Waspada Overconsumption, Tren Media Sosial Dorong Konsumsi Impulsif

  • 31 Mar 2026 12:20 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Fenomena mengikuti gaya hidup influencer di media sosial kini semakin marak, namun di balik tren tersebut tersimpan dampak negatif berupa perilaku konsumsi berlebihan atau overconsumption yang mulai meresahkan, khususnya di kalangan generasi muda (31/03/2026).

Perkembangan media sosial membuat influencer menjadi rujukan utama gaya hidup, mulai dari fashion, gadget hingga produk kecantikan. Namun, paparan konten promosi yang intens dinilai mendorong masyarakat membeli barang bukan berdasarkan kebutuhan, melainkan keinginan.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa influencer memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku konsumtif, terutama di kalangan mahasiswa dan generasi Z. Paparan konten yang menarik dan terlihat autentik membuat audiens cenderung meniru gaya hidup yang ditampilkan.

Selain itu, tren konten seperti haul, ulasan produk, hingga promosi terselubung di media sosial terbukti memicu pembelian impulsif. Studi lain menemukan bahwa konten influencer di platform seperti TikTok berpengaruh signifikan terhadap perilaku impulse buying pada pengguna muda.

Fenomena ini juga diperkuat dengan munculnya berbagai tren belanja digital, salah satunya sistem blind pick atau pembelian produk secara acak. Tren ini kini tidak hanya terbatas pada mainan, tetapi telah merambah berbagai produk seperti mukena, aksesoris, hingga perangkat elektronik seperti kamera. Faktor kejutan dan rasa penasaran dinilai mendorong konsumen untuk melakukan pembelian berulang.

Tidak hanya berdampak pada perilaku belanja, overconsumption juga berpengaruh terhadap kondisi keuangan dan mental. Penelitian mengungkap bahwa gaya hidup konsumtif akibat pengaruh influencer dapat menyebabkan kesulitan mengelola keuangan, bahkan memicu stres karena tekanan sosial untuk mengikuti tren.

Algoritma media sosial yang terus menampilkan konten serupa juga memperkuat fenomena ini. Paparan berulang di linimasa seperti For You Page membuat pengguna semakin mudah terpengaruh dan sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Di sisi lain, budaya influencer turut membentuk persepsi semu atau hyperreality, di mana gaya hidup yang ditampilkan sering kali tidak mencerminkan kondisi nyata. Hal ini mendorong pengguna untuk mengejar standar hidup yang tidak realistis.

Pengamat media sosial menilai, masyarakat perlu meningkatkan literasi digital dan kesadaran finansial agar tidak terjebak dalam pola konsumsi berlebihan. Pengguna juga diimbau lebih selektif dalam mengikuti konten serta memahami bahwa tidak semua yang ditampilkan influencer merupakan kebutuhan.

Dengan meningkatnya tren ini, penting bagi publik untuk kembali pada prinsip konsumsi bijak, yakni membeli berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar mengikuti gaya hidup yang viral di media sosial.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....