Pentingnya Edukasi Mitigasi Perubahan Iklim sejak Dini

  • 29 Jul 2026 07:23 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Perubahan iklim tidak lagi menjadi isu yang hanya dibahas dalam forum internasional. Dampaknya kini semakin nyata dirasakan masyarakat, mulai dari perubahan pola cuaca, meningkatnya risiko bencana, hingga ancaman terhadap kesehatan dan ketahanan pangan. Kondisi tersebut mendorong pentingnya keterlibatan generasi muda, termasuk mahasiswa, dalam upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Perwakilan Standing Committee on Human Rights and Peace (SCORP) CIMSA Universitas Jember, Raditya Nizaar Junaedi, menjelaskan bahwa masyarakat perlu memahami perbedaan antara cuaca dan iklim. Menurutnya, cuaca merupakan kondisi atmosfer yang berubah dalam waktu singkat, sedangkan iklim adalah pola cuaca rata-rata yang berlangsung dalam jangka panjang hingga puluhan tahun.

"Iklim bukan hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga berdampak pada kesehatan, keselamatan, dan kualitas hidup masyarakat. Perubahan iklim bahkan menjadi isu hak asasi manusia karena kelompok rentan menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya," ujar Raditya di Jaga Malam Pro 2 Jember, Jumat 24 Juli 2026.

Raditya mengajak masyarakat untuk memahami perubahan iklim melalui pendekatan ilmiah sekaligus mendorong aksi nyata di tingkat komunitas. Perubahan iklim kini menjadi persoalan mendesak karena dampaknya telah dirasakan secara langsung, termasuk di Kabupaten Jember. Perubahan pola curah hujan dan peningkatan suhu menyebabkan berbagai persoalan seperti banjir, kekeringan, gangguan siklus air, hingga penurunan produktivitas pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Ia juga memaparkan sejumlah dampak perubahan iklim yang telah dilaporkan berbagai lembaga, di antaranya meningkatnya suhu bumi, musim kemarau yang lebih panjang, berkurangnya sumber air, meningkatnya kejadian cuaca ekstrem, bertambahnya risiko penyakit, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan.

Sebagai mahasiswa kedokteran, Raditya menilai peran generasi muda tidak hanya sebatas mempelajari ilmu kesehatan, tetapi juga menjadi health advocate yang mampu mengedukasi masyarakat mengenai hubungan antara perubahan iklim dengan kesehatan. Bentuk kontribusi tersebut dapat dilakukan melalui penyuluhan, penelitian, advokasi kebijakan, hingga mendorong integrasi isu perubahan iklim dalam pendidikan kedokteran. Selain itu, ia menjelaskan pentingnya konsep Disaster Risk Reduction (DRR) atau Pengurangan Risiko Bencana sebagai pendekatan yang menitikberatkan pada upaya pencegahan sebelum bencana terjadi.

"DRR merupakan investasi untuk menyelamatkan masa depan. Fokusnya bukan hanya merespons bencana, tetapi mengidentifikasi risiko, mengurangi potensi dampak, serta membangun ketahanan masyarakat secara berkelanjutan," jelasnya.

Menurut Raditya, paradigma penanggulangan bencana telah mengalami perubahan besar sejak era 1970-an. Jika sebelumnya penanganan lebih bersifat reaktif setelah bencana terjadi, kini pendekatan yang digunakan lebih preventif dengan mengutamakan analisis risiko, pembangunan ketahanan masyarakat, serta kolaborasi lintas sektor selaras dengan Hyogo Framework for Action dan Sendai Framework for Disaster Risk Reduction.

Sebagai bentuk implementasi nyata, CIMSA UNEJ bersama Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Jember menggelar kegiatan Main Act Earth Day 2026 di Kelurahan Kepatihan, Jember. Kegiatan tersebut menghadirkan edukasi mengenai pengelolaan lingkungan berkelanjutan sekaligus pelatihan pembuatan biopori sebagai salah satu upaya mitigasi bencana berbasis masyarakat.

Raditya menjelaskan bahwa biopori merupakan lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter sekitar 10–30 sentimeter dan kedalaman 80–100 sentimeter. Lubang tersebut diisi sampah organik sehingga mampu meningkatkan daya resap air sekaligus menghasilkan kompos alami.

Menurutnya, penerapan biopori memberikan berbagai manfaat, seperti mengurangi genangan air, menekan risiko banjir, menjaga cadangan air tanah saat musim kemarau, serta membantu pengelolaan sampah organik. Bahkan, satu lubang biopori mampu menyerap puluhan liter air hujan sehingga apabila diterapkan secara kolektif di lingkungan permukiman akan memberikan dampak signifikan terhadap ketahanan lingkungan.

Melalui berbagai kegiatan edukasi tersebut, Raditya berharap masyarakat semakin menyadari bahwa perubahan iklim bukan sekadar fenomena alam yang harus diterima, melainkan risiko yang dapat dikelola melalui perencanaan, kolaborasi, serta aksi nyata bersama. Dengan keterlibatan berbagai pihak, termasuk mahasiswa, komunitas, dan masyarakat, upaya membangun lingkungan yang tangguh dan berkelanjutan dapat diwujudkan sejak sekarang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....