Sejarah Kodam 17 Agustus, Kini Tuanku Imam Bonjol

  • 05 Okt 2025 13:54 WIB
  •  Padang

KBRN, Padang: Sebelum diresmikannya Komando Daerah Militer (Kodam) XX/ Tuanku Imam Bonjol (disingkat Kodam XX/TIB) bersama lima Kodam lainnya di Indonesia oleh Presiden Prabowo Subianto, 10 Agustus 2025 lalu, keberadaan Komando Daerah Militer III/17 Agustus (disingkat Kodam III/17 Agt) yang merupakan bekas komando kewilayahan pertahanan militer yang meliputi Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau itu kembali ke permukaan.

Kasdam XX/ TIB, Brigjen TNI Heri Prakosa P. Wibowo mengatakan, berdasarkan perjalanan historinya, sebelum berada di bawah kendali Kodam I/Bukit Barisan, sebenarnya Korem 031/Wirabima Riau merupakan salah satu satuan dengan teritori Kodam III/17 Agt. “Sejarahnya, pada tahun 1985 terjadi likuidasi, karena dianggap bahwa satuan yang ada ini tidak mampu mengcover, akhirnya dilikuidasilah Kodam 17 Agustus pada saat itu,” ujarnya usai Upacara HUT ke-80 Tentara Nasional Indonesia (TNI) di lapangan Imam Bonjol, Padang, Minggu (5/10/2025).

Nama Kodam III/17 Agt sendiri merujuk pada sandi Operasi 17 Agustus untuk menumpas gejolak di sejumlah daerah yang populer dengan nama Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Aksi militer ini dahulunya dipicu oleh ketidakpuasan atas kebijakan pembangunan pemerintah pusat yang tersentralisasi di Pulau Jawa.

Gerakan PRRI di Sumatera Barat melebar ke Riau melalui Dewan Banteng, yang diumumkan pada tanggal 15 Februari 1958. Merespon aksi sejumlah petinggi militer di daerah tersebut, pemerintah melakukan operasi pemulihan keamanan di wilayah Sumatera Barat dan Riau. Maka terbentuklah Komando Daerah Militer Sumatera Tengah (KDMST) pada tanggal 17 April 1958 yang bermarkas di Padang, Sumatera Barat.

Adapun pimpinan pertama KDMST, ditempati Kolonel Ahmad Yani selama 2 tahun, sejak 1958 hingga 1960. Ahmad Yani gugur sebagai Pahlawan Revolusi dari gerakan militer yang dikenal dengan G30S PKI, sementara Panglima Kodam III/17 Agustus terakhir kali dijabat oleh Brigjen Soeripto hingga tahun 1984 yang juga pernah menjabat sebagai Gubernur Riau.

“Operasi 'menjinakkan' PRRI Dewan Banteng pun berlangsung sukses, setelah pentolannya menyerahkan diri dan menyatakan kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, sekaligus mengakhiri operasi militer sandi 17 Agustus. Keberadaan KDMST bertahan hingga tiga tahun lamanya yang kemudian pada tahun 1961 berubah nama menjadi Kodam III/17 Agustus.

Namun, pada tahun 1984 muncul kebijakan re-organisasi di tubuh TNI Angkatan Darat (AD), yang berdampak pada pengurangan jumlah Kodam dari sebelumnya 16 menyisakan 10 Kodam. Kebijakan re-organisasi TNI AD ini dituangkan melalui Perintah Operasi Kasad Nomor 011/1984 tanggal 22 September 1984 yang kemudian disempurnakan dengan Surat Telegram KASAD Nomor STR/430/1984 tanggal 21 Oktober 1984 dan STR/603/1984 tanggal 28 Desember 1984.

Kodam III/17 Agt pun dilebur, kemudian digabungkan dengan nama Kodam I/Bukit Barisan, bersamaan dengan penggabungan Kodam I/Iskandar Muda berkedudukan di Medan, Sumatera Utara. Sejak peleburan tersebut Kodam I/Bukit Barisan terus mengalami perkembangan, hingga kini, telah ada 3 unsur satuan teritorial setingkat Korem, mulai dari Korem 031/Wirabima di Pekanbaru, Provinsi Riau, Korem 032/Wirabraja di Padang, Sumatera Barat dan Korem 033/Wira Pratama di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Selain itu, puluhan Kodim sudah terbangun di tiga Provinsi tersebut.

Kini nama Kodam 17 Agustus kembali bersemi dalam balutan Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol, setelah Presiden Prabowo meresmikan enam Kodam baru dalam Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer yang berlangsung di Pusdiklatpasus, Batujajar, Bandung Barat, Minggu (10/8/2025). Sejarah panjang dan romantika Kodam 17 Agustus kini bangkit kembali, menegaskan kekuatan TNI AD bisa menjangkau lebih banyak wilayah hingga ke daerah pelosok.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....