Curah Hujan Rendah Picu Karhutla di Kabupaten Sanggau

  • 10 Feb 2026 19:25 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Entikong – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali membayangi Kabupaten Sanggau seiring kondisi cuaca kering yang masih berlangsung sejak awal Februari 2026. Intensitas hujan yang relatif rendah membuat wilayah ini berada dalam kategori rawan karhutla dan membutuhkan kewaspadaan ekstra dari seluruh pihak.

Analis Mitigasi Bencana BPBD Kabupaten Sanggau, Apriati, mengungkapkan bahwa berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan di wilayah Sanggau masih tergolong rendah. Kondisi tersebut berpotensi mempercepat kekeringan lahan dan meningkatkan risiko terjadinya kebakaran.

“Sejak Februari hingga saat ini, intensitas hujan di Kabupaten Sanggau masih rendah berdasarkan prakiraan BMKG. Situasi ini berkontribusi besar terhadap tingginya potensi karhutla,” ujar Apriati dalam Dialog Kentongan RRI Entikong, Selasa 10 Februari 2026.

Ia menjelaskan, rendahnya curah hujan menyebabkan lahan menjadi kering dan mudah terbakar. Resiko kebakaran paling tinggi terutama di kawasan yang didominasi lahan gambut serta wilayah yang selama ini tercatat sebagai zona rawan karhutla.

Menurut Apriati, kondisi cuaca tersebut harus diantisipasi melalui langkah pencegahan sejak dini dan kesiapsiagaan berkelanjutan. Upaya mitigasi dinilai tidak akan efektif tanpa keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan sekitar.

“Periode cuaca kering seperti sekarang menuntut peningkatan kewaspadaan. Pencegahan hanya bisa berhasil jika seluruh elemen, termasuk masyarakat, ikut berperan aktif,” ujarnya.

BPBD Kabupaten Sanggau, lanjut Apriati, terus memperkuat koordinasi dengan instansi terkait untuk memantau perkembangan cuaca serta meningkatkan kesiapsiagaan di lapangan. Patroli dan pemantauan wilayah rawan juga terus diintensifkan sebagai langkah antisipatif.

“Dengan kewaspadaan bersama dan kerja sama lintas sektor, kami berharap risiko karhutla di Kabupaten Sanggau dapat ditekan sejak dini dan tidak berkembang menjadi bencana besar,” ucap Apriati.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....