Efek Kesehatan jika Mengkonsumsi Ketan Berlebihan

  • 30 Mei 2026 11:28 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Entikong - Olahan makanan berbasis beras ketan, seperti lemper, klepon, jadah, hingga mangga ketan (mango sticky rice), selalu berhasil memanjakan lidah masyarakat Indonesia. Di balik kelezatannya, hidangan ini sering kali dianggap sebagai simbol kehangatan dalam berbagai acara adat dan kumpul keluarga. Namun, di balik popularitasnya yang tinggi, konsumsi olahan ketan yang dilakukan secara berlebihan menyimpan berbagai risiko kesehatan yang jarang disadari oleh sebagian besar orang.

Berbeda dengan beras biasa yang kaya akan amilosa, beras ketan didominasi oleh amilopektin, yaitu jenis pati berstruktur bercabang yang memberikan efek lengket setelah dimasak. Struktur molekul amilopektin yang kompleks ini ternyata menjadi tantangan tersendiri bagi sistem pencernaan manusia. Ketika masuk ke dalam lambung dalam jumlah besar, sifat lengket dari ketan dapat memperlambat proses pengosongan lambung, sehingga memicu gangguan pencernaan seperti perut kembung, begah, hingga kram perut yang menyiksa.

Bagi para penderita gangguan asam lambung atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), konsumsi ketan secara berlebihan adalah sebuah ancaman nyata. Karena lambung membutuhkan waktu dan energi ekstra untuk memecah struktur amilopektin, organ pencernaan ini akan memproduksi asam lambung secara agresif. Akibatnya, cairan asam tersebut dapat naik kembali ke kerongkongan, menyebabkan sensasi terbakar di dada (heartburn) dan rasa mual yang intens.

Dampak buruk lain yang tidak boleh diabaikan adalah lonjakan kadar gula darah yang sangat cepat. Karena indeks glikemiknya yang tinggi, tubuh akan menyerap karbohidrat dari ketan dengan sangat kilat, menyebabkan glukosa darah melonjak drastis sesaat setelah makan. Fenomena ini memaksa kelenjar pankreas bekerja ekstra keras untuk memproduksi hormon insulin.

Tidak berhenti di situ, ancaman obesitas juga mengintai para pencinta olahan ketan yang abai terhadap porsi. Beras ketan memiliki kepadatan kalori yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan beras biasa dalam takaran yang sama. Situasi ini diperparah oleh fakta bahwa olahan ketan tradisional hampir selalu dipadukan dengan bahan baku tinggi kalori lainnya, seperti santan kental, gula merah, susu kental manis, atau gorengan.

Sistem kardiovaskular atau kesehatan jantung juga berpotensi menerima dampak negatif secara tidak langsung. Paduan ketan dan santan yang dimasak dalam waktu lama kaya akan lemak jenuh. Mengonsumsi hidangan seperti ini secara ugal-ugalan dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat dalam darah. Penumpukan kolesterol ini lambat laun akan membentuk plak pada dinding pembuluh darah (aterosklerosis), yang memicu penyempitan aliran darah dan meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung koroner serta stroke di usia produktif.

Menikmati olahan ketan bukanlah sebuah larangan mutlak, melainkan sebuah seni dalam menjaga batasan. Kuliner tradisional ini tetap bisa menjadi bagian dari diet harian asalkan dikonsumsi dalam porsi yang bijak dan tidak berlebihan. Kunci utama hidup sehat terletak pada moderasi dan kesadaran terhadap apa yang masuk ke dalam tubuh kita.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....