Peran Krusial Pakistan dalam Pembicaraan Damai Iran-AS
- 15 Apr 2026 19:52 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pakistan berhasil melakukan apa yang tidak bisa dilakukan negara lain dengan memanfaatkan geografi, agama, dan hubungan regional.
- Pakistan sebagai mediator pertemuan “Islamabad Talks 2026” mendorong kedua pihak untuk terus melanjutkan gencatan senjata yang disepakati pada 7 April 2026.
- Pakar Hubungan Internasional menyebut Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Gerakan Non Blok (GNB), dinilai tepat untuk menjadi mediator selanjutnya.
Pendiri The Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal menilai, Indonesia perlu belajar dari Pakistan terkait perang Iran dengan AS dan Israel. Menurutnya, terlebih Pakistan bisa memainkan peran penting sebagai mediator pembicaraan damai antara delegasi Iran dan AS pada 11–12 April 2026 di Islamabad.
“Tadi kita mendengar penjelasan dari Pakistan (panelis-red), menjelaskan kenapa Pakistan bisa memainkan peran yang penting, karena Pakistan mengambil posisi yang berprinsip. Jadi dia (Pakistan-red) mengecam serangan Amerika terhadap Iran, yang memang melanggar hukum internasional,” kata Dino saat ditemui di sela-sela pelaksanaan “Middle Powers Conference 2026”, Selasa 14 April 2026 di Jakarta.
Dino menambahkan, penting bagi Indonesia sebagai salah satu negara “kekuatan menegah” untuk belajar dari Pakistan, tentang membela sesuatu yang menjadi prinsip. Ia menyebut, hal itu perlu diikuti dengan keberanian memberikan kritik terhadap seseorang maupun sebuah negara.
“Termasuk AS, itu harus kita lakukan juga, yang kita lihat Pakistan dekatnya seperti apa dengan Amerika? dekat sekali, secara strategis, secara militer, ekonomi dan lain sebagainya. Tapi mereka tidak sungkan untuk mengkritik Amerika Serikat untuk hal yang mereka lakukan, mereka anggap sebagai pelanggaran,” ujar Dino dalam konferensi yang menghadirkan para panelis internasional ini.
Secara khusus Dino juga mendorong, agar seluruh pihak di dalam negeri melakukan berbagai persiapan atas berbagai dampak yang berpeluang ditimbulkan. Yaitu, dari perang antara Iran dengan AS dan Israel yang tak kunjung reda sejak 28 Februari 2026.
“Ya itu harus karena semua negara sekarang bersiap-siap, terutama harga minyak dan supply minyak. Jadi bukan harga minyak saja, harga dan supply minyak. Kita kita harus melakukan diplomasi dengan lihai, tapi ke dalam negeri transisi ke energi hijau sebagai contoh,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....