Ruang Lintas Iman UNEJ Perkuat Toleransi Mahasiswa

  • 31 Mei 2026 11:19 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Menanamkan nilai toleransi tidak cukup hanya melalui teori di ruang kelas. Berangkat dari semangat tersebut, Kelas Pancasila Universitas Jember (UNEJ) menghadirkan ruang perjumpaan lintas iman sebagai wadah dialog dan interaksi langsung antar umat beragama untuk memperkuat nilai kebinekaan di kalangan mahasiswa. Program tersebut menjadi pembahasan dalam dialog OBRAS (Obrolan Komunitas) Pro 1 RRI Jember pada Kamis, 28 Mei 2026 yang menghadirkan dosen Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) UNEJ, Katarina Leba, bersama perwakilan mahasiswa Kelas Pancasila, yakni Sella Adelika (kelas 47), Anggun Permata Ria (kelas 82), dan Gregorius Amabilis (kelas 05).

Katarina Leba menjelaskan, ruang perjumpaan lintas iman merupakan bagian dari pembelajaran kontekstual yang dirancang agar mahasiswa tidak hanya memahami nilai-nilai Pancasila secara teoritis, tetapi juga mampu mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, mahasiswa diajak keluar dari zona nyaman untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat yang memiliki latar belakang keyakinan berbeda. Melalui dialog tersebut, mahasiswa dapat belajar memahami keberagaman secara lebih utuh dan membangun sikap saling menghormati.

“Pancasila tidak boleh berhenti sebagai hafalan atau slogan semata. Mahasiswa perlu mengalami langsung bagaimana nilai kemanusiaan dan persatuan diwujudkan dalam kehidupan sosial,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi sarana efektif untuk membangun daya tahan generasi muda terhadap paham intoleransi dan radikalisme yang berpotensi memecah persatuan.

Sementara itu, Sella Adelika mengaku awalnya merasa canggung ketika harus mengunjungi rumah ibadah agama lain dan berdialog dengan para pemeluknya. Namun pengalaman tersebut justru membuka perspektif baru tentang keberagaman yang selama ini hanya dipahami melalui buku dan media.

“Awalnya ada rasa khawatir salah berbicara atau menyinggung pihak lain. Tetapi setelah dialog berlangsung, kami menemukan banyak nilai kemanusiaan yang ternyata sama-sama diajarkan oleh setiap agama,” katanya.

Hal senada disampaikan Anggun Permata Ria. Menurutnya, perjumpaan lintas iman membantu mahasiswa memahami praktik toleransi secara lebih nyata. Ia menilai toleransi bukan berarti mengurangi keyakinan pribadi, melainkan menghormati hak orang lain untuk menjalankan ajaran agamanya.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa juga memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai tradisi dan praktik keagamaan yang berbeda, sehingga mampu mengurangi prasangka yang sering muncul akibat kurangnya komunikasi.

“Perbedaan bukan ancaman. Justru melalui dialog, kami belajar mendengarkan dan memahami tanpa harus menghakimi,” ujarnya.

Sementara itu, Gregorius Amabilis menilai program tersebut memberikan ruang yang setara bagi seluruh mahasiswa tanpa memandang latar belakang agama maupun kelompok mayoritas dan minoritas.

Ia berharap ruang-ruang dialog serupa dapat terus diperluas, baik di lingkungan kampus maupun masyarakat, sehingga menjadi sarana memperkuat keharmonisan sosial di tengah keberagaman yang dimiliki Indonesia.

“Kita membutuhkan lebih banyak ruang yang mempertemukan perbedaan untuk saling memahami, bukan untuk memperdebatkan siapa yang paling benar,” ucap Gregorius.

Di akhir dialog, para narasumber sepakat bahwa ruang perjumpaan lintas iman yang dikembangkan Kelas Pancasila UNEJ dapat menjadi model pembelajaran toleransi yang relevan bagi generasi muda. Program tersebut diharapkan mampu menginspirasi institusi pendidikan lainnya untuk menghadirkan ruang dialog yang inklusif dan memperkuat semangat persatuan dalam keberagaman.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....