada dorongan yang sangat kuat untuk terus melamun, serupa dengan kecanduan media sosial atau makanan.
  • Mengganggu Fungsi Harian: Penderita menarik diri dari pergaulan, mengabaikan pekerjaan atau studi, dan merasa hidup nyata terasa membosankan dibanding dunianya.
  • Adanya Pemicu: Sering kali dibantu oleh musik atau gerakan fisik berulang seperti mondar-mandir selama berjam-jam untuk mempertahankan konsentrasi dalam lamunan.
  • Rasa Sesal: Setelah sesi melamun berakhir, penderita sering merasa bahwa waktu mereka terbuang sia-sia, namun mereka tetap mengulanginya kembali.

Mengapa Seseorang Mengalaminya?

Penderita MD sering kali menggunakan fantasi sebagai mekanisme pertahanan diri (coping strategy) untuk melarikan diri dari realitas yang sulit, trauma masa kecil, kesepian, atau tantangan hidup lainnya. Fantasi tersebut menjadi "tempat aman" di mana mereka merasa lebih sukses, lebih dicintai, atau lebih berdaya dibandingkan di dunia nyata.

Penelitian menunjukkan adanya keterkaitan antara MD dengan kondisi lain seperti depresi, kecemasan, ADHD, dan OCD. Namun, para ahli menegaskan bahwa MD adalah entitas yang berbeda karena berpusat pada narasi imersif yang sangat detail.

Jalan Menuju Pemulihan

Meskipun saat ini MD belum diakui secara resmi dalam buku panduan diagnosis gangguan jiwa (seperti DSM), para klinisi mulai mengembangkan pendekatan untuk membantu penderita. Tujuannya bukanlah menghilangkan imajinasi, melainkan mengembalikan kendali agar imajinasi bisa melayani kehidupan, bukan menggantikannya.

Beberapa langkah mandiri yang disarankan oleh para ahli meliputi:

  1. Catat dan Pantau: Log durasi waktu yang dihabiskan untuk melamun dan cari tahu pemicunya (misalnya musik tertentu).
  2. Ubah Kebiasaan: Jika musik memicu melamun, ganti dengan mendengarkan podcast. Jika kesendirian menjadi pemicu, usahakan untuk tidak terlalu banyak waktu sendirian.
  3. Latih Otak dengan Mindfulness: Membaca buku atau mengonsumsi konten berdurasi panjang dapat membantu melatih fokus daripada konten singkat yang memberikan "suntikan dopamin" instan.
  4. Cari Bantuan Profesional: Jika gangguan sudah terasa menyiksa, terapi psikologis yang berfokus pada kontrol atensi, regulasi emosi, dan pengelolaan trauma dapat sangat membantu.

Kyla Borcherds, yang kini aktif dalam komunitas pendukung MD, menekankan bahwa memiliki dunia imajinasi bukanlah kesalahan. "Memiliki cerita di kepala Anda bukanlah masalah. Menjadi kecanduan terhadap cerita-cerita itulah masalahnya," pungkasnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....