SPPG 3T Dinilai Penting Jangkau Sekolah Terpencil Bondowoso
- 29 Mei 2026 17:58 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Bondowoso – Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso Taufan Restuanto menilai keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) sangat penting untuk mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah terpencil dan sulit dijangkau di Kabupaten Bondowoso. Menurutnya, sekolah-sekolah kecil di daerah pegunungan justru menjadi sasaran prioritas program tersebut.
“Yang sulit dijangkau. Kemudian, sebenarnya mereka juga menjadi sasaran MBG dan bahkan menurut saya sasaran MBG yang harusnya diutamakan adalah mereka,” kata Taufan, Jum'at 29 Mei 2026.
Ia menjelaskan, kondisi geografis Bondowoso yang didominasi wilayah pegunungan membuat banyak permukiman warga tersebar dalam kelompok-kelompok kecil yang berjauhan. Kondisi itu berdampak pada penyediaan layanan pendidikan maupun distribusi program MBG.
“Ada budaya masyarakat untuk tinggal dalam kelompok-kelompok kecil yang saling berjauhan. Kita lihat ada sekelompok rumah-rumah, kemudian jauh lagi ada kelompok rumah lainnya. Itu bisa jadi tantangan penyediaan pendidikan,” ujarnya.
Taufan mencontohkan distribusi MBG ke SD Banyuwulu 4 di Kecamatan Wringin yang hanya memiliki sekitar 60 siswa. Menurutnya, proses pengiriman makanan ke sekolah tersebut membutuhkan perjuangan lebih besar dibanding sekolah lain karena akses medan yang sulit.
“Ketika dia bisa mencapai ke sana, jumlah siswanya itu hanya 60 sekian. Dengan tingkat kesulitan yang lebih, MBG juga sulit kalau pakai ompreng itu. Kalau dibawa ke sana nanti bisa jadi nasi campur,” tuturnya.
Ia menyebut, distribusi makanan di sekolah terpencil akhirnya dilakukan dengan menggunakan wadah besar untuk nasi dan lauk, kemudian pihak sekolah membagikan sendiri kepada siswa. Kondisi tersebut membuat guru ikut menanggung tambahan pekerjaan.
“Nasi sebanyak 60 pakai tempat besar, lauk sebanyak 60 taruh dalam tempat besar, kemudian buahnya juga begitu. Tapi kemudian di sekolah yang membagi. Akhirnya gurunya juga kerja keras,” ungkap Taufan.
Menurutnya, persoalan serupa tidak hanya terjadi di SD Banyuwulu 4, melainkan juga di sejumlah sekolah kecil lain di berbagai wilayah Bondowoso. Banyak sekolah di daerah tertentu bahkan memiliki jumlah murid kurang dari 70 orang dari kelas 1 hingga kelas 6.
Meski demikian, Taufan mengakui program MBG membawa dampak positif terhadap tingkat kehadiran siswa, khususnya di daerah pedesaan dan pelosok.
“Saya mengakui bahwa kedatangan program MBG ini, terutama di daerah-daerah luar kota dan desa-desa kecil, meningkatkan kehadiran murid. Jadi anak-anak memang tertarik karena menggunakan MBG,” katanya.
Ia berharap SPPG 3T segera direalisasikan dengan mekanisme distribusi yang menyesuaikan kondisi medan di wilayah terpencil. Menurutnya, pengiriman makanan menggunakan kendaraan roda dua lebih memungkinkan dibanding mobil pengangkut biasa.
“Kalau bisa segera. Mekanismenya mungkin pakai sepeda motor khusus. Tidak mungkin menjadi paket mobil itu, tidak bisa,” ujarnya.
Taufan juga menceritakan pengalaman petugas distribusi MBG ke Banyuwulu yang harus berangkat pagi hari dan baru kembali siang hingga sore karena medan berat dan jarak tempuh yang jauh.
“Dia berangkat sendiri jam 7 pagi. Nyampainya di bawah itu jam 12, jam 1 baru sampai bawah karena nanggung balik-balik,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....