Guru Harus Adaptif dan Inovatif Menghadapi Teknologi AI
- 30 Jul 2026 12:33 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Meski demikian, kehadiran teknologi tersebut dinilai tidak akan menggantikan peran guru sebagai pendidik yang membentuk karakter dan memberikan pendampingan emosional kepada peserta didik. Hal itu mengemuka dalam program Jember Menyapa Pro 1 RRI Jember bertajuk “Transformasi Pendidikan di Era AI: Guru Adaptif, Pembelajaran Inovatif” yang disiarkan pada Selasa 28 Juli 2026.
Ketua PGRI Kabupaten Bondowoso, Suhartono, menegaskan bahwa secanggih apa pun teknologi yang berkembang, peran guru tetap menjadi elemen utama dalam proses pendidikan. Menurutnya, hubungan emosional antara guru dan siswa tidak dapat digantikan oleh mesin.
“Sampai kapanpun seorang guru itu tidak akan mungkin tergeserkan oleh AI, saya pastikan itu,” ujar Suhartono.
Ia menjelaskan, transformasi digital justru mendorong perubahan peran guru dari yang sebelumnya berfokus sebagai penyampai materi menjadi fasilitator yang mendampingi siswa dalam proses belajar. Dengan dukungan AI, guru dapat lebih fokus pada pengembangan kompetensi dan karakter peserta didik.
Menurutnya, teknologi kecerdasan buatan dapat membantu berbagai pekerjaan administratif yang selama ini menyita waktu guru, mulai dari penyusunan perangkat pembelajaran hingga pengolahan data pendidikan.
“AI itu hanyalah sebuah alat, namun masa depan kita ada di tangan kita sendiri yang mengendalikannya,” katanya.
Sementara itu, Kepala SDN Gayam Kidul 2, Panji Amboro, menilai bahwa para pendidik perlu memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Guru, kata dia, tidak boleh menutup diri terhadap perubahan yang terjadi di era digital.
“Kita jangan sampai alergi terhadap perubahan, kita jangan alergi kepada kecanggihan. Perlu ada controlling dari guru, dari orang tua, sehingga nanti bisa match antara program sekolah, program Dinas Pendidikan, dan program kementerian,” ujar Panji.
Ia menekankan bahwa pemanfaatan AI harus dilakukan secara bijak, terarah, dan tetap berada dalam pengawasan yang memadai. Kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan pemerintah menjadi faktor penting agar teknologi dapat dimanfaatkan secara positif dalam mendukung proses pembelajaran.
Panji juga mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kualitas interaksi antara guru dan peserta didik. Menurutnya, nilai-nilai keteladanan, kesabaran, dan kepedulian tetap menjadi fondasi utama yang tidak dapat digantikan oleh sistem digital.
“AI bukan pengganti guru, melainkan sahabat kerja guru. AI membantu pekerjaan menjadi lebih cepat, tetapi tidak bisa menggantikan ketulusan, kesabaran, dan keteladanan seorang pendidik,” ujarnya.
Para narasumber sepakat bahwa pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan harus diimbangi dengan peningkatan literasi digital, baik bagi guru maupun siswa. Dengan demikian, teknologi dapat digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas pembelajaran tanpa mengesampingkan aspek kemanusiaan.
Melalui pendekatan yang adaptif dan inovatif, dunia pendidikan diharapkan mampu memanfaatkan perkembangan AI sebagai peluang untuk menciptakan proses belajar yang lebih efektif, kreatif, dan relevan dengan kebutuhan zaman, sekaligus tetap menjaga fungsi pendidikan sebagai sarana pembentukan karakter generasi muda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....