Dampak Psikologis Kemarahan Orang Tua Terhadap Anak
- 04 Jun 2026 11:38 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Kemarahan yang diluapkan orang tua kepada anak memiliki dampak psikologis dan biologis yang signifikan terhadap perkembangan otak anak. Perilaku emosional tersebut bukan sekadar respons sesaat, melainkan dapat meninggalkan jejak yang mendalam pada kesehatan mental serta perilaku anak di masa depan jika terjadi secara berulang.
Berdasarkan informasi yang dikutip dari unggahan akun Instagram edukasi parenting @papamenyapa pada 3 Juni 2026, terdapat penjelasan mendalam mengenai mekanisme biologis yang terjadi pada otak anak saat menghadapi bentakan atau kemarahan orang tua. Pemahaman ini penting bagi setiap orang tua untuk menyadari bahwa apa yang dianggap sebagai disiplin mungkin memiliki konsekuensi negatif bagi perkembangan anak.
Salah satu dampak utama yang terjadi adalah pengaktifan mode bahaya pada otak anak. Amigdala anak akan langsung merespons situasi tersebut dengan memicu reaksi fight or flight, meskipun ancaman yang diterima hanyalah berupa bentakan. Fenomena ini bukanlah reaksi yang dilebih-lebihkan, melainkan respons biologis alami yang terjadi di dalam otak anak.
Selain itu, kemarahan orang tua yang berlarut-larut dapat menyebabkan hormon stres kortisol melonjak tinggi. Peningkatan kortisol dalam jangka panjang terbukti dapat mengganggu perkembangan otak secara keseluruhan, menurunkan kemampuan belajar anak, hingga melemahkan sistem imun tubuh mereka. Hal ini menunjukkan bahwa suasana rumah yang penuh ketegangan berdampak langsung pada fisik anak.
Dampak jangka panjang lainnya mencakup terkikisnya rasa percaya diri. Anak yang sering menjadi sasaran kemarahan cenderung menginternalisasi bahwa dirinya adalah sumber masalah, dan keyakinan keliru ini sering kali terbawa hingga ia beranjak dewasa. Selain itu, memori emosi anak cenderung jauh lebih kuat dibandingkan memori fakta, sehingga mereka mungkin melupakan isi nasihat, namun akan selalu mengingat perasaan saat dimarahi.
Sebagai penutup, diingatkan bahwa kemarahan bukanlah sebuah dosa dalam pola asuh, melainkan respons manusiawi. Namun, yang jauh lebih krusial adalah bagaimana orang tua merespons situasi setelah kemarahan itu terjadi. Kemampuan untuk meminta maaf dan memperbaiki keadaan jauh lebih membentuk karakter anak daripada sekadar berpura-pura bahwa tidak terjadi apa-apa setelah ledakan emosi tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....