Tiga Aliran dari Tebing, Sumber Telu dan Cerita yang Hidup di Pronojiwo
- 26 Agt 2026 19:58 WIB
- Jember
RRI.CO>ID, Lumajang - Suara gemericik air mulai terdengar ketika langkah menyusuri kebun salak semakin mendekati ujung jalan setapak. Tidak jauh lagi, tiga aliran air jatuh dari tebing setinggi sekitar lima meter, membentuk suasana sejuk di tengah hijaunya alam Pronojiwo.
Tempat itu bernama Air Terjun Sumber Telu. Namun, Sumber Telu bukan hanya tentang air terjun.
Di Dusun Mulyoarjo, Desa/Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, kawasan ini juga menyimpan cerita yang telah lama hidup di tengah masyarakat. Sebagian warga datang bukan sekadar untuk menikmati suasana alam, tetapi juga memanfaatkan aliran air di kawasan sumber sebagai bagian dari terapi tradisional yang dipercaya masyarakat.
Cerita tersebut menjadi salah satu warna yang membuat Sumber Telu memiliki karakter tersendiri.
Saat mengunjungi lokasi, Selasa (25/8/2026), Bupati Lumajang Indah Amperawati mengatakan bahwa masyarakat telah lama mengenal Sumber Telu sebagai tempat yang dimanfaatkan untuk terapi.
“Sumber Telu ini diyakini masyarakat sebagai air terapi. Jadi banyak sekali orang yang melakukan terapi untuk kesembuhan, terutama ketahanan tubuh dan saraf. Banyak sekali orang berobat di Sumber Telu,” ujar Bunda Indah.
Kepercayaan tersebut menjadi salah satu alasan sebagian masyarakat datang ke kawasan Sumber Telu. Ada pengunjung yang memanfaatkan aliran air dengan berendam atau melakukan aktivitas yang mereka yakini sebagai bagian dari terapi tradisional.
Namun, cerita mengenai terapi tersebut perlu ditempatkan dalam konteks tradisi dan keyakinan masyarakat.
Pengalaman atau manfaat kesehatan yang dirasakan seseorang tidak dapat dijadikan pengganti diagnosis maupun pengobatan medis. Bagi masyarakat yang memiliki keluhan kesehatan, pemeriksaan dan penanganan dari tenaga kesehatan tetap menjadi rujukan utama.
Dengan begitu, tradisi yang hidup di tengah masyarakat tetap dapat diceritakan tanpa mengubahnya menjadi klaim medis.
Air Terjun yang Menjadi Bagian dari Cerita Warga
Setelah aktivitas terapi, sebagian pengunjung dapat menikmati suasana alam yang menjadi daya tarik lain Sumber Telu.
Tiga sumber mata air yang berada berdekatan mengalir dari kawasan tebing. Air kemudian jatuh di antara bebatuan dan vegetasi hijau dengan ketinggian sekitar lima meter.
“Indah sekali air terjunnya dan sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat,” kata Bunda Indah.
Ketinggian tersebut mungkin tidak sebesar sejumlah air terjun lain di Lumajang. Namun, Sumber Telu memiliki karakter yang berbeda.
Daya tariknya justru muncul dari kedekatan pengunjung dengan aliran air, suasana yang sejuk, serta perjalanan menuju lokasi yang relatif singkat.
Dari area parkir, wisatawan berjalan sekitar 300 meter atau kurang lebih 10–15 menit, tergantung kecepatan berjalan dan kondisi jalur.
Jalan setapak itu melewati kebun salak milik warga.
Maka sebelum sampai di air terjun, wisatawan terlebih dahulu melewati lanskap kehidupan masyarakat.
Pohon-pohon salak tumbuh di sepanjang jalur. Suasana perkebunan menjadi bagian dari perjalanan sekaligus memperlihatkan bahwa destinasi wisata di desa tidak pernah benar-benar berdiri sendiri.
Ada alam.
Ada lahan yang dikelola.
Ada masyarakat yang hidup dari potensi wilayahnya.
Dan ada wisata yang perlahan tumbuh di antaranya.
Ketika Wisata Bertemu Potensi Lokal
Salak menjadi salah satu bagian penting dari cerita Pronojiwo.
Desa Pronojiwo memiliki produk UMKM berbahan salak, antara lain keripik salak dan dodol salak. Desa tersebut juga memiliki sejumlah daya tarik wisata alam yang menjadi bagian dari pengembangan Desa Wisata Pronojiwo.
Dengan begitu, perjalanan menuju Sumber Telu sebenarnya sudah memperkenalkan wisatawan pada potensi lokal sebelum mereka tiba di lokasi air terjun.
Wisatawan datang untuk menikmati air.
Namun sepanjang perjalanan, mereka juga melihat kebun yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Di sinilah wisata berbasis potensi lokal menemukan ceritanya.
Sebuah destinasi tidak hanya berbicara tentang tempat yang dikunjungi, tetapi juga tentang manusia, alam, dan kebiasaan yang tumbuh di sekitarnya.
Tradisi yang Perlu Dijaga Bersama
Cerita tentang terapi tradisional membuat Sumber Telu memiliki dimensi lain.
Ia bukan hanya tempat rekreasi.
Bagi sebagian masyarakat, kawasan ini memiliki nilai yang lebih personal karena berkaitan dengan kebiasaan dan kepercayaan yang telah berkembang dari waktu ke waktu.
Tradisi seperti itu merupakan bagian dari kearifan lokal yang perlu dipahami dalam konteks sosial dan budaya masyarakat.
Namun, semakin banyak orang datang, semakin penting pula menjaga lingkungan sumber air.
Kebersihan kawasan, kelestarian vegetasi, dan kualitas sumber air menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan destinasi.
Pengunjung dapat mengambil bagian melalui hal sederhana: menjaga kebersihan, tidak merusak lingkungan, mengikuti aturan yang berlaku, dan memperhatikan keselamatan selama berada di kawasan wisata.
Sementara bagi masyarakat, menjaga sumber air berarti menjaga salah satu ruang yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Bagian dari Wajah Wisata Pronojiwo
Sumber Telu merupakan salah satu daya tarik wisata alam yang melengkapi wajah Pronojiwo.
Kawasan ini juga dikenal dengan sejumlah destinasi lain seperti Air Terjun Kapas Biru dan Kabut Pelangi. Ketiganya sebagai bagian dari daya tarik Desa Wisata Pronojiwo, dengan pengelolaan yang melibatkan kelompok masyarakat setempat.
Dokumen perencanaan daerah juga mencantumkan Air Terjun Sumber Telu sebagai salah satu daya tarik wisata alam di Kecamatan Pronojiwo.
Karakter Sumber Telu berbeda dari destinasi dengan medan yang lebih menantang.
Di sini, pengunjung dapat menikmati perjalanan yang relatif singkat. Sekitar 300 meter dari area parkir, jalur setapak membawa wisatawan melewati kebun salak hingga tiba di kawasan sumber.
Meski relatif mudah, kondisi alam tetap perlu diperhatikan. Jalur dapat berubah mengikuti cuaca dan aktivitas di sekitar sumber air juga membutuhkan kehati-hatian.
Tiga Aliran, Banyak Cerita
Pada akhirnya, Sumber Telu tidak hanya menawarkan satu cerita.
Ada tiga aliran air yang jatuh dari tebing.
Ada kebun salak yang menjadi bagian dari perjalanan.
Ada suasana alam yang membuat pengunjung dapat berhenti sejenak dari rutinitas.
Dan ada cerita tentang tradisi terapi yang telah lama dipercaya sebagian masyarakat.
Semua itu bertemu di satu tempat.
Bagi wisatawan, Sumber Telu bisa menjadi pilihan untuk menikmati sisi lain Pronojiwo tanpa harus menempuh perjalanan yang panjang.
Bagi masyarakat, kawasan ini menyimpan hubungan yang lebih dekat dengan kehidupan dan kebiasaan mereka.
Sedangkan bagi pengembangan pariwisata Lumajang, Sumber Telu menunjukkan bahwa sebuah destinasi tidak selalu harus mengandalkan kemegahan untuk memiliki cerita.
Kadang, kekuatannya justru terletak pada hal-hal yang tumbuh secara alami: sumber air, lingkungan yang masih hijau, kebun warga, dan tradisi yang diwariskan dari waktu ke waktu.
Tiga aliran dari tebing itu mungkin tidak besar.
Tetapi dari sanalah Sumber Telu membawa banyak cerita.
Tentang alam yang masih terasa dekat.
Tentang kehidupan masyarakat yang berjalan berdampingan dengan wisata.
Tentang tradisi yang dipercaya sebagian warga.
Dan tentang pentingnya menjaga sebuah tempat agar tetap memiliki makna bagi generasi berikutnya.
Karena ketika alam, masyarakat, dan kearifan lokal bertemu, sebuah destinasi tidak hanya menjadi tempat untuk dikunjungi. Ia menjadi bagian dari cerita sebuah daerah. (MC Diskominfo Kab. Lumajang/Ard/An-m)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....