Gapasdap: Antrean di Lintasan Ketapang–Gilimanuk Dipicu Minim Dermaga

  • 14 Mar 2026 22:35 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Banyuwangi – Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) menilai kemacetan yang kerap terjadi di lintas penyeberangan Pelabuhan Ketapang menuju Pelabuhan Gilimanuk dipicu keterbatasan jumlah dermaga. Infrastruktur pelabuhan dinilai belum sebanding dengan jumlah kapal yang tersedia di salah satu jalur penyeberangan tersibuk di Indonesia tersebut.

Kepala Bidang Usaha dan Pentarifan DPP Gapasdap, Rakhmatika Ardianto mengatakan kemacetan panjang yang terjadi pada masa angkutan Lebaran bukan disebabkan kekurangan kapal.

“Hari ini saya mendengar kemacetan di Gilimanuk mengular sampai 7 kilometer. Itu antrean yang panjang,” kata Rakhmatika, Sabtu, 14 Maret 2026.

Rakhmatika menjelaskan, Pelabuhan Ketapang saat ini menjadi pangkalan bagi sekitar 55 kapal yang memiliki izin operasi. Namun jumlah dermaga yang tersedia hanya tujuh pasang, terdiri dari empat dermaga Moveable Bridge (MB) dan tiga dermaga Landing Craft Machine (LCM).

Menurut Rakhmatika, dalam kondisi normal dengan jumlah dermaga tersebut hanya sekitar 28 kapal yang dapat beroperasi. Artinya, baru sekitar 50 persen armada yang bisa dimanfaatkan, sementara kapal lainnya harus menunggu giliran sandar di pelabuhan.

Ketika terjadi lonjakan penumpang dan kendaraan seperti pada musim mudik Lebaran, tambahan kapal yang dapat dioperasikan pun sangat terbatas. Dari total armada yang ada, maksimal hanya empat kapal tambahan yang bisa dioperasikan sehingga jumlah kapal yang aktif hanya sekitar 32 unit.

Kondisi ini membuat kapal yang sebenarnya tersedia tidak dapat dimaksimalkan karena keterbatasan dermaga untuk melayani proses sandar dan bongkar muat kendaraan. Akibatnya, antrean kendaraan sering kali memanjang dan berdampak pada terganggunya kelancaran arus penyeberangan di lintas Ketapang–Gilimanuk.

Selama ini Gapasdap telah beberapa kali mengusulkan kepada pemerintah agar dilakukan penambahan tiga pasang dermaga di lintas penyeberangan tersebut. Dengan tambahan dermaga itu, kapal-kapal yang selama ini tidak beroperasi dapat diaktifkan sehingga jumlah kapal yang beroperasi bisa bertambah sekitar 12 unit. Penambahan tersebut diperkirakan dapat meningkatkan kapasitas angkut hingga sekitar 40 persen.

“Usulan tersebut juga telah disampaikan kepada pemerintah saat kunjungan kerja Komisi V DPR RI beberapa waktu lalu,” ungkap Rakhmatika.

Penambahan dermaga menjadi kebutuhan mendesak, mengingat pembangunan jalan tol Surabaya–Banyuwangi yang hampir selesai. Jika peningkatan arus kendaraan tidak diantisipasi sejak sekarang dengan penambahan fasilitas dermaga, antrean panjang di pelabuhan penyeberangan diperkirakan akan semakin sulit dihindari.

Karena itu, solusi utama untuk meningkatkan kapasitas layanan penyeberangan di lintas Ketapang–Gilimanuk bukan menambah jumlah kapal, melainkan menambah jumlah dermaga agar armada yang tersedia dapat dioperasikan secara maksimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....