Sering Kerja Malam? Ini Dampaknya bagi Tubuh

  • 31 Mei 2026 20:48 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID - Jember, Bekerja pada malam hari menjadi bagian penting dalam berbagai sektor, mulai dari tenaga kesehatan, keamanan, manufaktur, hingga layanan pelanggan. Namun di balik perannya yang vital, para ahli mengingatkan bahwa kerja shift malam dapat membawa dampak serius terhadap kesehatan apabila dilakukan dalam jangka panjang tanpa pengelolaan yang baik.

Penyebab utamanya adalah terganggunya ritme sirkadian, yaitu "jam biologis" tubuh yang mengatur kapan seseorang harus tidur dan bangun. Ketika seseorang bekerja saat tubuh seharusnya beristirahat, berbagai fungsi biologis dapat ikut terganggu.

Dalam artikel kesehatan yang diterbitkan 10 Februari 2026, pakar tidur dari Cleveland Clinic, Robon Vanek, mengatakan bahwa kerja shift nontradisional dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh. "Ketika seseorang bekerja malam hari, sinyal alami tubuh untuk tetap terjaga dan tidur menjadi saling bertentangan sehingga kualitas istirahat dapat terganggu", Ujar Vanek

Menurut para ahli tidur lainnya, tubuh manusia secara alami dirancang untuk aktif pada siang hari dan beristirahat saat malam. Akibatnya, banyak pekerja malam mengalami kurang tidur kronis atau bahkan Shift Work Sleep Disorder (SWSD), yaitu gangguan tidur yang terjadi akibat jadwal kerja yang bertentangan dengan ritme biologis tubuh.

Selain fisik, kesehatan mental juga dapat terdampak. Kurangnya waktu berkumpul bersama keluarga, gangguan tidur, serta kelelahan berkepanjangan dapat meningkatkan risiko stres, kecemasan, hingga depresi. Bahkan dalam tinjauan penelitian yang dipublikasikan di jurnal Scandinavian Journal of Work, Environment & Health tahun 2025, banyak pekerja shift melaporkan kelelahan yang terus-menerus dan kesulitan mempertahankan gaya hidup sehat akibat jadwal kerja yang tidak menentu.

Berikutnya, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kerja malam dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Gangguan pola tidur dan ritme tubuh dapat memengaruhi tekanan darah, metabolisme, serta proses peradangan dalam tubuh yang berkaitan dengan penyakit jantung dan stroke.

Kurang tidur dan perubahan jam makan yang sering dialami pekerja shift malam dapat berdampak pada sistem metabolisme. Kondisi ini dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas, diabetes tipe 2, serta gangguan hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang.

Rasa kantuk dan berkurangnya konsentrasi menjadi salah satu dampak yang paling berbahaya. Kurang tidur dapat meningkatkan risiko kesalahan kerja, kecelakaan di tempat kerja, hingga kecelakaan lalu lintas saat perjalanan pulang.

Kerja shift malam memang tidak selalu bisa dihindari, terutama pada profesi tertentu yang harus beroperasi 24 jam. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa jadwal kerja malam dapat meningkatkan risiko gangguan tidur, penyakit jantung, gangguan metabolisme, hingga masalah kesehatan mental apabila dilakukan terus-menerus tanpa pola hidup yang baik.

Karena itu, pekerja shift malam perlu memberi perhatian lebih pada kualitas tidur dan kesehatan tubuh agar risiko jangka panjang dapat diminimalkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....