Kampung Kerupuk Jogoyudan dan Ekonomi Berbasis Warisan Budaya
- 13 Mei 2026 15:25 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Lumajang - Di sebuah gang sempit yang hanya cukup dilalui dua orang berpapasan, suara aktivitas warga terdengar sejak pagi. Dari halaman rumah yang sederhana, tampak kerupuk-kerupuk dijemur berbaris di atas tampah dan anyaman bambu. Sementara di sudut lain, asap tipis dari proses pemanasan pasir mulai mengepul pelan, membawa aroma khas yang hanya dimengerti oleh mereka yang tumbuh bersama tradisi itu.
Di sinilah denyut ekonomi itu terus hidup di Gang Mahardika RW 007 Suko, Kelurahan Jogoyudan, Kabupaten Lumajang, yang kini resmi ditetapkan sebagai Kampung Kerupuk, Selasa (12/5/2026).
Peresmian dilakukan Bupati Lumajang, Indah Amperawati, bersama Wakil Bupati Yudha Adji Kusuma dalam rangka program Setormadu (Sehari Ngantor di Kecamatan Terpadu), sebagai bentuk penguatan ekonomi berbasis kearifan lokal.
Namun bagi warga, penetapan itu bukan sekadar simbol. Ia adalah pengakuan atas perjalanan panjang yang telah hidup hampir satu abad.
Di salah satu sudut gang, seorang perempuan paruh baya tampak membolak-balik kerupuk yang baru setengah kering. Tangannya cekatan, meski usianya tak lagi muda. Ia adalah Sulastri (58), salah satu pelaku usaha kerupuk yang sudah menjalani pekerjaan ini sejak remaja.
“Dari dulu ya begini, Bu. Diajari orang tua. Kalau tidak dijemur seperti ini, nanti tidak renyah,” ujarnya sambil tersenyum kecil.
Bagi Sulastri, kerupuk bukan sekadar makanan ringan. Ia adalah sumber kehidupan, pengikat keluarga, sekaligus warisan yang ia jaga tanpa pernah benar-benar berhenti.
Di rumahnya, hampir setiap sudut memiliki fungsi produksi: adonan, cetakan, hingga area penjemuran yang menyatu dengan halaman depan. Ritme hidupnya mengikuti ritme kerupuk yang ia produksi setiap hari.
| Baca juga: 52 Gedung Kopdes Rampung di Lumajang |
Keunikan Kampung Kerupuk Jogoyudan terletak pada proses produksinya yang masih mempertahankan cara tradisional: kerupuk pasir, yaitu teknik pematangan menggunakan pasir panas sebagai pengganti minyak goreng.
Di sebuah wajan besar, pasir dipanaskan hingga mencapai suhu tertentu. Adonan kerupuk kemudian diaduk cepat, menari di antara butiran pasir panas hingga mengembang sempurna. Setelah itu, kerupuk diangkat, dibersihkan, lalu dijemur di bawah matahari Lumajang.
Proses itu tidak hanya menciptakan rasa khas, tetapi juga menjadi penanda pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi, sebuah teknik yang tidak banyak ditemui di daerah lain.
Suara khas “kres-kres” saat kerupuk diangkat dari pasir panas menjadi bagian dari lanskap suara kampung ini, seolah menandai bahwa kehidupan ekonomi warga terus bergerak tanpa jeda.
Bupati Lumajang, Indah Amperawati, menegaskan bahwa Kampung Kerupuk Jogoyudan merupakan bukti nyata bahwa ekonomi rakyat memiliki akar budaya yang kuat.
“Ini bukan hanya usaha rumah tangga, tetapi warisan budaya yang terus dijaga masyarakat. Ketika tradisi seperti ini bertahan, berarti ada nilai ekonomi dan nilai kebersamaan yang ikut dijaga,” ujarnya.
Menurutnya, kekuatan utama kampung ini bukan hanya pada produknya, tetapi pada daya tahan sosial masyarakat yang mampu menjaga tradisi di tengah perubahan zaman.
Di sisi lain gang, Wakil Bupati Lumajang, Yudha Adji Kusuma, melihat bahwa keberhasilan Kampung Kerupuk tidak lepas dari solidaritas warga yang masih sangat kuat.
Ia menyebut, tanpa gotong royong, usaha kecil seperti ini akan sulit bertahan dalam jangka panjang.
“Yang paling penting dari Kampung Kerupuk ini adalah kekompakan warganya. Karena usaha yang dijaga bersama akan lebih kuat bertahan dan berkembang,” ujarnya.
Kampung Kerupuk Jogoyudan tidak hanya menjadi pusat produksi, tetapi juga ruang sosial tempat warga saling bergantung dan saling membantu.
Dalam proses produksi, tidak ada batas tegas antara satu rumah dengan rumah lain. Ada yang menyiapkan adonan, ada yang menggoreng dengan pasir, ada pula yang membantu menjemur. Semua bergerak dalam satu ritme yang sama.
Bagi sebagian warga lanjut usia, kegiatan ini juga menjadi cara untuk tetap produktif tanpa harus meninggalkan lingkungan rumah.
Sulastri mengaku, pekerjaan ini tidak hanya soal penghasilan, tetapi juga kebersamaan.
“Kalau kerja sendiri berat, tapi kalau bareng-bareng, cepat selesai. Lagi pula ini sudah dari dulu, jadi seperti hidup kami saja,” katanya pelan.
Di balik kalimat sederhana itu, tersimpan filosofi ekonomi yang tumbuh dari pengalaman panjang masyarakat: bahwa keberlanjutan tidak selalu lahir dari modernisasi, tetapi dari kebersamaan yang terus dijaga.
Pemerintah Kabupaten Lumajang melihat potensi ini sebagai kekuatan ekonomi berbasis kearifan lokal yang perlu diperkuat melalui pendekatan kampung tematik.
Model ini dinilai lebih berkelanjutan karena tumbuh dari keterampilan warga sendiri, bukan dari ketergantungan pada modal besar.
Dengan penguatan branding dan dukungan pengembangan, Kampung Kerupuk Jogoyudan diharapkan mampu menjadi salah satu penggerak ekonomi lokal yang berkelanjutan.
Di gang kecil itu, suara aktivitas produksi terus berlanjut. Kerupuk yang diangkat dari pasir panas, dijemur di bawah sinar matahari, lalu dikemas untuk dikirim ke berbagai daerah.
Tidak ada mesin besar, tidak ada pabrik modern. Hanya tangan-tangan warga yang bekerja dalam ritme yang sama sejak puluhan tahun lalu.
Peresmian Kampung Kerupuk Jogoyudan menjadi penanda bahwa warisan sederhana dapat memiliki makna besar bagi sebuah daerah.
Ia bukan hanya soal makanan ringan yang renyah, tetapi tentang ketahanan ekonomi, identitas budaya, dan cara masyarakat bertahan di tengah perubahan zaman.
Dan ketika matahari mulai condong ke barat, tampak Sulastri kembali merapikan tampah-tampah kerupuk di depannya. Di gang itu, hari belum benar-benar selesai.
Karena bagi warga Jogoyudan, selama kerupuk masih dibuat dengan tangan mereka sendiri, maka warisan seabad itu tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu, ia tetap hidup, setiap hari, di dapur-dapur kecil yang tidak pernah berhenti bekerja. (MC Kab. Lumajang/Anby/An-m)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....