WCDI Jember Gencarkan Edukasi Pengelolaan Sampah

  • 31 Mei 2026 11:33 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang akan tiba pada 5 juni 2026 dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah dari sumbernya. Melalui rangkaian roadshow edukasi, World Cleanup Day Indonesia (WCDI) Jember bersama sejumlah komunitas dan lembaga mitra berupaya membangun budaya pengurangan sampah sejak tingkat rumah tangga.

Hal tersebut disampaikan dalam program "Kentongan" Pro 1 RRI Jember yang menghadirkan Koordinator WCDI Jember, Parmuji, Direktur BSI Karya Mandiri, Ahmad Sugiarto dan anggota WCDI Jember, Putut Catur S. pada saat on air Selasa 26 Mei 2026

Parmuji mengatakan, kegiatan tahun ini tidak hanya berfokus pada aksi bersih-bersih lingkungan, tetapi juga memberikan edukasi langsung kepada masyarakat dan pelajar mengenai pentingnya pengelolaan sampah dari hulu.

Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama dalam mengurangi timbunan sampah yang selama ini masih menjadi persoalan lingkungan.

"Roadshow Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 ini bukan sekadar aksi seremonial. Kami turun langsung ke desa-desa dan sekolah untuk memberikan pemahaman bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkannya," ujarnya.

Ia menambahkan, kolaborasi lintas komunitas dan lembaga menjadi strategi penting agar pesan pelestarian lingkungan dapat menjangkau lebih banyak wilayah di Kabupaten Jember.

“kalau saya sendiri untuk tanggal 5 juni nanti akan ke sarasehan, dialog dengan topik dampak pengurangan pembuangan sampah TPA pakusari, Jadi nanti tgl 6 itu menginap di jelbuk paginya apel, clean up lalu tanam pohon,”

Sementara itu, Direktur BSI Karya Mandiri Ahmad Sugiarto menilai pendekatan ekonomi sirkular melalui bank sampah menjadi salah satu cara efektif untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah.

Menurutnya, masyarakat perlu dibiasakan memilah sampah sejak dari rumah dengan memisahkan sampah organik dan anorganik. Sampah anorganik yang telah dipilah dan dibersihkan selanjutnya dapat disetorkan ke bank sampah untuk ditukar menjadi nilai ekonomi.

"Melalui bank sampah, kami ingin mengubah paradigma masyarakat bahwa sampah tidak selalu menjadi masalah. Jika dipilah dengan baik, sampah memiliki nilai ekonomi yang dapat memberikan manfaat tambahan bagi keluarga," katanya.

Selain itu, pihaknya juga mendorong pengolahan sampah organik melalui pembuatan kompos maupun budidaya maggot sebagai solusi pengurangan sampah langsung dari sumbernya.

Di sisi lain, Putut Catur S. menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam gerakan lingkungan. Menurutnya, pemuda memiliki peran strategis dalam menyebarluaskan pesan pelestarian lingkungan melalui media digital maupun aksi nyata di lapangan.

Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, terutama dalam mengubah kebiasaan masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan atau membakar sampah plastik.

"Tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi masyarakat setelah kegiatan edukasi selesai. Karena itu, kami berupaya membentuk kader-kader lingkungan di setiap wilayah yang dikunjungi agar program dapat berjalan berkelanjutan," ujarnya.

Melalui momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, para narasumber mengajak masyarakat untuk mulai menerapkan gaya hidup ramah lingkungan dari langkah sederhana, seperti membawa tas belanja sendiri, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan membiasakan memilah sampah sejak dari rumah.

Mereka berharap kesadaran kolektif tersebut dapat menjadi fondasi dalam mewujudkan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....