Banjir Informasi di Era Digital, Gen Z Diimbau Tak Sekadar Mengejar Tren

  • 19 Agt 2026 08:39 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Perkembangan teknologi digital membuat masyarakat, khususnya Generasi Z (Gen Z), semakin mudah memperoleh informasi. Beragam kabar dari berbagai penjuru dunia dapat muncul dalam hitungan detik melalui media sosial. Namun, derasnya arus informasi juga dapat membuat seseorang kesulitan menentukan informasi mana yang benar-benar penting dan perlu dipahami lebih mendalam. Fenomena tersebut dibahas dalam program Jaga Malam Pro 2 RRI Jember pada Minggu 16 Agustus 2026. Dialog tersebut menghadirkan dua narasumber dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) UKM Pers Kampus (UKMPK) Tegalboto Universitas Jember, yakni Puteri Yang Dinanti, Pemimpin Umum UKMPK Tegalboto 2026, serta Shafa Salsabila Rayyani, staf UKMPK Tegalboto.

Shafa menjelaskan, derasnya informasi yang muncul melalui algoritma media sosial membuat pengguna dapat berpindah dari satu isu ke isu lainnya dengan sangat cepat. Kondisi tersebut berpotensi membuat seseorang hanya memahami informasi secara sekilas tanpa mengetahui konteks secara utuh. "Informasi datang sangat cepat, tapi dampaknya kita jadi kurang mendalami informasi tersebut. Sering kali baru menonton satu isu sosial, lalu langsung teralihkan oleh konten lain sehingga akhirnya dianggap tidak penting," kata Safa dalam dialog Jaga Malam Pro 2 RRI Jember, Minggu (16/8/2026).

Menurutnya, format konten singkat seperti Reels dan TikTok memang memudahkan masyarakat mendapatkan informasi secara cepat. Namun, kecepatan tersebut juga dapat membuat perhatian pengguna mudah teralihkan sehingga informasi yang diterima tidak selalu dipahami secara mendalam. Puteri menambahkan, dorongan untuk selalu mengetahui perkembangan terbaru juga berkaitan dengan fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Keinginan untuk tidak tertinggal tren membuat seseorang terus mengikuti berbagai informasi yang muncul di media sosial.

Selain itu, algoritma media sosial dapat menentukan jenis konten yang lebih sering muncul di hadapan pengguna. Akibatnya, isu yang dianggap penting seperti kebijakan publik dapat dengan mudah tertutup oleh informasi lain yang lebih viral dan menarik perhatian. "Algoritma media sosial dari jam ke jam selalu berubah. Perasaan 'harus tahu' itu wajar, namun kita juga sering dihadapkan pada pengalihan isu, misalnya isu penting terkait kebijakan publik justru tertimbun oleh kabar selebritas yang lebih viral," jelas Puteri.

Fenomena tersebut turut mengubah kebiasaan masyarakat dalam memperoleh berita. Anak muda kini tidak hanya mendapatkan informasi dari media massa, tetapi juga melalui content creator yang dianggap mampu menyampaikan suatu isu dengan gaya lebih personal dan komunikatif. Shafa menilai, kemampuan kreator konten dalam menggunakan pendekatan storytelling menjadi salah satu alasan konten mereka mudah diterima audiens muda. Kondisi ini menjadi tantangan bagi media massa, termasuk pers mahasiswa, untuk terus beradaptasi dengan kebiasaan konsumsi informasi generasi digital.

Menurut Puteri, adaptasi media tidak berarti mengabaikan prinsip jurnalistik. Media dapat memanfaatkan format video singkat dan bahasa yang lebih ringan, tetapi tetap harus memastikan informasi yang disampaikan memiliki konteks dan memenuhi unsur dasar jurnalistik. "Format video singkat 1 menit sebenarnya cukup untuk menyampaikan intisari berita, asalkan mengandung konteks yang utuh serta memenuhi kaidah 5W+1H. Media harus mampu berinovasi merangkum berita tanpa mengurangi esensi informasinya," tegas Puteri.

Di tengah kondisi tersebut, Gen Z dinilai perlu memiliki kemampuan untuk menyaring informasi. Tidak semua informasi yang muncul di linimasa harus diikuti atau diketahui secara bersamaan. Pengguna media sosial dapat menentukan prioritas berdasarkan kebutuhan, bidang yang ditekuni, maupun kepentingan sehari-hari. Selain selektif, masyarakat juga diimbau memperhatikan kredibilitas sumber informasi. Latar belakang dan rekam jejak pihak yang menyampaikan informasi perlu diperiksa, terutama ketika informasi tersebut berkaitan dengan isu penting yang berpotensi memengaruhi keputusan masyarakat.

Kebiasaan melakukan cross-check juga menjadi langkah penting. Informasi yang hanya berasal dari satu unggahan atau video sebaiknya tidak langsung dipercaya maupun disebarluaskan. Masyarakat dapat membandingkannya dengan pemberitaan dari media yang kredibel dan sumber resmi terkait. Diskusi dan bertukar pandangan dengan orang lain juga dapat membantu melihat sebuah isu dari perspektif yang berbeda. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mengandalkan informasi yang muncul berdasarkan algoritma media sosial.

Melalui dialog tersebut, UKMPK Tegalboto Unej mengajak Gen Z untuk tidak terjebak dalam keharusan mengetahui semua hal yang sedang viral. Di tengah banjir informasi, kemampuan memilih, memahami konteks, melakukan verifikasi, dan menentukan informasi yang benar-benar penting justru menjadi bagian dari literasi digital yang perlu terus dibangun.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....