Gunung Kawi: Persimpangan Ziarah, Mitos, dan Keyakinan Masyarakat

  • 05 Jul 2026 14:59 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Gunung Kawi sebagai ruang ziarah sekaligus pusat lahirnya mitos pesugihan yang terus berkembang di masyarakat.
  • Perbedaan tafsir antara pengelola, peziarah, dan otoritas agama tentang praktik ritual dan batas keyakinan.
  • Ekonomi lokal, cerita turun-temurun, dan arus informasi digital memperkuat citra Gunung Kawi di ruang publik.

Misteri Gunung Kawi yang kerap dikaitkan dengan pesugihan kembali menjadi perhatian setelah sejumlah tokoh publik dilaporkan berkunjung ke sana. Menanggapi perbincangan tersebut, Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur memberikan penjelasan mengenai batas antara ziarah, tawasul, dan praktik yang dilarang.

Menurut Sekretaris Umum MUI Jawa Timur, Hasan Ubaidillah, penilaian terhadap praktik di Gunung Kawi harus melihat bentuk ritualnya secara utuh. Ia menegaskan, setiap ritual yang mengandung unsur kemusyrikan atau menyekutukan Tuhan dipandang haram menurut ajaran Islam secara mutlak.

"Kita harus memahami terlebih dahulu praktik yang berlangsung di Gunung Kawi sebelum menyimpulkan apakah termasuk pesugihan atau bukan sepenuhnya. Apabila terdapat ritual yang mengandung unsur kemusyrikan, maka hukumnya haram karena bertentangan dengan ajaran Islam secara mutlak sepenuhnya," ucapnya.

Ia menjelaskan sebagian pengunjung datang dengan membawa sesajen atau perlengkapan tertentu sebagai bagian dari ritual permohonan mereka. Menurutnya, praktik semacam itu berbeda dengan tawasul yang dilakukan hanya melalui doa tanpa sesajen maupun ritual pendukung lainnya.

Ia menilai keyakinan bahwa ritual tertentu mampu mendatangkan kekayaan, kelancaran usaha, atau rezeki merupakan bentuk penyimpangan akidah dalam Islam. Sebaliknya, tawasul dipahami sebagai ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah melalui doa tanpa meyakini benda ataupun ritual memiliki kekuatan.

"Tawasul merupakan perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah tanpa ritual khusus maupun sesajen yang menyertai setiap permohonan seseorang. Harapannya, doa dipanjatkan kepada Allah melalui perantara yang dibenarkan syariat, bukan meyakini benda atau ritual tertentu semata," ujarnya.

Misteri pesugihan Gunung Kawi adalah sebuah kisah yang terus hidup, berkembang dari mulut ke mulut, dan dipengaruhi berbagai interpretasi. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa Gunung Kawi adalah tempat yang kaya warisan sejarah, dan tradisi ziarah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....