Kopi Tak Sekadar Minuman, Komunitas Jember Bangun Ruang Kreativitas dan Bisnis

  • 16 Agt 2026 19:40 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Perkembangan industri kopi di Jember tidak hanya terlihat dari semakin banyaknya kedai kopi, tetapi juga dari tumbuhnya komunitas, kompetisi, hingga pelaku usaha yang mengembangkan kopi lokal. Dunia perkopian menjadi ruang bagi anak muda untuk belajar, berkompetisi, membangun jejaring, sekaligus mengembangkan usaha.

Barista muda sekaligus owner Kopi Tinung, Amirah Khairun Nisa menceritakan ketertarikannya terhadap dunia kopi bermula dari latar belakang sang ayah yang berkecimpung di bidang pertanian. Dari sana, ia mulai mengenal perkebunan kopi dan tertarik mempelajari potensi kopi yang ada di Jember.

"Saya mulai tertarik di dunia perkopian ini dari SMA," ujar Amirah dalam program OBRAS Pro 1 RRI Jember, Selasa (21/04/2026).

Minatnya kemudian berkembang ketika ia mendapat kesempatan mengikuti kompetisi kopi. Pada 2023, Amirah mengikuti Krida Fest di Alun-alun Jember dan berhasil meraih juara tiga. Pengalaman tersebut menjadi bekal untuk mengikuti kompetisi berikutnya, yakni Holistic Coffee Expo (HCE) yang diselenggarakan Bank Indonesia.

Dalam kompetisi tersebut, Amirah mengikuti kategori manual brew, khususnya metode V60. Ia mengaku sempat ragu karena merasa belum memiliki pengetahuan yang cukup mendalam mengenai kopi. Namun, dukungan keluarga dan teman-teman komunitas membuatnya berani mencoba hingga akhirnya meraih juara pertama.

Pengalaman tersebut kemudian mendorong Amirah mengembangkan produk kopi bernama Kopi Tinung. Saat ini, produk tersebut tersedia dalam bentuk minuman kemasan botol dan kopi bubuk, sementara rencana pengembangan kedai kopi masih dalam proses.

Menariknya, perjalanan Amirah sebagai barista tidak sepenuhnya berangkat dari seorang penikmat kopi. Ia mengaku masih terus belajar mengenali karakter rasa kopi, termasuk memahami standar rasa yang dinilai dalam kompetisi.

"Saya sendiri juga dengan nota bene enggak suka kopi. Jadi saya juga masih ingin belajar terkait kopi yang menurut teman-teman enak ini gimana," katanya.

Menurut Amirah, pengalaman tersebut justru menjadi tantangan tersendiri. Ia harus memahami mengenai kopi yang awalnya identik dengan rasa pahit ternyata dapat menghasilkan karakter rasa manis dan aroma yang beragam melalui proses seduh tertentu. Ketika ditanya mengenai arah yang ingin ditekuni ke depan, Amirah menegaskan dirinya ingin membawa pengalaman tersebut ke ranah bisnis.

Sementara itu, perjalanan Edhisty Ageng di dunia kopi telah dimulai sejak 2013 ketika dirinya masih duduk di bangku kuliah. Ketertarikannya berawal dari ajakan kakak iparnya mengikuti sekolah kopi di Surabaya.

Pengalaman tersebut membuat Edhisty tertarik dan mencoba membuka usaha kopi pertamanya. Usaha tersebut sempat berhenti karena kesibukan kuliah, sebelum kembali aktif pada 2017.

Seiring perjalanan, Edhisty tidak hanya mengikuti berbagai kompetisi seperti manual brew dan cup taster, tetapi juga mengembangkan usaha hingga masuk ke sektor roastery melalui Haryanti Indonesia.

Edhisty menjelaskan Haryanti Indonesia berperan sebagai pemasok kopi dan berbagai kebutuhan bagi kedai kopi. Bahan baku yang digunakan berasal dari sejumlah wilayah di Jember, termasuk kopi Arabika dari Sumber Candik serta Robusta dari Sidomulyo, Panti, dan Sumber Candik.

"Potensial market di Jember itu tetap Robusta sih kebanyakan," ungkap Edhisty.

Menurutnya, kopi Robusta Jember memiliki pasar yang cukup baik. Produk yang dipasok Haryanti Indonesia bahkan telah menjangkau sejumlah pelanggan di luar daerah, termasuk Jakarta.

Selain menyediakan kopi, Haryanti Indonesia juga melayani kebutuhan berdasarkan permintaan kedai kopi. Edhisty mengatakan karakter kopi dapat disesuaikan melalui profile roasting maupun komposisi blend, misalnya perpaduan 70 persen Arabika dan 30 persen Robusta.

Di sisi lain, Aldika Rahafiantara mulai serius mempelajari kopi sekitar 2017 setelah menyelesaikan pendidikan di Jepang. Ia kemudian belajar kopi di Tanggul sebelum kembali aktif dan semakin dekat dengan komunitas kopi Jember.

Keterlibatannya dalam kompetisi dimulai pada 2021 ketika mendapat kesempatan mengikuti lomba cup taster di Bondowoso. Dari pengalaman tersebut, Aldika semakin tertarik mendalami dunia kopi.

Menurut Aldika, dunia kopi tidak hanya menarik karena beragam jenis beans dan teknik penyeduhan, tetapi juga karena membuka ruang pertemanan, bisnis, dan kegiatan komunitas.

Sejak saat itu, ia bersama sejumlah pegiat kopi Jember aktif mengadakan berbagai kegiatan, mulai dari kompetisi, pelatihan, hingga event kopi. HCE dan Krida Fest menjadi beberapa kegiatan yang pernah mereka garap.

Kegiatan tersebut tidak hanya ditujukan sebagai ajang kompetisi, tetapi juga menjadi ruang bagi barista dan pegiat kopi untuk berlatih serta memperluas jejaring dengan komunitas dari daerah lain. Aldika mengatakan berbagai kegiatan tersebut juga mempertemukan pegiat kopi dari Banyuwangi, Bali, Surabaya, Probolinggo, Malang, hingga Blitar.

Menurutnya, keberadaan kompetisi dan kegiatan komunitas penting untuk menjaga kemampuan pegiat kopi Jember agar terus berkembang. Kompetisi juga dapat menjadi sarana belajar bagi barista yang ingin melanjutkan kiprah ke tingkat provinsi maupun nasional.

Sementara itu, Edhisty melihat kedai kopi tidak hanya sebagai tempat berjualan. Kedai yang dikelolanya juga menjadi ruang belajar dan berbagi pengalaman bagi sesama pegiat kopi.

Ia mengatakan sejumlah barista dan calon peserta kompetisi kerap datang untuk berlatih, berdiskusi mengenai teknik penyeduhan, hingga mempersiapkan diri menghadapi perlombaan.

"Kalau di tempat saya sendiri enggak cuma hanya kita jual untuk tempatnya, tapi kita untuk sharing session juga," jelas Edhisty.

Menurutnya, pola berbagi pengetahuan tersebut menjadi bagian penting dari perkembangan komunitas kopi di Jember. Para pegiat tidak hanya bersaing dalam kompetisi, tetapi juga saling membantu meningkatkan kemampuan.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa ekosistem kopi Jember mulai bergerak lebih luas, dari sektor produksi dan perdagangan biji kopi, kedai, barista, hingga penyelenggaraan kompetisi dan pelatihan.

Bagi para pegiat kopi, perjalanan tersebut sekaligus menjadi peluang bagi anak muda untuk mengembangkan kreativitas dan menjadikan kopi bukan sekadar minuman, tetapi juga bagian dari aktivitas ekonomi kreatif dan ruang kolaborasi masyarakat Jember.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....