Warga Penataban Gelar Oncor-oncoran Sambut 1 Muharam

  • 16 Jun 2026 08:40 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID Banyuwangi - Ratusan warga Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri, Banyuwangi, menggelar tradisi oncor-oncoran untuk menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah, Senin 15 Juni 2026. Tradisi yang diwariskan turun-temurun tersebut menjadi ikhtiar masyarakat memohon keselamatan, keberkahan, dan perlindungan dari berbagai musibah.

Ritual diawali dengan pawai keliling kampung sambil membawa obor atau oncor. Sepanjang perjalanan, warga melantunkan doa-doa dan kalimat thayyibah. Di sejumlah titik, rombongan juga berhenti untuk mengumandangkan adzan sebagai bagian dari rangkaian ritual.

Tokoh masyarakat Penataban, Akhmad Sholihin, mengatakan tradisi oncor-oncoran merupakan warisan para ulama terdahulu yang lahir dari ikhtiar masyarakat menghadapi berbagai musibah dan wabah penyakit pada masa lalu.

"Dulu banyak kejadian dan musibah. Para ulama kemudian melakukan ikhtiar dan istighfar bersama, memperbanyak kalimat-kalimat thayyibah agar Allah memberikan ampunan dan keselamatan, khususnya bagi warga Penataban," kata Sholihin, Senin 15 Juni 2026.

Menurut Sholihin, tradisi tersebut terus dilestarikan oleh tokoh agama, tokoh masyarakat, dan generasi muda sebagai bentuk penghormatan terhadap para pendahulu yang telah mewariskan nilai-nilai spiritual dan kebersamaan.

Selain oncor-oncoran, rangkaian peringatan Tahun Baru Islam di Penataban diawali dengan Khotmil Quran yang melibatkan masjid, musala, organisasi keagamaan, pemuda, dan masyarakat setempat. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan ziarah ke makam para ulama dan tokoh yang berjasa merintis tradisi keagamaan di wilayah tersebut.

Sholihin menjelaskan, penggunaan oncor dalam tradisi tersebut memiliki makna simbolis sebagai penerang kehidupan. Pada masa lalu, api digunakan untuk menerangi jalan ketika listrik belum tersedia. Kini, makna tersebut tetap dipertahankan sebagai simbol harapan dan keselamatan.

"Api itu simbol terang, bukan hanya menerangi malam tetapi juga menjadi harapan agar kehidupan semakin terang. Sekarang bentuknya bisa bermacam-macam, yang terpenting maknanya tetap sebagai penerang," ujarnya.

Ia menegaskan, oncor-oncoran bukan sekadar kegiatan budaya, tetapi juga bentuk doa bersama untuk keselamatan masyarakat secara luas.

"Ini bukan hanya untuk warga Penataban, tetapi doa keselamatan untuk semuanya. Harapannya Allah memberikan ampunan dan keselamatan bagi masyarakat serta Indonesia," tutur Sholihin.

Rangkaian tradisi 1 Muharam di Penataban akan berlanjut pada Selasa (16/6/2026) dengan kegiatan bersih desa yang melibatkan seluruh warga. Acara tersebut diisi pembacaan sejarah tradisi, doa bersama, dan berbagai kegiatan yang bertujuan memperkuat kebersamaan masyarakat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....