Apple Developer Academy Detroit Lahirkan Inovator dan Kreator Aplikasi

  • 30 Mei 2026 20:13 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID - Jember, Apple menyoroti perkembangan talenta teknologi muda di Kota Detroit melalui program Apple Developer Academy yang telah memasuki tahun kelima penyelenggaraannya di Amerika Serikat.

Dilansir dari website resmi Apple pada Kamis (29/5/2026), Apple Developer Academy Detroit telah memberdayakan lebih dari 1.800 peserta sejak pertama kali dibuka pada 2021. Program ini dijalankan bekerja sama dengan Michigan State University (MSU) dan Gilbert Family Foundation untuk membantu peserta mempelajari pengembangan aplikasi, desain, bisnis, hingga teknologi kecerdasan buatan.

Apple menyebut akademi tersebut menjadi satu-satunya Apple Developer Academy di Amerika Utara dan menjadi bagian dari jaringan 19 akademi Apple di berbagai negara yang bertujuan memperluas peluang bagi pengembang aplikasi, desainer, dan entrepreneur muda.

Program utama akademi berlangsung selama sembilan bulan secara gratis dan menghadirkan pembelajaran intensif terkait coding, desain, pemasaran, project management, hingga artificial intelligence. Selain itu, tersedia pula Apple Foundation Program berupa pelatihan singkat selama empat minggu mengenai dasar pengembangan aplikasi.

Pada angkatan kelima tahun ini, sekitar 200 warga Detroit mengikuti program tersebut untuk meningkatkan kemampuan teknologi dan mempersiapkan karier di industri aplikasi maupun bidang digital lainnya.

Salah satu lulusan angkatan pertama, Saamer Mansoor, mengembangkan aplikasi bernama BeAware Deaf Assistant saat pandemi COVID-19 berlangsung. Aplikasi tersebut memanfaatkan Apple Neural Engine untuk menghadirkan fitur transkripsi dan terjemahan real-time bagi komunitas tunarungu dan hard of hearing.

Menurut Mansoor, ide aplikasi tersebut muncul setelah dirinya dan tim menyadari banyak anggota keluarga maupun teman mereka mengalami kesulitan komunikasi sehari-hari akibat keterbatasan aksesibilitas.

Dilansir dari website resmi Apple, aplikasi BeAware kini telah mendukung 25 bahasa dan digunakan oleh sejumlah institusi pendidikan, termasuk George Washington University. Pengembangan tersebut kemudian melahirkan platform baru bernama ConferenceCaptioning yang dirancang khusus untuk kebutuhan konferensi dan acara berskala besar.

Selain itu, lulusan lain bernama Courey Jimenez juga berhasil mengembangkan aplikasi Sign & Says, aplikasi komunikasi berbasis PECS yang menggabungkan gambar dengan bahasa isyarat sederhana untuk membantu pengguna dengan kebutuhan komunikasi alternatif.

Apple menjelaskan metode challenge-based learning menjadi salah satu pendekatan utama di akademi tersebut. Metode ini mendorong peserta memecahkan masalah nyata di lingkungan sekitar sekaligus mengembangkan ide inovatif berbasis teknologi.

Lulusan lainnya, Briaca Duesette, bahkan mendirikan perusahaan Animation Discovery Studio setelah mempelajari dunia animasi di akademi tersebut. Ia berupaya membangun ruang belajar kreatif bagi generasi muda di lingkungan tempat tinggalnya di Detroit.

Sementara itu, mentor coding sekaligus alumni akademi, Nick Gordon, mengatakan komunitas menjadi nilai paling penting dari Apple Developer Academy. Melalui organisasi nonprofit DevsCreate313 yang ia dirikan, Gordon kini membantu memperkuat ekosistem teknologi di Detroit melalui pelatihan dan pembelajaran langsung.

Dilansir dari website resmi Apple, akademi tersebut juga memiliki program lanjutan bernama Renaissance yang memberikan pelatihan tingkat lanjut, mentoring, serta kolaborasi dengan organisasi lokal bagi peserta tahun kedua.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....