Kasus Amsal Sitepu dan Polemik Nilai Karya Kreatif di Indonesia

  • 01 Apr 2026 14:08 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

Kasus ini turut menuai sorotan dari beberapa pegiat ekonomi kreatif. Shabrina, selaku graphic designer dan illustrator, mengaku kecewa terhadap cara aparat penegak hukum menilai pekerjaan di sektor kreatif.

Ia menilai, keputusan mark-up harga dan pemberian nilai Rp0 menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap proses di balik karya tersebut. Menurut Shabrina, dalam beberapa tahun terakhir para pekerja kreatif sebenarnya sudah menghadapi kekhawatiran besar, termasuk maraknya penggunaan AI.

Namun, yang lebih mengecewakan baginya adalah ketika pekerjaan kreatif justru dinilai tidak memiliki nilai ekonomi. “Mencari ide atau konsep dalam menjalankan pekerjaan seperti ini tentu tidak mudah,” ujar Shabrina ketika diwawancarai RRI, Selasa 31 Maret 2026.

Dalam proses tersebut, kreator harus melakukan banyak eksplorasi sebelum karya dieksekusi. Termasuk melakukan berbagai kombinasi konsep serta mempelajari karya-karya sebelumnya melalui pendekatan ATM (amati, tiru, modifikasi).

Ia menambahkan, proses pencarian ide sering kali membutuhkan waktu panjang. Karya yang dihasilkan dari pemikiran manusia, menurutnya, memiliki cerita, proses, dan semangat di baliknya.

Shabrina juga berpendapat bahwa ide seharusnya tetap dihargai dan dibayar. “Semoga para pegiat kreatif di Indonesia tetap solid agar suara kita dapat didengar oleh pemerintah,” katanya.

Salah satu arsitektural designer, Nabila, juga sependapat. Ia menyebut tingkat kesulitan dalam membuat desain sering kali dipengaruhi oleh keselarasan permintaan klien dan perspektif desainer.

Jika keduanya sejalan, proses pengerjaan akan terasa lebih mudah. Namun jika terdapat perbedaan yang cukup jauh, maka dibutuhkan upaya yang lebih besar untuk menyesuaikan hasil karya dengan keinginan klien.

Hal ini, menurutnya, menjadi dasar bahwa ide termasuk bagian dari tugas yang memang seharusnya dibayar. Akan tetapi, apabila terdapat permintaan tambahan di luar kesepakatan awal, hal tersebut seharusnya dihitung sebagai proyek baru.

Ia juga tidak sependapat jika pekerjaan yang dimulai dari nol disamakan dengan pekerjaan yang hanya berupa eksekusi. Dikarenakan biaya dan prosesnya tentu berbeda.

“Gaji designer menurut saya masih belum sepenuhnya sesuai dengan effort, skill, dan waktu yang dikeluarkan,” ujar Nabila. Menurutnya, masih banyak orang yang memandang desain hanya sebatas hasil visual, padahal prosesnya cukup panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....