Difabel Netra Dorong Ruang Digital yang Lebih Inklusif
- 30 Mei 2026 17:06 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Perkembangan teknologi digital membuka peluang besar bagi penyandang disabilitas netra untuk hidup lebih mandiri. Namun, aksesibilitas layanan digital yang belum merata masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian berbagai pihak.
Hal tersebut mengemuka dalam program "Ruang Inklusi" Pro 1 RRI Jember yang mengangkat tema "Difabel Netra dan Masa Depan Digital". Dialog menghadirkan Bendahara Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) Cabang Jember, Maulana Ikhwanul Fajri, dan Dewan Pengawas Daerah (Dewasda) PERTUNI Jember, Rachman Hadi pada Sabtu 23 Mei 2026.
Maulana mengatakan, teknologi digital saat ini telah menjadi "mata kedua" bagi penyandang tunanetra. Melalui fitur pembaca layar seperti TalkBack pada perangkat Android maupun NVDA pada komputer, penyandang disabilitas netra dapat mengakses informasi secara mandiri.
"Digitalisasi mengubah banyak hal. Saat ini teman-teman tunanetra sudah banyak yang mengelola bisnis online, menggunakan mobile banking, hingga memanfaatkan dompet digital tanpa harus selalu bergantung kepada orang lain," ujarnya.
Menurutnya, literasi digital menjadi modal penting agar penyandang disabilitas netra tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu mengambil peran dalam ekonomi digital dan industri kreatif.
Meski demikian, Rachman Hadi menilai masih banyak layanan digital yang belum sepenuhnya ramah bagi penyandang tunanetra. Sejumlah aplikasi layanan publik, platform perdagangan elektronik, hingga situs web pemerintahan dinilai belum mengakomodasi kebutuhan aksesibilitas.
Ia mencontohkan masih banyak tombol aplikasi yang tidak dilengkapi label teks sehingga tidak dapat dibaca oleh screen reader. Selain itu, sistem verifikasi captcha berbasis gambar dan dokumen informasi yang hanya tersedia dalam format foto juga menjadi kendala bagi pengguna tunanetra.
"Masa depan digital memang menjanjikan, tetapi aksesibilitas harus menjadi fondasinya. Jangan sampai perkembangan teknologi justru meninggalkan kelompok disabilitas karena desain sistem yang belum inklusif," katanya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, PERTUNI Jember terus menggelar pelatihan literasi digital dan pemanfaatan teknologi bantu bagi para anggotanya. Kegiatan tersebut mencakup pengenalan fitur aksesibilitas pada perangkat digital hingga penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mampu membantu mendeskripsikan objek dan lingkungan sekitar melalui suara.
Dalam kesempatan itu, kedua narasumber juga mendorong pengembang aplikasi dan pemangku kebijakan untuk menerapkan prinsip Universal Design dalam setiap pengembangan layanan digital. Mereka menilai kelompok disabilitas perlu dilibatkan sejak tahap perencanaan agar platform yang dibangun benar-benar dapat diakses oleh semua kalangan.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, pengembang teknologi, dan komunitas disabilitas, diharapkan ruang digital di masa depan menjadi lebih inklusif, setara, dan ramah bagi seluruh masyarakat tanpa terkecuali.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....