Banyuwangi Lestarikan Tradisi Jamasan Pusaka saat Suro

  • 17 Jun 2026 09:31 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID Banyuwangi - Tradisi jamasan pusaka atau pembersihan benda-benda warisan leluhur kembali digelar di Serambi Museum Blambangan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Selasa 16 Juni 2026. Ritual yang rutin dilaksanakan di bulan Suro dalam kalender Jawa tersebut tidak hanya bertujuan merawat pusaka secara fisik, tetapi juga menjadi momentum introspeksi diri dalam menyambut tahun baru Jawa.

Prosesi jamasan diikuti para pegiat budaya dan kolektor pusaka yang tergabung dalam Paguyuban Panji Blambangan. Berbagai pusaka seperti keris, pedang luwuk, hingga tombak biring dibersihkan melalui tata cara khusus yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Ketua Paguyuban Panji Blambangan, Ilham Triadi Nagoro, mengatakan tradisi jamasan merupakan bagian dari upaya menjaga warisan budaya sekaligus mengingatkan manusia untuk melakukan perenungan terhadap perjalanan hidup selama setahun terakhir.

“Selain membersihkan secara fisik, prosesi itu juga sebenarnya bertujuan untuk membersihkan diri. Bagaimana manusia itu harus introspeksi setidaknya setahun sekali mengingat apa yang sudah dilakukan sepanjang tahun dan apa yang akan dilakukan pada tahun mendatang,” ujar Ilham, Selasa 16 Juni 2026.

Menurut Ilham, prosesi jamasan tidak dilakukan secara sembarangan. Kegiatan diawali dengan pengambilan pusaka dari tempat penyimpanan, dilanjutkan tirakatan dan doa bersama, sebelum memasuki tahapan inti berupa pembersihan pusaka yang berlangsung selama bulan Suro.

Tradisi tersebut rutin dilaksanakan Paguyuban Panji Blambangan sejak 2006, tidak lama setelah keris Indonesia ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada 25 November 2005. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diajak untuk memahami bahwa pusaka bukan sekadar benda kuno, melainkan bagian dari identitas budaya yang menyimpan nilai sejarah, filosofi, dan kearifan lokal.

Salah satu pusaka yang dijamas tahun ini adalah tombak biring peninggalan Raden Tumenggung Astro Kusumo, Bupati Banyuwangi ke-18 yang memimpin pada tahun 1888. Pembersihan dilakukan untuk menjaga kondisi fisik pusaka agar terhindar dari korosi dan kerusakan.

Selain prosesi jamasan, kegiatan juga diisi dengan pameran pusaka, sarasehan budaya, serta konsultasi perawatan tosan aji bagi masyarakat. Rangkaian acara tersebut menjadi ruang edukasi untuk mengenalkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.

Ilham menegaskan, tradisi jamasan mengandung pesan penting tentang pentingnya merawat warisan leluhur sekaligus menjaga keseimbangan antara aspek lahir dan batin dalam kehidupan.

“Pusaka yang dirawat bukan hanya menjaga bendanya tetap baik, tetapi juga mengingatkan kita untuk selalu merawat diri, menjaga perilaku, dan menghargai warisan para leluhur,” kata Ilham.

Tradisi jamasan pusaka menjadi salah satu ritual budaya yang masih lestari di Banyuwangi. Di tengah perkembangan zaman, kegiatan tersebut terus dipertahankan sebagai upaya menjaga identitas budaya sekaligus meneruskan nilai-nilai adiluhur kepada generasi berikutnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....