ISS, Laboratorium Luar Angkasa Terbesar yang Dihuni Manusia
- 30 Jun 2026 18:17 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Selama seperempat abad terakhir, International Space Station (ISS) atau Stasiun Luar Angkasa Internasional telah menjadi simbol keberhasilan kerja sama antarnegara dalam menjelajahi antariksa. Mengorbit sekitar 400 kilometer di atas permukaan Bumi, ISS bukan hanya menjadi laboratorium penelitian terbesar di luar angkasa, tetapi juga objek buatan manusia paling mahal yang pernah dibangun.
Dilansir dari tulisan Richard Hollingham yang dimuat bbc.com pada 24 Desember 2025, sejak awak pertama Expedition 1 tiba pada 2 November 2000, ISS tidak pernah sekalipun kosong. Artinya, bagi siapa pun yang lahir setelah tanggal tersebut, selalu ada manusia yang tinggal di luar angkasa sepanjang hidup mereka.
Perjalanan ISS sebenarnya dimulai pada November 1998 ketika modul pertamanya, Zarya, diluncurkan dari Kosmodrom Baikonur di Kazakhstan. Modul berusia sekitar 27 tahun itu masih menjadi bagian penting dari stasiun hingga sekarang. Proyek ISS sendiri lahir dari penggabungan rencana stasiun luar angkasa Amerika Serikat bernama Freedom dengan penerus stasiun luar angkasa Rusia, Mir. Meski sempat diwarnai berbagai penundaan, pembengkakan biaya, hingga kritik politik, proyek tersebut akhirnya berhasil diwujudkan.
Saat tiga astronaut pertama, Bill Shepherd, Sergei Krikalev, dan Yuri Gidzenko, menyalakan lampu ISS pada tahun 2000, stasiun itu hanya terdiri dari tiga modul utama, yaitu Zarya, Zvezda, dan Unity. Kini, ISS telah berkembang menjadi kompleks raksasa dengan belasan modul bertekanan, delapan panel surya utama, serta berbagai komponen yang dirakit melalui 42 misi perakitan menggunakan pesawat ulang-alik Amerika Serikat.
Ruang yang dapat dihuni awak ISS kini mencapai sekitar 388 meter kubik, setara rumah enam kamar tidur. Namun, karena berada dalam kondisi tanpa gravitasi, seluruh permukaan, lantai, dinding, maupun langit-langit, dapat dimanfaatkan sebagai ruang kerja maupun penyimpanan. Meski demikian, tata letak tetap dibuat menyerupai ruangan biasa agar astronaut tidak kehilangan orientasi.
Tinggal di luar angkasa ternyata bukan perkara mudah. Tanpa gravitasi, tubuh manusia mengalami penurunan massa otot, kepadatan tulang, hingga gangguan penglihatan. Karena itu setiap astronaut diwajibkan berolahraga sekitar dua jam setiap hari menggunakan treadmill, sepeda statis, dan alat latihan beban khusus. Bahkan pada tahun 2016, astronaut Inggris Tim Peake berhasil menyelesaikan maraton sejauh 42 kilometer di luar angkasa dalam waktu tiga jam 35 menit.
Salah satu teknologi paling mengesankan di ISS adalah sistem daur ulang air. Sekitar 98 persen air yang berasal dari uap napas, keringat, dan urine para astronaut diproses kembali menjadi air minum yang aman. Teknologi ini menjadi solusi penting karena mengirim pasokan air dari Bumi membutuhkan biaya yang sangat besar.
Selain itu, ISS juga menjadi rumah bagi berbagai mikroorganisme. Penelitian terbaru bahkan menemukan sedikitnya 55 jenis mikroba yang hidup berdampingan dengan manusia di dalam stasiun tersebut.
Sebagai laboratorium penelitian, ISS telah menghasilkan lebih dari 4.400 publikasi ilmiah. Penelitian yang dilakukan mencakup bidang kesehatan, material baru, farmasi, biologi, hingga pengembangan teknologi yang suatu saat dapat digunakan dalam misi menuju Bulan maupun Mars. Berbagai perusahaan swasta pun mulai memanfaatkan hasil riset ISS untuk mengembangkan material canggih yang diproduksi di lingkungan tanpa gravitasi.
Usia ternyata bukan penghalang menjadi astronaut. Jika pada awal program antariksa NASA hanya memilih kandidat muda dengan kondisi fisik prima, kini banyak astronaut tetap aktif hingga usia lanjut. Don Pettit, misalnya, kembali ke Bumi tepat pada ulang tahunnya yang ke-70 dan menjadi penghuni ISS tertua hingga saat ini.
Misi jangka panjang juga menjadi bagian penting dari penelitian manusia di luar angkasa. Rekor terlama tinggal di ISS saat ini dipegang astronaut NASA Frank Rubio yang menghabiskan 371 hari berturut-turut di orbit sebelum kembali ke Bumi pada 2023. Sementara rekor dunia untuk misi antariksa terlama masih dipegang kosmonaut Rusia Valeri Polyakov yang menetap selama 437 hari di stasiun Mir.
Salah satu lokasi favorit para astronaut di ISS adalah Cupola, modul observasi dengan tujuh jendela besar yang menawarkan pemandangan spektakuler ke arah Bumi. Kaca jendelanya memiliki ketebalan sekitar 25 milimeter untuk melindungi penghuni dari benturan benda-benda kecil di luar angkasa.
Di sela-sela pekerjaan, para astronaut tetap memiliki waktu untuk menikmati hobi. Mereka menonton film, melukis, hingga memainkan alat musik. Astronaut Kanada Chris Hadfield bahkan pernah merekam lagu Space Oddity karya David Bowie langsung dari ISS. Sementara Don Pettit pernah membuat alat musik didgeridoo sederhana menggunakan tabung penyedot debu sebagai bagian dari eksperimen sains.
Setiap astronaut juga memiliki ruang pribadi seukuran bilik telepon yang dilengkapi kantong tidur khusus sepanjang sekitar 211 sentimeter yang dipasang menempel di dinding. Tidur di luar angkasa tetap menjadi tantangan karena suara kipas ventilasi, cahaya Matahari yang muncul setiap 90 menit, dan kondisi tanpa gravitasi.
Fasilitas lain yang tak kalah penting adalah toilet. Saat ini ISS memiliki empat toilet, dan sistemnya jauh lebih rumit dibanding toilet di Bumi karena tidak ada gravitasi yang membantu aliran limbah. Astronaut Chris Hadfield bahkan pernah menyebut keberhasilannya memperbaiki toilet ISS sebagai salah satu pencapaian paling membanggakan selama enam bulan bertugas di luar angkasa.
Menu makanan astronaut pun semakin berkembang. Selain pizza dan kopi espresso, ISS pernah menjadi lokasi percobaan memanggang lima keping kukis cokelat pada tahun 2019. Meski berhasil dipanggang, kukis tersebut tidak langsung dimakan karena harus dikembalikan ke Bumi terlebih dahulu untuk memastikan keamanannya.
Di sisi lain, ISS juga menghadapi ancaman serius berupa sampah antariksa. Hingga kini stasiun tersebut telah melakukan sekitar 40 manuver penghindaran untuk menghindari tabrakan dengan puing-puing yang mengorbit Bumi. Beberapa jendelanya bahkan telah menunjukkan bekas benturan partikel kecil berkecepatan tinggi.
Perawatan ISS juga membutuhkan banyak aktivitas berjalan di luar wahana atau spacewalk. Sejak stasiun mulai dirakit, lebih dari 270 spacewalk telah dilakukan. Rekor terlama berlangsung selama hampir sembilan jam, ketika Susan Helms dan Jim Voss melakukan pekerjaan di luar ISS pada tahun 2001.
Salah satu teknologi paling penting di luar ISS adalah Canadarm2, lengan robot canggih buatan Kanada yang memiliki tujuh sendi. Perangkat ini digunakan untuk membantu pemasangan modul, memindahkan kargo, hingga mengangkut astronaut selama aktivitas di luar stasiun.
ISS kini tidak lagi hanya dikunjungi astronaut profesional. Hingga saat ini terdapat 13 wisatawan antariksa atau spaceflight participants yang telah mengunjungi laboratorium tersebut setelah menjalani pelatihan intensif selama berbulan-bulan. Meski demikian, biaya perjalanan tetap fantastis. Satu kursi menggunakan kapsul Dragon milik SpaceX diperkirakan mencapai sekitar 55 juta dolar Amerika Serikat, sementara perjalanan menggunakan Soyuz Rusia bahkan bisa mencapai sekitar 80 juta dolar.
Dengan kecepatan sekitar 28.000 kilometer per jam, ISS mengelilingi Bumi sebanyak 16 kali setiap hari. Para astronaut pun menikmati 16 kali matahari terbit dan 16 kali matahari terbenam dalam waktu 24 jam.
Selama 25 tahun terakhir, ISS telah membuktikan bahwa kolaborasi internasional mampu menghasilkan pencapaian luar biasa di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Meski usianya semakin bertambah dan berbagai tantangan baru terus bermunculan, stasiun ini tetap menjadi laboratorium paling penting di luar angkasa sekaligus batu loncatan bagi misi manusia menuju Bulan, Mars, dan tujuan-tujuan antariksa lainnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....