Mercusuar Bukit Lampu Padang, Jejak Sejarah yang Terlupakan
- 25 Mei 2024 14:26 WIB
- Padang
KBRN, Padang :Mercusuar Bukit Lampu berdiri di sebuah bukit tepatnya di Jalan Lintas Barat Sumatra atau Jalan Raya Padang-Painan KM 17, Kelurahan Gates Kecamatan Lubuk Begalung, Padang. Situs ini berada di daerah ketinggian sekitar 15 meter sampai dengan 30 meter di atas permukaan laut.
Mercusuar Bukit Lampu pada awalnya dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada 1916 untuk keperluan navigasi kapal di Pelabuhan Emma Haven atau Pelabuhan Teluk Bayur. Sebagai catatan, pelabuhan tersebut merupakan salah satu dari lima pelabuhan tersibuk di Hindia Belanda hingga Perang Dunia II meletus.
Pada masa pendudukan Jepang, tepatnya pada 1942, Mercusuar Bukit Lampu diambil alih oleh Jepang dan dijadikan sebagai bagian dari sistem pertahanan mereka. Di sekitar bangunan mercusuar juga dibangun benteng pertahanan lengkap dengan lubang-lubang untuk bertahan dan meriamnya.
Mercusuar Bukit Lampu sempat hancur akibat serangan tentara Inggris. Hal itu tidak terlepas dari kelicikan Jepang yang menjadikan mercusuar tersebut sebagai tempat untuk menembaki kapal-kapal musuh.
Menurut peraturan internasional, sebenarnya kawasan navigasi punya status yang sama dengan kawasan rumah sakit atau fasilitas medis, dianggap sebagai daerah damai yang tidak boleh diserang atau digunakan sebagai tempat untuk menyerang musuh. Bunker yang dibangun Jepang di dalamnya terdapat ruangan berlindung dengan ketinggian ruang tak lebih dari 170 cm atau menyesuaikan dengan postur tubuh orang Jepang yang tak begitu tinggi.
Selain di dalam area Mercusuar Bukit Lampu, pada area perkebunan masyarakat yang ada di sekitarnya juga terdapat lubang-lubang serupa. Bahkan, ada yang menyebut lubang tersebut jauh lebih panjang hingga tembus ke Pantai Nirwana dan Painan. Di sekitar lubang, juga bisa menemukan meriam peninggalan Jepang yang berukuran besar.
Meriam yang ukurannya lebih kecil menurut informasi sudah lama menghilang karena dicuri lantaran tak ada yang menjaga. Boleh dikatakan benteng dan lubang peninggalan Jepang ini terlihat tidak terawat. Situs bersejarah ini dibiarkan begitu saja oleh pemerintah setempat tanpa penjagaan dan perawatan.
Terlihat dari banyaknya coretan di dinding dan sampah-sampah yang menumpuk di sekitarnya. Bahkan, situs bersejarah ini sempat digunakan sebagai tempat mesum sebelum akhirnya ditertibkan. Mercusuar Bukit Lampu nasibnya jauh lebih beruntung karena dikelola dengan baik oleh Kementerian Perhubungan melalui Distrik Navigasi Kelas II Teluk Bayur.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....