Tabungan Emas untuk Pendidikan Anakku

  • 31 Mar 2023 14:52 WIB
  •  Padang

KBRN, Padang: Tanggal muda di awal bulan merupakan waktu yang paling dinanti hampir sebagian besar karyawan. Tidak terkecuali bagi Halbert Caniago, seorang pekerja di sektor teknologi informasi di Kota Padang, yang ditemui RRI Padang di rumahnya, Kubu Dalam, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, pada Rabu 1 Maret 2023.

Memanfaatkan jam istirahat kantor, Halbert memilih pulang beristirahat siang di rumah. Di ruang tamu berukuran 3 kali 3 meter cerita dimulai. Di tengah perbincangan tetiba ponselnya yang tergeletak pada meja kayu di tengah ruangan berdenting. Tak berlama-lama, jarinya langsung menekan tombol pembuka kunci. Seperti dugaannya, notifikasi gaji sudah masuk rekening. Ia mengembangkan bibirnya, perusahaan tempat bekerja masih disiplin membayar gaji buruh tepat waktu.

Jamak bagi pekerja yang telah berumahtangga, gaji hanya mampir. Kondisi itu pula yang dialami Halbert, yang saat ini menyandang status sebagai suami dengan 1 orang anak. Gaji tidak bertahan lama di dompet karena harus segera digunakan membayar cicilan rumah, tagihan listrik, air, dan keperluan rumah tangga lainnya.

Namun, setelah tahu gaji sudah masuk ke rekening, bukan urusan bayar membayar didahulukan. Halbert justru membuka aplikasi Pegadaian Digital di ponselnya. Tanpa pikir panjang, mengklik beli emas. Lalu dapat nomor akun virtual untuk pembayaran melalui mobile banking. Tak sampai hitungan menit, pembayaran berhasil, pundi emas pun bertambah.

“Kalau gaji masuk yang pertama saya lakukan beli emas. Tidak besar, hanya Rp300 ribu. Dapatnya kisaran 0,3226 gram. Saya sesuaikan dengan kemampuan, maklum gaji saya pas UMR,” katanya.

Sudah satu tahun terakhir Halbert menabung emas setiap bulan. Ia sengaja menyisihkan sedikit jerihnya untuk menabung biaya pendidikan anaknya kelak. Tabungan emas Pegadaian yang dipilihnya. Sebab menabung emas memiliki nilai lebih aman dibanding menyimpang uang.

“Banyak asuransi maupun perbankan yang menawari saya ikut produk untuk pendidikan anak. Tapi saya lebih memilih tabungan emas Pegadaian. Alasannya sederhana saja, mungkin tidak harga emas jatuh 16 tahun ke depan?. Coba bandingkan kalau saya simpan ditabungan konvesional, nilai uang pasti akan terdampak inflasi,” ujar pria 30 tahun ini.

Alasan lain yang mendorong Halbert disiplin menabung emas karena statusnya pekerja partikelir. Tidak ada pensiun layaknya pegawai negeri sipil. Satu-satunya cara memastikan anaknya tetap mengecap bangku pendidikan tinggi yakni dengan menabung.

“Kalau orang swasta seperti saya pensiun dapat apa?. Andalannya hanya doa, semoga sehat-sehat sampai tua agar bisa terus kerja. Sementara anak terus besar, butuh biaya sekolah. Menabung ini ikhtiar demi anak. Saya nggak mau anak saya merasakan susahnya bayar kuliah seperti saya dulu. Kalau mau masuk semester baru terpaksa kerja, ikut nguli biar kuliah nggak putus. Sebenarnya permasalahan itu kan akibat orang tua tidak mempersiapkan sejak dini untuk biaya pendidikan anak,” bebernya.

Lelaki kelahiran Juli 1992 ini mengaku, saat ini tabungan emasnya masih sedikit, baru 10,9 gram. Tapi ia yakin bisa mencapai target sampai 100 gram. Emas itulah yang nantinya digunakan sebagai biaya kuliah anak pertamanya tahun 2038 mendatang.

“Semoga saja bisa mencapai 100 gram emas dalam 16 tahun. Pas untuk biaya kuliah anak pertama yang saat ini berusia 1,5 tahun,” katanya.

Migrasi ke Digital Gegara Malas Antre

Halbert mulai membuka tabungan emas Pegadaian pada Januari 2022 lalu melalui salah satu cabang Pegadaian Simpang Anduring, Jalan Andalas, Kota Padang. Ia mulai menabung dengan mengisi saldo awal sebesar Rp310 ribu. Dari jumlah tersebut, ia mendapatkan emas sebesar 0,3535 gram dari harga beli Rp876.900 ribu per gram.

Sejak awal membuka tabungan sampai saat ini, ia belum pernah absen menabung. Untuk menambah simpanan setiap bulannya, ia mendatangi langsung kantor cabang Pegadaian Simpang Anduring karena dekat dengan tempatnya bekerja.

“Kalau nabung langsung ternyata antreannya cukup lama dan panjang karena nasabahnya banyak. Lalu pada Juni 2022 seorang teller menyarankan saya bertransaksi secara online melalui aplikasi Pegadaian Digital,” ujarnya.

Setelah mendapatkan tata cara penggunaan aplikasi Pegadaian Digital, di bulan berikut tepatnya pada 8 Juli 2022, Halbert mencoba bertransaksi menggunakan aplikasi Pegadaian Digital. Kembali Rp300 ribu ia sisihkan untuk mengisi tabungan emas Pegadaian.

“Ternyata benar tidak perlu capek dan repot mengantre. Duduk di rumah saja emas nambah, tak perlu pula keluar bensin,” selorohnya.

Semenjak itu, hingga saat ini Halbert tidak pernah lagi mendatangi kantor Pegadaian untuk melakukan transaksi pembelian tabungan emas. Dimana pun ia berada dan memiliki pendapatan yang bisa disisihkan, ia tidak lupa menabung emas demi anak lelakinya. Bahkan, saat harga beli emas cenderung merangkak naik setiap bulannya, tidak membuat semangatnya kendor. Justru hal tersebut menjadi sinyal positif harga emas tidak akan jatuh.

“Kini harga emas sudah diatas Rp900 ribu per gram. Tadi saya beli di harga Rp929.000 ribu per gram,” ujarnya.

Deputi Bisnis Pegadaian Area Padang Tumiyem saat menunjukkan aplikasi Pegadaian Digital.(Foto: Melati Oktawina/RRI Padang)

Investasi Mudah yang Semakin Diminati

Beragam jenis investasi, ada tanah, emas, saham, reksadana, dan lain sebagainya. Khusus untuk emas, dulunya investasi ini digemari kaum emak-emak. Menyimpan emas dalam bentuk fisik berupa perhiasan. Bisa menyimpan sekaligus bergaya. Namun hal itu tidak terjangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama yang sakunya cekak. Selain itu emas perhiasan berisiko memancing potensi kriminal seperti jambret, hingga rampok. Sebagai solusinya, Pegadaian menghadirkan tabungan emas.

Deputi Bisnis Pegadaian Area Padang Tumiyem mengatakan, tabungan emas tergolong produk baru. Diluncurkan tahun 2015 oleh Presiden Joko Widodo. Berjalan delapan tahun, keberadaan tabungan emas ternyata semakin diminati. Jumlah nasabah mengalami trend kenaikan.

“Rekening aktif tabungan emas untuk wilayah Sumatera Barat dan Sungai Penuh per 28 Februari 2023 mencapai 469.326. Jika dirata-ratakan minimal mereka memiliki tabungan emas mencapai 4,1 gram,” kata Tumiyem saat ditemui RRI Padang di Kantor Pegadaian CP Terandam, Jumat (3/3/2023).

Tumiyem mengungkapkan, berdasar survei yang dilakukan ada banyak alasan nasabah membuka tabungan emas Pegadaian. Di antaranya, mengamankan dana yang dimiliki, persiapan biaya pendidikan, hingga untuk membeli kebutuhan konsumtif jangka panjang seperti kendaraan dan rumah.

“Kalau pengakuan nasabah paling banyak itu untuk persiapan biaya pendidikan,” ujarnya.

Menurut Tumiyem, memilih tabungan emas untuk biaya pendidikan anak merupakan pilihan yang tepat dibanding asuransi maupun tabungan pendidikan yang ditawarkan perbankan. Sebab emas berfungsi sebagai pelindung nilai tukar mata uang.

“Misalnya tahun ini harga emas Rp1 juta per gram, lima tahun ke depan bisa saja menjadi Rp1,5 juta per gram. Kalau kita menabung dalam bentuk uang, maka nilainya akan berkurang atau menyusut karena inflasi. Contoh mudahnya, dulu uang Rp5 ribu bisa dapat nasi bungkus, sekarang nasi bungkus yang sama harganya Rp15 ribu. Disitulah nilai uang menyusut karena inflasi,” ujarnya.

Tumiyem mengatakan, tabungan emas Pegadaian merupakan investasi yang menarik. Sebab dapat dimulai dari nominal kecil. Di awal hanya perlu membayar biaya administrasi sebesar Rp10 ribu, biaya penitipan emas per tahun Rp30 ribu. Setelah itu nasabah dapat melakukan pembeliaan tabungan emas mulai dari 0,01 gram.

“Menabungnya bisa dari nominal yang terbilang kecil dapat diisi mulai dari Rp10 ribu. Dari sedikit-sedikit itulah bisa jadi bukit. Pada jangka panjang nilai emas itu akan semakin naik disitulah untungnya,” kata perempuan berambut pendek ini.

Pembelian tabungan emas Pegadaian yang dapat dimulai dari nominal kecil ini juga menjadi keuntungan dibandingkan membeli emas secara fisik langsung. Nasabah tidak harus mempunyai uang yang banyak agar dapat mempunyai emas. Berbeda dengan emak-emak di era orde baru, yang harus menumpuk uang untuk membeli emas fisik 1 gram.

“Tapi kalau untuk investasi emas tidak bisa jangka pendek ya. Nanti ketahuan ada untungnya setelah dua atau tiga tahun menabung. Sebab kecenderungan harga emas itu naik. Sesekali ada turun sedikit tapi itu hanya sebentar kemudian naik lagi,” katanya.

Tumiyem menambahkan, sejak diluncurkannya aplikasi Pegadaian Digital, rata-rata nasabah tabungan emas memilih melakukan transaksi secara digital. Hal itu dipicu karena sangat mudahnya bertransaksi menggunakan aplikasi Pegadaian Digital. Nasabah tidak hanya sekedar dapat melihat atau mengecek harga beli dan jual emas pada hari itu, tetapi juga bisa langsung bertransaksi.

"Rata-rata sekarang nasabah tabungan emas transaksinya sudah melalui aplikasi saja. Kalau mau beli tinggal klik beli nanti saldo emas akan bertambah. Kalau mau jual lebih gampang lagi uang penjualan bisa langsung masuk ke rekening. Zaman sekarang orang-orang tidak ingin repot. Cukup melalui ponsel pintar transaksi bisa dilakukan," ujarnya.

Tabungan Emas Pegadaian Aman dan Halal

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sumatera Barat Yusri mengatakan, tabungan emas Pegadaian merupakan salah satu alternatif berinvestasi yang dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Sebab tabungan emas Pegadaian mampu mengakomodir keinginan masyarakat untuk berinvestasi emas hanya dengan nominal kecil.

“Semua orang pasti ingin menyimpan untuk investasi, salah satunya melalui emas. Investasi emas menjadi kebanggaan tersendiri. Kalau dulu jika ingin berinvestasi emas harus mengeluarkan biaya cukup besar karena membeli fisik emas minimal satu gram. Tapi kalau sekarang melalui tabungan emas berapa pun uang yang dipunya bisa disisihkan seperti Rp10 ribu hingga Rp50 ribu kita bisa membeli emas. Peluang ini yang mampu ditangkap Pegadaian dengan baik melalui produk tabungan emas,” ujarnya kepada RRI Padang, Rabu (8/3/2023).

Menurut Yusri ada banyak keuntungan yang didapatkan nasabah tabungan emas Pegadaian. Pertama tentunya memberikan keuntungan bagi nasabah. Sebab kecenderungan harga emas yang selalu naik.

“Kalau kita lihat grafik harga emas itu selalu naik. Mungkin suatu saat mengalami penurunan, tetapi pasti naik lagi,” katanya.

Keuntungan lain, sebut Yusri yakni dapat dicicil. Masyarakat bisa menyesuaikan pendapatan dengan nominal tabungan emas yang diinginkan.

“Tidak perlu lagi harus menunggu punya duit banyak supaya bisa berinvestasi emas. Dengan adanya tabungan emas Pegadaian masyarakat bisa memiliki emas dengan unit terkecil,” ujarnya.

Selain itu nasabah tidak perlu khawatir kehilangan emasnya. Sebab fisik emas tidak disimpan secara langsung di rumah. Lanjut Yusri, tabungan emas Pegadaian selalu intens diawasi OJK karena telah tercatat sebagai produk yang mendapat persetujuan OJK. Dengan demikian transaksi yang dilakukan dipastikan aman.

Yusri memberikan tips agar masyarakat tidak terjebak dalam investasi berupa tabungan emas yakni harus memastikan berinvestasi di lembaga keuangan formal.

“Pegadaian salah satu lembaga keuangan formal yang kita miliki. Dimiliki pemerintah karena itu masuk BUMN. Diawasi otoritas tertentu yaitu OJK, sehingga saya rasa tidak perlu lagi khawatir perihal keamanan tabungan emas Pegadaian,” katanya.

Sementara itu, Pakar Ekonomi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, Dr Davy Hendri menyatakan, tabungan emas Pegadaian adalah transaksi yang halal dan terhindar dari bahaya riba. Tidak adanya fisik dari tabungan emas Pegadaian bukanlah persoalan, karena akad dalam transaksi tersebut berupa titipan dari barang yang dibeli.

“Ya, transaksi tabungan emas di Pegadaian ini halal .Memiliki akad wadiah yang memang diperbolehkan dalam Islam. Akadnya jelas, dan seluruh hal yang berkaitan dengan transaksi dituangkan dan saling mengetahui antara nasabah dengan Pegadaian,” katanya saat diwawancarai RRI, Minggu (12/3/2023).

Davy menegaskan halalnya transaksi tabungan emas Pegadaian juga karena adanya regulasi yang dimiliki oleh Pegadaian serta sudah diawasi OJK. Selain itu, Davy melihat banyaknya masyarakat yang tertarik dengan tabungan emas Pegadaian karena konsep demand (permintaan) dan supply (penawaran) saling melengkapi.

“Dalam sisi permintaannya cukup tinggi karena belakangan ini nilai rupiah tidak stabil. Akibatnya masyarakat ragu untuk berinvestasi dalam bentuk uang tunai dan lebih memilih emas. Pegadaian membaca peluang melihat tingginya permintaan itu dengan menawarkan layanan tabungan emas,” tuturnya.

Selain permintaan dan penawaran yang saling berkaitan, menurut Davy tingginya minat masyarakat untuk menabung emas di Pegadaian karena literasi keuangan masyarakat yang semakin membaik.

“Masyarakat memahami tabungan emas merupakan investasi yang aman dan tidak memiliki risiko yang tinggi,” tuturnya.

Davy menambahkan, tidak heran jika beberapa tahun belakangan banyak lembaga keuangan non bank yang mengekor produk investasi emas Pegadaian. Bahkan sejumlah marketplace daring mulai mengeluarkan produk serupa, mencicil dan menabung emas. Namun Pegadian masih cenderung diminati karena lembaganya lebih jelas dan bisa diakses secara langsung.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....