Tetangga Dapat Menjadi Cermin Akhlak dalam Kehidupan
- 30 Agt 2026 08:04 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Hubungan baik dengan tetangga menjadi salah satu cerminan akhlak seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam ajaran Islam, kepedulian terhadap tetangga tidak hanya berkaitan dengan hubungan sosial, tetapi juga menjadi bagian dari tanggung jawab manusia dalam menjaga hubungan dengan sesama.
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jember, Dr. K.H. Abdul Haris, M.Ag., menjelaskan pentingnya menjaga hubungan dengan tetangga dengan mengutip hadis Nabi. Hadis tersebut menggambarkan kesaksian masyarakat terhadap seseorang dapat menjadi gambaran mengenai kebaikan maupun keburukan orang tersebut.
Abdul Haris menjelaskan, dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad SAW pernah mendapati jenazah dan para sahabat memberikan kesaksian positif mengenai sosok tersebut. Nabi kemudian menyebut "wajabat". Hal serupa terjadi ketika para sahabat memberikan kesaksian negatif terhadap jenazah lainnya, dan Nabi juga menyebut "wajabat". Menurut Abdul Haris, riwayat tersebut menekankan pentingnya penilaian objektif masyarakat terhadap perilaku seseorang.
"Antum syuhada'ullahi fil ard. Kamu itu semuanya adalah saksi-saksi Allah di dunia ini," ujar Abdul Haris, menjelaskan hadis yang menjadi salah satu dasar pentingnya menjaga hubungan dengan sesama dalam program Mutiara Pagi Pro 1 Jember, Rabu, 8 April 2026.
Ia juga menyampaikan kisah lain mengenai seseorang yang memiliki aktivitas ibadah yang tinggi, seperti berpuasa pada siang hari dan melaksanakan salat malam, tetapi menyakiti tetangganya. Dalam hadis yang disampaikan Abdul Haris, perilaku tersebut menunjukkan bahwa ibadah kepada Allah perlu diiringi dengan perilaku baik kepada sesama.
Sebaliknya, ia menyebut terdapat gambaran seseorang yang ibadah tambahannya biasa saja, tetapi memiliki hubungan yang sangat baik dengan tetangga dan tidak menyakiti mereka. Menurutnya, contoh tersebut menunjukkan bahwa Islam menempatkan hubungan sosial sebagai bagian penting yang tidak boleh diabaikan.
Abdul Haris kemudian mengingatkan tentang konsep orang yang disebut ‘bangkrut’ dalam hadis Nabi. Menurut penjelasannya, orang yang ‘bangkrut’ bukan hanya mereka yang kehilangan harta, melainkan orang yang datang dengan banyak amal kebaikan tetapi juga pernah mencaci, menuduh, menyakiti, atau menzalimi orang lain. Kebaikannya kemudian dapat diberikan kepada orang yang pernah dizalimi hingga akhirnya habis.
"Janganlah kita kemudian menjadi orang yang bangkrut," ujar Abdul Haris
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk berhati-hati dalam bersikap dan berbicara kepada orang lain, terutama tetangga yang hidup berdampingan setiap hari. Menurutnya, seseorang perlu membangun lingkungan pergaulan yang baik karena orang-orang yang berada dalam lingkaran terdekat dapat memengaruhi perilaku dan kehidupan seseorang.
Ia menekankan bahwa hablum minallah dan hablum minannas perlu dijalankan secara seimbang dan istikamah. Masyarakat juga dianjurkan membangun circle pertemanan yang baik dengan berkumpul bersama orang-orang saleh agar tercipta lingkungan yang dapat mendorong seseorang untuk terus melakukan kebaikan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....