Kemarahan pada Takdir Menjadi Pertanda Belum Ikhlas

  • 06 Feb 2026 09:54 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Entikong – Musibah kerap menjadi titik balik yang memaksa manusia menata ulang cara pandang dan pola hidupnya. Dalam menghadapi ujian, setiap orang memiliki sikap berbeda, ada yang menerima dengan lapang dada, namun tak sedikit pula yang bangkit dengan semangat pantang menyerah dan menjadikan cobaan sebagai sarana memperkuat diri serta kepedulian terhadap sesama.

Hal tersebut disampaikan oleh Suparwanto, Pelaksana Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tayan Hulu Kabupaten Sanggau dalam Program Mutiara Pagi RRI Entikong, Jumat 6 Februari 2026. Menurutnya bahwa manusia memiliki kecenderungan beragam saat dihadapkan pada takdir berupa musibah atau kesulitan hidup.

Dijelaskan Suparwanto, sebagian orang justru merespons musibah dengan kemarahan karena merasa kenyataan hidup tidak sesuai dengan harapan. Sikap ini, kata dia, dapat menjadi persoalan serius apabila dibiarkan berlarut-larut dalam hati dan perasaan.

“Ketika Allah memberikan takdir berupa kesusahan atau sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan dan realita hidup yang dijalani, itu menandakan hati dan perasaan seseorang sedang marah kepada Allah SWT, yang dikhawatirkan dapat mengarah pada kekufuran dan dosa besar,” kata dia.

Ia menambahkan, kemarahan terhadap takdir sering kali diwujudkan dalam perilaku menyakiti diri sendiri atau merusak jasad. Tindakan tersebut, menurutnya, merupakan bentuk pelampiasan emosi yang keliru dan kerap ditemukan di tengah masyarakat.

“Ketika Allah menimpakan sesuatu yang tidak menyenangkan dalam kehidupannya, lalu ia menyakiti diri dan merusak jasadnya, itu termasuk bentuk kemarahan. Pada dasarnya, membenci dan marah terhadap takdir Allah menunjukkan bahwa seseorang belum mampu menerima ketentuan-Nya,” ujarnya.

Suparwanto menegaskan bahwa menerima takdir bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menata hati agar tetap kuat dan berpikir jernih dalam menghadapi ujian. Dengan sikap tersebut, seseorang justru akan lebih mudah bangkit dan memperbaiki keadaan.

“Bagian terpenting dalam hidup adalah menerima setiap kebaikan maupun keburukan dengan lapang dada, sikap legowo, dan hati yang besar,” terangnya.

 

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....