Tumpek Wariga, Wujud Keharmonisan Manusia Dengan Alam

  • 08 Jul 2023 09:45 WIB
  •  Singaraja

KBRN, Singaraja : Tumpek Wariga dilaksanakan setiap enam bulan sekali, tepatnya jatuh pada Saniscara Kliwon Wuku Wariga. Tumpek ini juga memiliki sebutan lain yaitu Tumpek Pengatag, Pengarah atau Tumpek Uduh.

Budayawan Buleleng, I Nyoman Rasa Olas menjelaskan bahwa Tumpek Wariga diperingati umat hindu sebagai salah satu implementasi dari salah satu ajaran Tri Hita Karana yaitu Palemahan (hubungan yang harmonis dengan alam lingkungan) sekaligus sebagai perwujudan syukur dan terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Sangkara, penguasa tumbuh-tumbuhan atas limpahan rahmatnya berupa buah atau tanaman yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia.

“Umat Hindu merayakan Tumpek Wariga ini dengan mengimplementasikan diri, sikap, rasa syukurnya atas rahmat dan anugrah dalam bentuk buah-buahan, tumbuhan yang berbunga. Bentuk rasa syukur dan terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widhi sebagai sang pencipta dibuatkan sesajen yang diupacarai dalam bentuk tumbuh-tumbuhan yang bermanfaat bagi umat manusia,” jelasnya.

Lebih lanjut dijelaskan Rasa Olas, Tumpek Wariga juga erat kaitannya dengan Hari Raya Galungan yang diperingati umat Hindu setiap Buda Kliwon Dungulan. Ia menyebut Tumpek Wariga ini menjadi tonggak atau mengawali rangkaian perayaan hari Raya Galungan dan Kuningan. Hari ini dipergunakan untuk memberi semacam arahan atau berkomunikasi dengan tumbuh-tumbuhan agar berbuah yang banyak dan hasilnya dapat dipersembahkan saat Hari Raya Galungan. Sehingga Tumpek Wariga ini juga sering disebut dengan Tumpek Pengarah.

“Jadi Pengarah memiliki arti Ngarah yaitu memberitahukan kepada tumbuh-tumbuhan bahwa 25 hari lagi sejak saat ini ada Hari Raya Galungan sehingga tumbuh-tumbuhan diharapkan agar berbuah atau berbunga yang banyak,” ungkapnya.

Upacara Tumpek Wariga umumnya dilakukan di kebun atau tegalan milik warga. Umat Hindu di Bali menghaturkan sesaji berupa canang dan bubur dari tepung beras yang menjadi esensi utama atau hal menonjol dalam perayaan Tumpek Wariga ini.

“Makna atau symbol dari bubuh (bubur) sebagai salah satu symbol dari kesuburan. Bubur sumsum itu kan warnanya hijau. Hijau itu juga warna kesuburan, sehingga diharapkan tumbuhan atau tanaman yang berkaitan dengan kehidupan manusia akan tumbuh subur,” ujarnya.

Perayaan Tumpek Wariga sudah seharusnya menjadi sarana edukasi kepada umat manusia akan pentingnya pelestarian tumbuh-tumbuhan agar kelestarian alam tetap terjaganya Umat diharapkan memperlakukan alam dengan bersahabat dan tidak mengeksplorasi alam secara berlebihan. Sehingga alam akan sangat ramah pada manusia dan memberi segala kecukupan dalam pemenuhan kehidupan manusia.

“Bagaimana kita berupaya melestarikan alam lingkungan termasuk hutan. Oleh karena itu hari ini menjadi memontem untuk memuliakan tumbuhan sehingga hubungan manusia dengan alam lingkungan tetap harmonis, begitu juga hubungan manusia dengan manusia dan juga manusia dengan Tuhan,” ucapnya mengakhiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....