Mengapa Generasi Muda Kini Sering Merasa Hidup Kurang Bermakna?
- 21 Mei 2026 16:18 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Pernahkah terbersit perasaan hampa, di mana sekolah atau pekerjaan berjalan lancar, namun hati tetap merasa ada yang kurang? Perasaan bahwa hidup terasa kurang bermakna ini belakangan kian sering dikeluhkan oleh generasi muda di berbagai daerah, termasuk di kawasan urban seperti Jember.
Berdasarkan ulasan mendalam dari BBC Reel dan pandangan Profesor Harvard, Arthur Brooks, melalui BBC Global, fenomena krisis makna (meaning crisis) ini terjadi karena banyak anak muda terjebak dalam rutinitas tanpa tujuan yang jelas.
| Baca juga: Tanda Kanker Serviks dari Telapak Kaki |
Banyak orang merasa terjebak dalam jalur linier yang seragam: menyelesaikan sekolah, mencari pekerjaan, mengejar jabatan, lalu membeli rumah. Masalahnya, setelah pencapaian itu terpenuhi, kepuasan yang dicari tak kunjung datang. Hal ini terjadi karena mereka sering menjalani hidup berdasarkan rencana orang lain atau tuntutan lingkungan, bukan atas apa yang benar-benar mereka inginkan.
Untuk mengukur apakah seseorang sedang mengalami krisis makna, Arthur Brooks menawarkan sebuah tes sederhana melalui dua pertanyaan mendalam: "Kenapa Anda hidup?" dan "Untuk apa Anda bersedia mati saat ini?".
| Baca juga: Tidak Semua Orang Butuh Tidur 8 Jam |
Menurut Brooks, jika seseorang didorong untuk memberi jawaban yang lebih besar daripada sekadar urusan personal seperti untuk sebuah ide mulia atau kontribusi bagi orang lain, maka mereka akan mulai memikirkan makna hidup dengan perspektif yang berbeda. Sayangnya, tradisi merenungkan pertanyaan filosofis seperti ini dinilai mulai memudar sejak tahun 2008.
Kehidupan modern saat ini dinilai terlalu sibuk menuntut individu untuk selalu produktif dan efisien. Akibatnya, masyarakat sering lupa meluangkan waktu untuk mengeksplorasi apa yang sebenarnya membuat hidup mereka berharga. Padahal, makna hidup tidak selalu ditemukan dalam prestasi besar atau materi, melainkan muncul dari hubungan nyata serta kontribusi bagi sesama.
Oleh karena itu, para ahli menyarankan generasi muda untuk tidak takut mencoba jalan hidup yang berbeda, meskipun keputusan tersebut tidak terlihat mentereng di mata lingkungan sosial. Hidup yang bermakna bukanlah tentang memenangkan perlombaan dengan garis finis orang lain, melainkan tentang bagaimana melangkah dengan cara yang membawa kedamaian bagi diri sendiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....