Gandrung Seblang Subuh Warnai Sedekah Segoro Ketapang
- 16 Jun 2026 12:40 WIB
- Jember
RRI.CO.ID Banyuwangi - Gandrung Seblang-seblang Subuh menjadi atraksi utama dalam ritual Sedekah Segoro yang digelar Pemerintah Desa Ketapang bersama sejumlah stakeholder pelayaran di kawasan Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Selasa, 16 Juni 2026. Ritual yang berlangsung di tengah Selat Bali tersebut menjadi ikhtiar bersama memohon keselamatan dan keberkahan bagi masyarakat serta pengguna jalur penyeberangan Banyuwangi-Bali.
Rangkaian ritual dimulai menjelang subuh di atas Kapal Dharma Rucitra yang berlayar di perairan Selat Bali. Penari Gandrung membawakan tarian Seblang-seblang Subuh hingga matahari terbit, menciptakan suasana sakral yang berpadu dengan panorama laut dan cahaya pagi.
Kepala Desa Ketapang, Slamet Utomo, mengatakan Sedekah Segoro merupakan pengembangan dari tradisi petik laut yang selama ini hidup di tengah masyarakat pesisir. Tradisi tersebut dikemas dengan pendekatan budaya dan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur sekaligus harapan akan keselamatan.
“Jadi ini semacam petik laut yang kemudian kami kemas dengan Sedekah Segoro. Tujuannya untuk ikhtiar berharap keselamatan dan keberkahan pada tahun baru Islam, terutama di jalur penyeberangan ini,” ujar Slamet,Selasa, 16 Juni 2026.
Menurutnya, Sedekah Segoro telah menjadi agenda tahunan masyarakat Ketapang. Namun tahun ini pelaksanaannya dibuat lebih lengkap dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat, pelaku pelayaran, serta tokoh budaya yang dihadirkan adalah ritual Gandrung Seblang-seblang Subuh.
Selain Gandrung Seblang-seblang Subuh, Sedekah Segoro juga diisi dengan berbagai tradisi budaya seperti mamaca, mocoan Lontar Yusuf, pertunjukan jaranan, hingga tari Gandrung. Kegiatan tersebut melibatkan masyarakat lintas agama yang bersama-sama memanjatkan doa dan melakukan tabur bunga di Selat Bali.
Budayawan Banyuwangi, Subari Sufyan, menjelaskan tradisi tersebut memiliki akar sejarah yang panjang. Menurutnya, Selat Bali sejak dahulu bukan hanya menjadi pemisah wilayah, tetapi juga penghubung hubungan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat Banyuwangi dan Bali.
“Dulu ada perjalanan antara Banyuwangi dan Bali. Masyarakat Banyuwangi membawa beras ke Bali, kemudian pulang membawa buah untuk dijual. Dari situ kita menangkap bagaimana selat ini bukan hanya pemisah, tetapi juga penghubung masyarakat,” ujar Subari.
Karena itu, Sedekah Segoro tidak menggunakan prosesi pelarungan bagian tubuh hewan sebagaimana tradisi petik laut di sejumlah daerah lain. Sebaliknya, ritual lebih menitikberatkan pada doa lintas agama sebagai simbol penghormatan terhadap laut dan keselamatan bersama.
Pelaksanaan Gandrung Seblang-seblang Subuh di atas kapal merupakan yang pertama kali dilakukan. Lokasi tersebut dipilih karena ritual ini secara khusus ditujukan untuk mendoakan keselamatan masyarakat yang melintasi jalur penyeberangan Banyuwangi-Bali.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....