Senduro dan Kearifan Lokal, Menjaga Indonesia dari Akar Budaya

  • 22 Mar 2026 08:12 WIB
  •  Jember

RRI.CO.,ID, Lumajnag - Pagi selepas Hari Raya Nyepi di Kecamatan Senduro tidak pernah benar-benar biasa. Di wilayah yang dikenal sebagai salah satu simpul kebudayaan Hindu di Kabupaten Lumajang ini, keheningan sehari penuh seolah menjadi ruang jeda yang mempersiapkan sesuatu yang lebih besar, yakni kembalinya manusia pada relasi yang lebih jernih.

Ngembak Geni bukan sekadar penanda berakhirnya tapa brata penyepian. Di Senduro, ia menjadi ruang sosial yang hidup, tempat warga kembali membuka diri, menyapa, dan memperbarui ikatan yang selama ini dijaga dalam keseharian. Tradisi ini bukan sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari ekosistem budaya yang telah lama mengakar.

Senduro memiliki karakter sosial yang khas. Di kaki Gunung Semeru, masyarakat tumbuh dalam keberagaman yang tidak hanya diterima, tetapi dirawat sebagai kekuatan bersama. Nilai-nilai gotong royong, tepa selira, dan rasa handarbeni (memiliki bersama) bukan sekadar konsep, melainkan praktik hidup yang diwariskan lintas generasi.

Dalam konteks itulah, Darmasanti menemukan maknanya yang paling utuh. Bukan hanya seremoni keagamaan, melainkan ruang budaya untuk merawat harmoni sosial. Warga berkumpul, berjabat tangan, saling memohon maaf, dan memperkuat kembali simpul-simpul persaudaraan yang menjadi fondasi kehidupan di Senduro.

Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Kanwil Kementerian Agama Jawa Timur, Budiono, menilai bahwa kekuatan Darmasanti di Senduro terletak pada keterhubungannya dengan budaya lokal yang inklusif.

“Darmasanti bukan hanya tentang ritual, tetapi tentang bagaimana masyarakat menjaga hubungan baik satu sama lain. Di Senduro, nilai itu terasa sangat kuat karena didukung budaya kebersamaan yang sudah lama hidup,” ujar Budiono dalam keterangannya, Rabu (18/3/2026).

Ia menambahkan, kekuatan budaya lokal di Senduro justru menjadi benteng utama dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman.

“Kerukunan di Senduro itu tidak dibangun secara instan. Ia tumbuh dari kebiasaan hidup bersama, dari saling menghormati dalam keseharian. Tradisi seperti Ngembak Geni ini memperkuat itu semua,” tegasnya.

Di desa-desa sekitar Senduro, momen ini kerap melibatkan lebih dari sekadar umat Hindu. Warga Muslim yang menjadi bagian dari kehidupan sosial sehari-hari turut merasakan atmosfer yang sama. Mereka hadir, bersilaturahmi, dan ikut menjaga ruang harmoni yang telah terbangun secara alami.

Kehidupan lintas iman di Senduro tidak dibangun dalam ruang formal, melainkan melalui interaksi sehari-hari, dari kerja bakti, kegiatan adat, hingga perayaan keagamaan. Tradisi seperti Nyepi, termasuk Ngembak Geni dan Darmasanti, menjadi simpul yang mempertemukan semua itu dalam satu momentum yang sarat makna.

Nilai yang terkandung dalam Darmasanti juga memiliki resonansi kuat dengan tradisi Idulfitri, khususnya halal bihalal. Kesamaan nilai ini memperkuat jembatan budaya di Senduro, di mana perbedaan keyakinan tidak menjadi batas, melainkan ruang saling memahami.

“Baik dalam Darmasanti maupun halal bihalal, esensinya sama: membuka hati, mengakui kekhilafan, dan memperbaiki hubungan. Ini nilai universal yang hidup di Senduro,” lanjut Budiono.

Di tengah dinamika zaman yang terus berubah, Senduro menunjukkan bahwa budaya lokal memiliki daya tahan yang kuat. Ia tidak hanya menjaga identitas, tetapi juga menjadi perekat sosial yang efektif. Tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan instrumen hidup untuk merawat masa depan bersama.

Rangkaian Nyepi, mulai dari Melasti, Tawur Agung Kesanga, hingga pengerupukan memang sarat simbol spiritual. Namun di Senduro, puncak maknanya justru terasa saat Ngembak Geni dan Darmasanti, ketika nilai-nilai itu diterjemahkan dalam tindakan nyata: memaafkan, menyapa, dan mempererat hubungan.

Di ruang-ruang sederhana di halaman rumah, balai desa, hingga jalan kampung warga saling bertemu dengan wajah yang lebih ringan. Tidak ada sekat sosial yang kaku. Semua larut dalam kesadaran bahwa harmoni adalah tanggung jawab bersama.

Bahkan, menurut Budiono, praktik budaya seperti di Senduro memiliki relevansi besar bagi kehidupan kebangsaan.

“Apa yang terjadi di Senduro adalah gambaran kecil Indonesia. Kalau nilai-nilai seperti ini dijaga, maka persatuan tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar hidup di masyarakat,” pungkasnya.

Bagi masyarakat Senduro, Nyepi bukan hanya ritual keagamaan. Ia adalah bagian dari sistem nilai yang membentuk cara hidup. Keheningan mengajarkan pengendalian diri, sementara Ngembak Geni dan Darmasanti mengajarkan pentingnya kembali pada sesama.

Dari Senduro, pesan itu mengalir dengan jernih: bahwa keberagaman bukanlah tantangan, melainkan kekuatan, selama ia dirawat dengan budaya, dijaga dengan kebiasaan, dan dihidupi dengan ketulusan.

Dan di sanalah, di antara hening yang telah dilalui dan hangat yang kini dirasakan, Senduro terus membuktikan bahwa budaya lokal mampu menjadi fondasi kokoh bagi harmoni Indonesia. (MC Kab. Lumajang/Ard/An-m)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....