Apple Park, Perpaduan Futurisme dan Nostalgia California

  • 29 Mei 2026 15:41 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Apple Park yang terletak di Cupertino, California, sering disorot karena desain futuristik berbentuk lingkaran karya Norman Foster dan firma arsitektur Foster + Partners. Banyak kritik muncul mengenai kantor berkonsep open-plan, dinding kaca yang membuat orang sering menabrak, hingga area parkir yang dianggap terlalu besar. Namun di balik bangunan yang mirip “pesawat luar angkasa” itu, tersimpan visi personal Steve Jobs tentang alam, kesehatan, dan hubungan manusia dengan lanskap California Utara.

Menurut ulasan Witold Rybczynski yang dimuat Architect Magazine pada 9 November 2018, salah satu sosok paling penting dalam pembangunan Apple Park justru bukan arsiteknya, melainkan arsitek lanskap bernama Laurie Olin. Selama tujuh tahun, Olin mengerjakan rancangan lanskap Apple Park yang luasnya mencapai sekitar 150 acre atau lebih dari 60 hektare. Lanskap tersebut menjadi bagian yang sangat dipikirkan Steve Jobs sebelum meninggal pada 2011.

Ketika pertama kali bertemu Olin pada musim semi 2011, Jobs disebut sedang mencari “Olmsted berikutnya”, merujuk pada Frederick Law Olmsted, tokoh legendaris perancang Central Park di New York. Jobs berkali-kali menyebut nama Olmsted dan juga Stanford University Main Quad sebagai referensi lanskap ideal menurutnya. Dalam percakapan itu, Jobs bahkan mengatakan bahwa dirinya tidak menyukai “sesuatu yang modern” dalam desain lanskap, sebuah pernyataan yang mengejutkan Olin mengingat Jobs dikenal sebagai simbol modernitas teknologi dunia.

Pertemuan mereka berlangsung intens meski singkat. Saat itu Jobs tengah menjalani pengobatan kanker dan menerima Olin di rumah pribadinya karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan datang ke kantor. Olin memperhatikan sebuah portofolio besar foto lanskap karya Ansel Adams di ruang tamu Jobs. Keduanya kemudian banyak berdiskusi mengenai lanskap California Utara, mulai dari kebun buah, padang rumput, hutan oak, hingga kebun-kebun yang pernah memenuhi kawasan Cupertino sebelum berubah menjadi pusat industri teknologi.

Steve Jobs menginginkan Apple Park menjadi tempat perlindungan bagi karyawan Apple, bukan sekadar kantor perusahaan teknologi. Bersama Olin, ia merumuskan dua prinsip utama untuk proyek tersebut yaitu kesehatan fisik dan mental, serta representasi lanskap alami California Utara. Olin menegaskan bahwa Apple Park bukan meniru alam secara literal, melainkan menciptakan interpretasi artistik terhadap lanskap regional California.

Menariknya, area Apple Park dulunya benar-benar datar karena merupakan bekas kompleks kantor Hewlett-Packard. Jobs sendiri mengenang lokasi itu sebagai kebun aprikot pada masa kecilnya. Setelah bangunan lama dibongkar, seluruh kawasan diubah menjadi taman besar dengan topografi bukit-bukit buatan. Bahkan halaman tengah di dalam bangunan lingkaran utama memiliki luas sekitar 20 acre, lebih besar daripada keseluruhan Stanford Main Quad yang sering dipuji Jobs.

Pembangunan lanskap Apple Park menjadi proyek yang sangat rumit secara teknis. Tim Olin menanam lebih dari 8.000 pohon baru, termasuk pohon-pohon dewasa yang harus dipersiapkan jauh-jauh hari di pembibitan khusus. Selain tanaman asli California, tim juga memilih beberapa spesies nonlokal yang dinilai lebih tahan terhadap perubahan iklim ekstrem di masa depan. Sebuah pipa sepanjang 2,5 mil dibangun untuk mengalirkan air daur ulang dari fasilitas pengolahan Santa Clara Valley guna kebutuhan irigasi.

Sesuai visi Steve Jobs, berbagai pohon buah juga ditanam di seluruh kawasan, termasuk apel, aprikot, pir, plum, dan ceri. Hasil panen buah nantinya digunakan untuk kebutuhan kafetaria Apple. Lanskap ini juga dipenuhi padang rumput liar, jalur jogging, trek sepeda, area duduk, hingga dua kafe terbuka di halaman tengah.

Salah satu elemen unik Apple Park adalah kolam “ripple pool” yang dirancang Olin. Awalnya, Foster + Partners mengusulkan kolam bundar biasa berdiameter sekitar 49 meter. Namun Olin mengubahnya menjadi kolam dengan riak air konsentris yang bergerak perlahan. Bahkan, demi menyempurnakan efek visualnya, Apple membuat mock-up ukuran penuh untuk menguji jenis batu dan pola gelombang air yang paling sesuai.

Berbeda dari taman kantor perusahaan era 1960-an yang hanya menjadi dekorasi visual, lanskap Apple Park memang dirancang untuk digunakan langsung oleh manusia. Karyawan bisa berjalan kaki di jalur sepanjang dua mil, berlari di tengah padang rumput, bersepeda di antara pepohonan, atau duduk santai di area terbuka. Steve Jobs ingin pengalaman utama di Apple Park bukanlah melihat bangunan, melainkan merasakan lanskap di sekitarnya.

Meski banyak kritik menyebut Apple Park seperti “pesawat luar angkasa” raksasa yang terisolasi dari lingkungan sekitar, Laurie Olin memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, dari permukaan tanah bangunan itu justru terasa menyatu dengan pepohonan dan lanskap alami. Pengunjung tidak akan melihat keseluruhan bentuk lingkarannya sekaligus, melainkan hanya potongan-potongan fasad kaca yang muncul di sela hutan kecil dan padang rumput.

Bagi Olin, Apple Park menjadi salah satu karya terpenting sepanjang kariernya, sejajar dengan proyek besar lain yang pernah ia kerjakan seperti renovasi Bryant Park di New York dan taman Washington Monument. Proyek ini juga menjadi refleksi terakhir visi Steve Jobs tentang hubungan teknologi dan alam. Sebuah bangunan futuristik yang justru dibangun di atas nostalgia terhadap kebun buah dan lanskap California masa lalu.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....