Gunung Kawi: Persimpangan Ziarah, Mitos, dan Keyakinan Masyarakat
- 05 Jul 2026 14:59 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Gunung Kawi sebagai ruang ziarah sekaligus pusat lahirnya mitos pesugihan yang terus berkembang di masyarakat.
- Perbedaan tafsir antara pengelola, peziarah, dan otoritas agama tentang praktik ritual dan batas keyakinan.
- Ekonomi lokal, cerita turun-temurun, dan arus informasi digital memperkuat citra Gunung Kawi di ruang publik.
Pesarean Gunung Kawi menjadi tempat peristirahatan terakhir Eyang Djoego bersama murid sekaligus anak angkatnya, Raden Mas Iman Soedjono. Eyang Djoego dikenal sebagai cicit Pakubuwono pertama sekaligus pengawal Pangeran Diponegoro yang wafat pada tahun 1871 di kawasan tersebut.
Di kompleks pesarean, berdiri pohon Dewandaru yang tumbuh tepat di depan makam Eyang Djoego dan menarik perhatian para peziarah. Pohon tersebut dipercaya membawa keberuntungan bagi mereka yang kejatuhan buah maupun daunnya ketika menjalani tirakat dengan penuh kesungguhan.
"Dari cerita yang kami terima, pohon Dewandaru berasal dari tongkat Eyang Djoego yang ditancapkan hingga kemudian tumbuh. Buahnya sering dinantikan peziarah karena dipercaya membawa keberuntungan, biasanya mulai bermunculan ketika memasuki bulan Desember setiap tahunnya di kawasan," ujar Ketua RT, Kadir.

Pesarean Gunung Kawi (Foto: Dokumentasi/Pemerintah Kabupaten Malang)
Banyak peziarah meyakini siapa saja yang bertapa lalu kejatuhan buah, daun, ataupun ranting Dewandaru akan memperoleh keberuntungan dalam hidup. Namun, kepercayaan tersebut diyakini membutuhkan kesabaran karena tidak semua orang memperoleh pengalaman serupa dalam waktu yang singkat.
Menurut salah seorang penjaga makam, Juno peziarah datang terutama untuk mendoakan serta mengenang jasa para leluhur yang dimakamkan di sana. Tradisi ziarah telah berlangsung sejak tahun 1871 dan terus ramai, terutama menjelang malam Satu Suro serta Jumat Legi.
"Pengunjung menjalankan ziarah seperti di makam lainnya melalui tawasulan, tahlil, tirakatan, kemudian ditutup bersama dengan slametan secara khidmat. Tidak ada ritual pesugihan dengan syarat tertentu, apalagi mengorbankan nyawa, sebagaimana cerita yang selama ini beredar luas," katanya.
Berbeda dari kawasan pesarean, Keraton Gunung Kawi berada di puncak berketinggian sekitar 2.860 meter di atas permukaan laut. Suasana sakral terasa sejak memasuki kawasan karena berbagai sesajen masih terlihat tersusun pada beberapa sudut yang sering digunakan beribadah.
Selepas melewati gapura utama, pengunjung akan menjumpai tiga makam yang dipercaya sebagai pengawal setia Eyang Tunggul Manik beserta istrinya. Ketiga tokoh tersebut dikenal sebagai Eyang Hamid, Eyang Broto, dan Eyang Joyo yang dimakamkan sebelum kompleks keraton bagian dalam.
"Tiga makam di depan dipercaya sebagai pengawal Eyang Tunggul Manik dengan makna simbolis dalam perjalanan spiritual para peziarah bersama. Eyang Hamid bermakna permisi, Eyang Broto melambangkan tapa, sedangkan Eyang Joyo dimaknai sebagai kejayaan dan keberkahan hidup manusia," ucapnya.
Setelah melewati kompleks makam, bangunan utama Keraton Gunung Kawi berdiri di ujung anak tangga dengan suasana yang tetap tenang. Pada sisi timur bangunan, pohon Dewandaru tumbuh menjulang dan menjadi bagian penting dalam kepercayaan masyarakat yang berziarah di sana.
Menurut Jono, keraton lebih dikenal sebagai tempat ziarah untuk mendoakan leluhur daripada lokasi yang dikaitkan dengan praktik pesugihan. Pada malam-malam tertentu, kawasan tersebut dipenuhi peziarah dari berbagai daerah yang datang menjalankan doa dan tirakat dengan khusyuk.
"Setiap malam Selasa Kliwon, Kamis Kliwon, dan malam Satu Suro, kawasan ini selalu dipenuhi peziarah dari berbagai daerah. Mereka datang dari Malang, luar Jawa, maupun daerah lainnya untuk berdoa, mengenang leluhur, serta menjalankan tirakat bersama secara khusyuk," ujarnya.
|
Selanjutnya,
Gunung Kawi Tempat 'Ngalab Berkah'
|
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....