Gunung Kawi: Persimpangan Ziarah, Mitos, dan Keyakinan Masyarakat
- 05 Jul 2026 14:59 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Gunung Kawi sebagai ruang ziarah sekaligus pusat lahirnya mitos pesugihan yang terus berkembang di masyarakat.
- Perbedaan tafsir antara pengelola, peziarah, dan otoritas agama tentang praktik ritual dan batas keyakinan.
- Ekonomi lokal, cerita turun-temurun, dan arus informasi digital memperkuat citra Gunung Kawi di ruang publik.
Kepercayaan akan adanya pesugihan tak lepas dari pemahaman "harta dibalas nyawa". Mitos yang beredar di masyarakat menyebutkan bahwa kekayaan yang diperoleh melalui jalan pesugihan harus dibayar dengan nyawa.
Menurut salah satu peneliti mahasiswa dari Universitas Brawijaya (UB) Harun Rasyid Al Habsyi, pengorbanan ini bervariasi tergantung motif pelaku. "Kami memang menemukan istilah 'harta dibalas nyawa', tergantung motif, karena ada yang mencari kekayaan, jabatan, hingga penglaris," ucapnya.
Meski begitu, tidak ada bukti nyata yang mendukung klaim tersebut. Ia mengatakan, informasi ini hanya didapat dari penuturan warga lokal dan belum dapat dipastikan kebenarannya.
Alih-alih menemukan bukti tumbal, ia menemukan adanya korelasi antara keyakinan kuat pada praktik tersebut dengan gangguan mental. Artinya, obsesi pada pesugihan bisa jadi merupakan kecenderungan psikologis tertentu yang mendorong seseorang mencari solusi irasional.
|
Selanjutnya,
Antara Doa, Harapan, dan Keyakinan di Gunung Kawi
|
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....