Ritual Kebo-keboan Alasmalang Banyuwangi Sedot Ribuan Pengunjung
- 28 Jun 2026 12:35 WIB
- Jember
RRI.CO.ID Banyuwangi – Ritual adat Kebo-keboan Alasmalang yang digelar masyarakat Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi, Minggu 28 Juni 2026, berlangsung meriah. Ribuan warga dan wisatawan memadati lokasi untuk menyaksikan tradisi turun-temurun yang menjadi ungkapan rasa syukur sekaligus doa memohon kesuburan tanah dan hasil panen yang melimpah.
Rangkaian ritual diawali dengan kenduri desa melalui makan bersama menggunakan hidangan tumpeng dan lauk khas Banyuwangi, Pecel Pithik. Setelah itu, prosesi dilanjutkan dengan ider bumi, yakni arak-arakan puluhan "kerbau" mengelilingi desa menuju empat penjuru mata angin.
"Kerbau" yang dimaksud bukanlah hewan ternak, melainkan warga yang berdandan menyerupai kerbau. Tubuh mereka dilumuri jelaga hingga berwarna hitam pekat, mengenakan aksesori tanduk di kepala, serta gelang kerincing di tangan dan kaki.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, tradisi Kebo-keboan merupakan bagian dari budaya masyarakat agraris yang masih terjaga hingga kini. Menurutnya, kelestarian tradisi tersebut mencerminkan komitmen masyarakat dalam merawat kearifan lokal.
"Tradisi ini telah berlangsung ratusan tahun. Warga melestarikannya secara turun-temurun. Saya menyampaikan apresiasi kepada sesepuh adat, budayawan, pemuda Alasmalang, dan seluruh pihak yang menjaga nyala tradisi tetap hidup," tutur Ipuk.
Ipuk menambahkan, Kebo-keboan bukan sekadar tradisi, melainkan budaya yang membentuk karakter masyarakat. Nilai kerja keras, gotong royong, dan disiplin yang terkandung di dalamnya sejalan dengan semangat "Tandang Bareng" yang menjadi filosofi pembangunan Banyuwangi.
Prosesi Kebo-keboan berlangsung atraktif. Para peserta yang berperan sebagai "kerbau" diarak mengelilingi desa sambil menirukan perilaku kerbau yang membajak sawah, berkubang, bergumul di lumpur, hingga berguling di sepanjang rute arak-arakan. Perut mereka juga diikat dengan tali layaknya kerbau yang sedang bekerja di sawah.
Keunikan tradisi ini turut menarik perhatian wisatawan mancanegara. Salah satunya Tara, wisatawan asal Amerika Serikat, yang mengaku baru pertama kali menyaksikan ritual tersebut setelah sebelumnya berkunjung ke Gunung Ijen.
"Ini sangat unik. Saya belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya. Menakjubkan," ujar Tara.
Ramai pengunjung juga membawa berkah bagi pelaku usaha kecil di sekitar lokasi. Siti, pemilik warung di kawasan acara, mengaku dagangannya laris selama pelaksanaan ritual berlangsung.
"Mulai minuman sampai camilan semuanya laris. Alhamdulillah," ucap Siti.
Tradisi Kebo-keboan diperkirakan telah berlangsung sejak abad ke-18 Masehi. Tradisi ini berawal dari kisah Buyut Karti yang mendapat wangsit untuk menggelar upacara bersih desa dengan cara menjelma menjadi kerbau sebagai simbol permohonan keselamatan dan kesuburan. Selain di Desa Alasmalang, tradisi serupa juga masih dilestarikan masyarakat Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....