Silek Ulu Ambek : Bersilat Tanpa Menyentuh Lawan
- 30 Jun 2024 11:05 WIB
- Padang
KBRN,Padang: Di daerah Pariaman Sumatera Barat, lahir dan berkembang subuah seni pertunjukan yang menampilkan konflik atau pertarungan secara estetis, yang bersumber dari sejenis pencak silat tanpa persentuhan fisik di antara kedua petarung. Walaupun mereka tetap melakukan jurus – jurus menyerang dan menangkis atau mengelak seperti pencak silat pada umumnya, namun tidak satupun gerakan mereka yang menyentuh lawan masing – masing, sehingga sepintas kedua pesilat itu seakan – akan sedang menari padahal mereka sedang bersilat. Gerakan ke dua pesilat itu diiringi oleh alunan vocal seorang dampiang yang ikut menuntun langkah dan gerakan pesilat di atas laga – laga ( arena tempat kedua pesilat bertarung yang terbuat dari anyaman dan rajutan bilah bambu). Inilah yang dinamakan Silek Ulu Ambek, silat khas Padang Pariaman.
Di daerah asalnya, setidaknya ada empat variasi sebutan untuk pertunjukan itu pada masyarakat pemiliknya, yakni alo ambek (berasal dari kata alau ( halau ) dan ambek ( hambat ), luambek ( berasal dari kata lalu ( lewat ) dan ambek (hambat), ulua ambek ( berasal dari kata ulua ( julur ) dan ambek ( hambat ), ulu ambek ( berasal dari ulu ( hulu ) dan ambek ( hambat ). Walaupun demikian, semuanya bermakna serangan dan tangkisan. Gerakan saling serang dan tangkis serta mengelak yang dilakukan secara berganti-ganti di antara dua orang pesilat itu berasal dari silek bayang (silat bayang) yakni aliran silat yang menggunakan kekuatan magis ( bathin ) sehingga tidak memerlukan kontak fisik secara langsung. Karena ada sisi silat bathinnya, ini barangkali ada yang menempatkan ulu ambek sebagai seni yang berhubungan erat dengan ajaran tasawuf. Pertunjukan silat ulu ambek yang secara fisik merupakan aktivitas gerak gerik silat dan tarian penyerangan dan penangkisan. Namun, hakikatnya serangan dan tangkisan itu merupakan simbol “pemberian dan penerimaan” dari seorang guru atau syeikh kepada muridnya yang berisi pembelajaran budi dan pengetahuan spiritual.
Silek Ulu Ambek sudah sangat lama dikenal dan diwariskan turun temurun oleh masyarakat Padang Pariaman, bahkan juga sdh menjadi silek khas daerah itu. Dari salah seorang pewaris silek Ulu Ambek, Bagindo Rajalis, diketahui bahwa munculnya Silek Ulu Ambek diduga tidak terlepas dari keberadaan Syech Burhanuddin, pengembang Islam di Pesisir Barat Minangkabau kala itu dan berpusat di Pariaman. Dikisahkan bahwa Silek Ulu Ambek adalah penggabungan Ulu Ambek dengan Silek oleh Syech Burhanuddin dari dua pendekar yang berselisih kemudian didamaikan dan beladiri pegangan mereka ulu ambek dan silek digabungkan oleh Syech Burhanuddin.
Ulu ambek dipertunjukkan pada suatu alek nagari. Alek nagari adalah pesta atau semacam festival yang diadakan oleh sebuah nagari yang melibatkan nagari-nagari lain sebagai alek atau tamu undangan. Alek nagari biasanya diadakan pada saat penobatan penghulu baru atau acara – acara adat lainnya. Karena itu Pertujukan ulu ambek bisa dikatakan sebagai sebuah pertunjukan beradat. Sehingga diklaim sebagai suntiang (mahkota) ninik mamak ata pangulu ( pemimpin adat masyasarakat suatu nagari ).
Pesilat yang ikut serta dalam pertunjukan ulu ambek itu bukan datang atas nama dan keinginannya sendiri tetapi diminta dan diutus oleh nagarinya, sehingga ketika dia berdiri di atas laga – laga dia mempertaruhkan nama baik dan harga diri nagari dan pangulunya. Karena itu bagi pesilat yang buluih ( kalah dalam ulu ambek ) maka malunya itu bukan malu pribadinya saja melainkan juga malu ninik mamak dan nagarinya. Kekalahan dalam ulu ambek tersebut dianggap sesuatu yang memalukan di hadapan umum sehingga dapat “melukai” hati petarung dan juga komunitasnya. Oleh karena itu pertandingan ulu ambek itu diawasi oleh para pangulu dari setiap nagari yang ambil bagian dalam alek tersebut serta dipimpin oleh dua orang janang ( wasit ) yang ditunjuk juga oleh ninik mamak.
Karena pertunjukan ulu ambek membawa nama baik dan harga diri nagari dan pangulu, maka ulu ambek merupakan seni yang mempresentasikan manajemen konflik secara komprehensif. Kekomprehensifan manajemen konflik yang dimaksud meliputi penentuan secara tepat ruang lingkup wilayah yang dilibatkan dalam pertunjukan, tata cara mamanggie ‘memanggil atau mengundang’ agar undangan dituruti orang, tuntutan pemenuhan undangan bertarung karena merupakan aib apabila tidak mampu memenuhi undangan atau tantangan bertarung yang dalam ungkapan Minang berbunyi “ malu indak taturuik alek urang, indak tatampuah galanggang rami “. Bila tidak diundang juga mesti dipertanyakan mengapa tidak diundang. Selain itu kemampuan mendudukan alek (tamu) secara pantas dan patut, penunjukan janang atau wasit secara tepat, pengawasan kepemimpinan janang, pengawasan pertunjukan secara utuh oleh ninik mamak, tata tertib dan etik permainan, dan juga tata tertib lingkungan dalam konteks pertunjukan ulu ambek tersebut.
Karena begitu terhormatnya alek ( perhelatan ) ulu ambek, maka selama pertunjukan berlangsung tidak boleh ada pertunjukan lain pada saat yang sama. Dan juga tidak dibolehkan menimbulkan kebisingan, termasuk yang ditimbulkan dari suara knalpot sepeda motor umpamanya, sehingga seseorang harus menuntun sepeda motornya dalam keadaan mesin tidak hidup apabila harus melewati laga-laga tempat pertunjukan berlangsung. Di samping itu, selama pertunjukan ulu ambek berjalan, semua pedagang yang berjualan di sekitar arena pertunjukan harus tunduk kepada aturan yang ditetapkan ninik mamak atau pangulu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....