Gunung Kawi: Persimpangan Ziarah, Mitos, dan Keyakinan Masyarakat

  • 05 Jul 2026 14:59 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Gunung Kawi sebagai ruang ziarah sekaligus pusat lahirnya mitos pesugihan yang terus berkembang di masyarakat.
  • Perbedaan tafsir antara pengelola, peziarah, dan otoritas agama tentang praktik ritual dan batas keyakinan.
  • Ekonomi lokal, cerita turun-temurun, dan arus informasi digital memperkuat citra Gunung Kawi di ruang publik.

Seorang pria paruh baya yang meminta RRI menyamarkan namanya, memiliki cara tersendiri untuk datang dan berdoa ke Gunung Kawi. Anto, Lelaki di usia kepala empat asal Jember ini mengaku sebagai ‘nasabah’ rutin Gunung Kawi.

Saban tahun, mereka mengusahakan hadir di tanah bertuah itu sebanyak empat hingga lima kali. Hal ini dilakukan untuk meminta kemakmuran dan kesejahteraan lahir dan batin.

Seorang pengunjung sedang membeli kembang sebelum melakukam ziarah ke Gunung Kawi, Malang, Jawa Timur (Foto: Dokumentasi/Pemerintah Kabupaten Malang)

"Dulu usaha kami sempat ngepot-ngepot, karena keluarga banyak yang ke Kawi, kami pun akhirnya juga datang ke sini. Eh, ternyata manjur, usaha kami yang hampir bangkrut perlahan mulai naik," ujar Anto.

Baginya, ritus mendatangi Gunung Kawi sama halnya seperti ibadah biasa. Ia menolak bila persembahan tumpeng yang dibawa keluarganya disebut sesajen.

Baginya, itu sekadar simbol penghormatan untuk leluhur yang melancarkan bisnis. "Kalau pesugihan, enggak mungkin toh Saya bawa keluarga? Sudah gila apa?" katanya, menegaskan.

Lain halnya dengan Suryono, saudagar dari Jakarta yang rutin ke Gunung Kawi sejak akhir dekade 90’an. Berbeda dari Anto, Suryono lebih memilih berangkat dan sembahyang ke Gunung Kawi seorang diri.

Usianya kini menapaki 55 tahun, namun ia tetap tak pernah absen mengunjungi petilasan ini. Yang dia klaim berhasil menyelamatkan nasibnya dari jurang kebangkrutan.

Pertama kali ia menjajal kemujuran di Gunung Kawi setelah toko miliknya dijarah habis-habisan akibat kerusuhan Mei 1998. Ia dan keluarganya tak memiliki apa-apa lagi selain harapan.

Di titik terendah, ia disarankan seorang kenalan berangkat ke Kawi. Katanya bisa mengusir kegagalan yang membebani punggungnya. "Saat itu saya rasa ini adalah tempat yang aman, sehingga saya bisa bermeditasi dan berpikir jernih,'' ucapnya.

Ia menjelaskan bahwa dahulu dirinya tidak membawa uang sepersen pun. "Duit juga seadanya, berangkat ke sini diantar teman, rasanya was-was," kata Suryono.

Ia pun mulai menjalankan serangkain ritual. Mulai dari mandi air kembang, berziarah ke makam, dan sembahyang di Kelenteng. Sepulang dari Gunung Kawi, ia diberi tawaran salah satu saudaranya membuka toko distribusi bahan pokok di Jakarta.

"Saat itu Jakarta masih kelihatan mencekam, tidak tahu, kok saya yakin [buka toko]. Syukur, saya mulai bangkit sampai bisa bertahan hingga hari ini," ujarnya.

Atas kesuksesan tersebut, Suryono menyumbang sebuah lilin raksasa seharga Rp50 juta untuk Klenteng Dewi Kwan Im. Sumbangan itu ia letakan di lereng Gunung Kawi.

Seperti pengunjung lain, ia cukup defensif bila ditanya apakah semua ibadah itu hanya bentuk lain dari upaya mendapat pesugihan. Ia tidak membenarkan adanya praktik pesugihan atau tumbal di dalam Gunung Kawi.

"Saya tidak pakai tumbal apa-apa, lho, ini cuma berdoa saja. Mungkin motivasi dari berdoa itu yang kemudian membuka jalan sukses," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....