Gen Z Bisa Berhenti Membandingkan Diri dengan Gunakan Media Sosial secara Sehat
- 22 Sep 2026 10:58 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Media sosial dapat menjadi sarana untuk belajar, mencari inspirasi, dan membangun relasi. Namun, penggunaannya juga perlu disertai kesadaran agar tidak berubah menjadi kebiasaan yang justru menimbulkan tekanan dan mengganggu keseharian.
Khoirotun Nisa, perwakilan dari Ikatan Mahasiswa Alumni Salafiyah Syafi'iyah (IKMASS) Jember, menyampaikan bahwa salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah ketika membuka media sosial justru membuat seseorang lebih sering membandingkan dirinya dengan orang lain daripada mengembangkan kemampuan diri.
“Ketika kita membuka sosial media itu kita malah membandingkan diri daripada mengembangkan,” ujar Nisa dalam program Jaga Malam Pro 2 Jember, Selasa, 4 Agustus 2026.
Ia mengatakan, rasa minder atau merasa tertinggal setelah melihat unggahan orang lain dapat menjadi bahan evaluasi terhadap cara seseorang menggunakan media sosial.
Pandangan tersebut juga berkaitan dengan pola penggunaan media sosial yang tidak hanya ditentukan oleh durasi. Kamelya Dinana yang juga tergabung dalam program siaran yang sama sebagai perwakilan IKMASS Jember, menjelaskan bahwa persoalannya bukan semata-mata berapa lama seseorang menggunakan media sosial, tetapi juga apa yang dilakukan selama berada di dalamnya.
Media sosial dapat memberikan manfaat apabila digunakan untuk belajar, mencari inspirasi, atau membangun relasi. Sebaliknya, penggunaan yang didominasi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dapat menjadi sumber tekanan.
“Jadi juga kita memperhatikan bagaimana kita menggunakan media sosial tersebut,” jelas Kamelya.
Ia juga menyinggung fenomena doomscrolling, yakni kebiasaan terus-menerus menggulir konten tanpa tujuan yang jelas. Jika dilakukan secara berlebihan, seseorang dapat kehilangan waktu untuk melakukan aktivitas lain yang lebih bermanfaat.
Kamelya menyarankan adanya jeda ketika seseorang mulai merasa sulit melepaskan diri dari media sosial.
“Ketika sulit untuk melepas media sosial, misalkan gelisah sehari aja enggak buka media sosial. Kayaknya itu memang perlu kita jeda sejenak untuk mengalihkan fokus kita,” tuturnya.
| Baca juga: Bijak Bermedia Sosial di Era Digital |
Pengalihan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai kegiatan, seperti berolahraga, berbincang bersama keluarga atau teman, maupun melakukan aktivitas lain yang membuat diri lebih tenang dan berkembang.
Selain mengatur pola penggunaan, Nisa menyarankan anak muda lebih selektif terhadap konten yang dikonsumsi. Algoritma media sosial dapat membuat seseorang terus menerima jenis konten tertentu sehingga penting untuk membentuk lingkungan digital yang lebih sesuai dengan kebutuhan.
“Bisa difilter, kayak misalnya konten kreator yang lebih berpengaruh, misalnya tutorial apa gitu,” kata Nisa.
Menurutnya, konten edukatif dan informatif dapat menjadi alternatif agar waktu di media sosial tidak hanya digunakan untuk melihat kehidupan orang lain.
Di sisi lain, Kamelya menekankan pentingnya menerima diri sendiri. Perbedaan perjalanan hidup tidak seharusnya menjadi alasan untuk terus merasa tertinggal.
“Saya sebenarnya ingin mengajak teman-teman tuh untuk lebih menerima diri sendiri. Jadi enggak apa-apa meskipun perjalanan hidup kita berbeda dengan orang lain, tapi yang penting itu kita tetap berproses, bertumbuh dengan kemampuan kita masing-masing,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa seseorang tidak harus selalu berada dalam kondisi produktif atau bersemangat. Ketika merasa lelah, mengambil jeda dan bercerita kepada orang yang dipercaya dapat menjadi pilihan.
“Kalau misalkan lagi capek ya wajar, enggak apa-apa, enggak harus semangat terus,” kata Kamelya.
Menurutnya, kemerdekaan dalam konteks kehidupan pribadi bukan berarti terbebas sepenuhnya dari tekanan. Lebih jauh, seseorang perlu memiliki kemampuan untuk menyikapi tekanan dan penilaian dari lingkungan.
Nisa kemudian menutup pembahasan dengan mengingatkan bahwa setiap orang memiliki tantangan, waktu, dan proses yang berbeda. Karena itu, membandingkan perjalanan hidup dengan orang lain justru dapat membuat seseorang kehilangan fokus terhadap dirinya sendiri.
“Mulai sekarang ayo kita berhenti membandingkan diri kita karena tiap orang itu punya tantangan, waktu, proses itu punya jalannya masing-masing,” ujar Nisa.
Ia menambahkan, fokus utama bukanlah memenangkan persaingan dengan orang lain, melainkan terus berkembang dibandingkan diri sendiri di masa lalu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....