Ini Penyebab Sekolah 3T di Sanggau Kekurangan Murid
- 09 Jul 2026 19:41 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong – Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 di sejumlah sekolah daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) Kabupaten Sanggau menghadapi tantangan yang beragam. Mulai dari keterbatasan akses informasi, kondisi geografis, hingga minimnya jumlah peserta didik masih menjadi kendala dalam mewujudkan pemerataan pendidikan.
Salahsatu kondisi tersebut dialami SMP Negeri 3 Satap Toba yang berada di wilayah terpencil. Edi Sapriyansyah, Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum mengatakan, pelaksanaan SPMB berlangsung sesuai jadwal yang ditetapkan, namun sekolah menerapkan kebijakan khusus bagi calon peserta didik yang terlambat mendaftar karena berbagai kondisi.
"Secara keseluruhan pelaksanaan SPMB Tahun Ajaran 2026/2027 di sekolah kami berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan pemerintah. Namun karena kami berada di daerah 3T, biasanya masih ada siswa yang datang mendaftar setelah penutupan karena terlambat memperoleh informasi atau orang tuanya baru kembali ke kampung," ungkapnya dalam Dialog Sanggau Menyapa di RRI Sanggau, Kamis 9 Juli 2026.
Edi mengatakan, sekolah memberikan toleransi terhadap kondisi tersebut selama seluruh persyaratan administrasi masih dapat dipenuhi. Kebijakan itu diterapkan pihak sekolahnya agar peserta didik tetap memperoleh hak pendidikan tanpa mengabaikan ketentuan yang berlaku.
"Selama peserta didik masih dapat dimasukkan ke Dapodik dan seluruh persyaratannya terpenuhi, kami tetap memberikan toleransi. Yang terpenting, hak anak untuk memperoleh pendidikan tidak hilang hanya karena terlambat mendaftar akibat kondisi wilayah," ujarnya.
Selain persoalan keterlambatan pendaftaran, Edi menjelaskan, sekolah di wilayah 3T juga masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kuota peserta didik baru setiap tahun ajaran. Faktor geografis serta perpindahan domisili orang tua dinilainya menjadi penyebab jumlah peserta didik belum mencapai kapasitas yang tersedia.
"Sekolah induk kami hanya satu, yaitu SD Negeri 1 Bagan Asam, banyak orang tua bekerja di kota sehingga setelah lulus SD, anak-anak ikut melanjutkan sekolah di daerah tempat orang tuanya bekerja. Akibatnya, jumlah peserta didik yang kami terima setiap tahun belum mampu memenuhi kuota yang tersedia," tambahnya.
Edi berharap, pelaksanaan SPMB di wilayah 3T terus mendapat dukungan melalui kebijakan yang menyesuaikan kondisi lapangan. Menurutnya, pemerataan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh sistem penerimaan murid baru, tetapi juga peningkatan akses pendidikan agar seluruh anak memiliki kesempatan yang sama untuk bersekolah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....