Gunung Kawi: Persimpangan Ziarah, Mitos, dan Keyakinan Masyarakat
- 05 Jul 2026 14:59 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Gunung Kawi sebagai ruang ziarah sekaligus pusat lahirnya mitos pesugihan yang terus berkembang di masyarakat.
- Perbedaan tafsir antara pengelola, peziarah, dan otoritas agama tentang praktik ritual dan batas keyakinan.
- Ekonomi lokal, cerita turun-temurun, dan arus informasi digital memperkuat citra Gunung Kawi di ruang publik.
Juru Kunci Gunung Kawi, Raden Iwan Soeryandoko, mengaku rutin berkomunikasi dengan leluhur sebagai bagian menjaga warisan spiritual keluarga. Menurutnya, anggapan Gunung Kawi sebagai tempat keramat baru berkembang beberapa dekade setelah perjalanan hidup Eyang Djogo berlangsung.
Eyang Djogo merupakan pejuang kemerdekaan yang mengungsi ke kawasan Kesamben, Blitar, ketika Agresi Militer Belanda pertama berkecamuk di Jawa Timur. Saat tiba, wabah kolera menyerang penduduk beserta ternak, namun perlahan menghilang hingga warga memandangnya sebagai penyelamat desa setempat.
"Sejak dulu yang datang banyak orang Jawa dan Tionghoa, makannya, di sini ada Klenteng juga Masjid. Karena kami menolong tanpa pandang suku dan ras, yang jadi masalah adalah, kemunculan kabar tentang pesugihan," ucapnya.
Ia mengaku bahwa dirinya tidak tahu siapa yang memulai. Namun yang jelas pihaknya tengah berperang melawan kabar bohong itu dalam satu dekade belakangan.
Salah satu biang masalahnya, katanya, adalah calo-calo yang berlebihan dalam menarik minat pengunjung. "Banyak calo yang mereka hanya mau ambil duit saja, tanpa pernah berkontribusi pada pihak kami," ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui praktik komersialisasi ziarah telah berkembang dan melibatkan berbagai pihak, termasuk pengelola kawasan setempat. Beragam biaya persembahan hingga pagelaran wayang disediakan, sementara pertunjukan tetap berlangsung meskipun tanpa kehadiran penonton sekalipun.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....