Gunung Kawi: Persimpangan Ziarah, Mitos, dan Keyakinan Masyarakat

  • 05 Jul 2026 14:59 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Gunung Kawi sebagai ruang ziarah sekaligus pusat lahirnya mitos pesugihan yang terus berkembang di masyarakat.
  • Perbedaan tafsir antara pengelola, peziarah, dan otoritas agama tentang praktik ritual dan batas keyakinan.
  • Ekonomi lokal, cerita turun-temurun, dan arus informasi digital memperkuat citra Gunung Kawi di ruang publik.

MENJELANG malam, halaman kompleks ziarah Gunung Kawi mulai dipenuhi peziarah yang datang membawa harapan dari berbagai penjuru. Sebagian menaburkan bunga, sebagian lainnya memilih berdiam diri sambil melafalkan doa dalam suasana yang tenang dan khusyuk.

Di balik wajahnya sebagai tempat ziarah, Gunung Kawi sejak lama dikaitkan dengan cerita mengenai pesugihan yang terus diwariskan. Cerita itu berkembang melalui obrolan warga, pengalaman peziarah, hingga kabar yang berulang kali muncul di media sosial.

Tak sedikit orang datang karena rasa penasaran terhadap kisah yang telah beredar selama puluhan tahun di tengah masyarakat. Mereka ingin melihat sendiri bagaimana sebuah tempat mampu melahirkan begitu banyak cerita yang saling bertaut dan berkembang.

Pengelola kawasan tetap menegaskan bahwa kompleks tersebut merupakan lokasi ziarah yang terbuka bagi siapa saja tanpa membedakan latar belakang. Aktivitas utama yang dilakukan para peziarah adalah berdoa, mengenang tokoh yang dimakamkan, dan memohon keberkahan kepada Tuhan.

Meski demikian, kisah mengenai jalan pintas memperoleh kekayaan terus melekat dan membentuk citra Gunung Kawi di mata banyak orang. Cerita itu bergerak dari mulut ke mulut, berubah mengikuti zaman, namun tidak pernah benar-benar menghilang.

Bagi warga sekitar, kehadiran peziarah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Warung makan, kios bunga, penginapan, hingga jasa transportasi tumbuh mengikuti ramainya aktivitas orang yang datang berziarah.

Sebagian pengunjung mengaku memperoleh ketenangan setelah berziarah, sementara yang lain sekadar ingin mengenal sejarah yang tersimpan di kawasan tersebut. Perbedaan tujuan itu memperlihatkan bahwa Gunung Kawi memiliki makna yang tidak selalu sama bagi setiap orang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....