E1: Permukiman, Kekerasan, dan Ancaman Aneksasi Tepi Barat
- 24 Agt 2026 14:17 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Israel membuka tender 1.234 unit rumah di kawasan E1, yang merupakan bagian dari rencana pembangunan sekitar 3.401 unit.
- Perluasan permukiman berlangsung bersamaan dengan kekerasan dan tekanan terhadap warga Palestina.
- Kecaman internasional meningkat, tetapi kelompok Palestina menilai belum menghasilkan tindakan nyata.
SEBUAH kawasan di sebelah timur Yerusalem kembali menjadi pusat perhatian dalam konflik Israel-Palestina. Pada Selasa 18 Agustus 2026, pemerintah Israel membuka tender pembangunan 1.234 unit rumah di kawasan East 1 (E1), dilansir dari Al Jazeera.
Proyek permukiman tersebut selama puluhan tahun telah menjadi salah satu isu paling sensitif dalam sengketa wilayah di Tepi Barat. Tender tersebut merupakan bagian dari rencana lebih besar pembangunan sekitar 3.401 unit rumah di kawasan seluas sekitar 12 kilometer persegi di antara Yerusalem dan permukiman Ma'ale Adumim.
Keputusan tersebut bukan sekadar penambahan ribuan rumah bagi warga Israel. Bagi para pengkritik, E1 merupakan salah satu titik strategis yang dapat mengubah peta Tepi Barat secara permanen.
Pembangunan di kawasan itu dikhawatirkan memperkuat hubungan teritorial antara Yerusalem Timur dan Ma'ale Adumim. Pembangunan tersebut juga dikhawatirkan dapat mempersulit terbentuknya wilayah Palestina yang saling terhubung.
Selama bertahun-tahun, pemerintah Israel menahan diri dari pembangunan skala besar di E1 karena sensitivitas politik dan diplomatiknya. Namun, rencana tersebut kembali didorong secara agresif dalam beberapa tahun terakhir.
Pada Agustus 2025, sekitar 3.400 unit rumah di E1 mendapat persetujuan. Kemudian, pada 2026 pemerintah Israel mulai bergerak dari tahap perencanaan menuju pemasaran lahan dan pembangunan nyata.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....