Mengenal Faktor Risiko Kanker Serviks pada Perempuan

  • 26 Jan 2026 06:10 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Entikong – Kanker serviks masih menjadi salah satu ancaman serius bagi kesehatan perempuan. Penyakit ini kerap disalahpahami dan dikaitkan dengan stigma tertentu, padahal dapat dialami oleh perempuan yang hidup setia dalam pernikahan dan menerapkan pola hidup sehat.

Secara medis, penyebab utama kanker serviks adalah infeksi Human Papillomavirus (HPV). Virus ini sangat umum, sering tidak menimbulkan gejala, dan pada sebagian kecil kasus dapat menetap lalu memicu perubahan sel di leher rahim.

Sebagian besar infeksi HPV sebenarnya dapat dibersihkan oleh sistem kekebalan tubuh. Namun, jika daya tahan tubuh melemah, virus dapat bertahan lebih lama dan meningkatkan risiko berkembangnya sel abnormal.

Penularan HPV terjadi melalui kontak intim dan sering berlangsung tanpa disadari. Infeksi bahkan bisa terjadi bertahun-tahun sebelum terdeteksi, sehingga sulit menentukan waktu dan sumber penularannya.

Dalam dunia medis, riwayat kesehatan pasangan diakui sebagai salah satu faktor risiko. Pasangan dapat membawa HPV tanpa gejala, sehingga perempuan yang setia dalam pernikahan tetap berpotensi terpapar virus tersebut.

Selain faktor infeksi, kondisi sistem imun berperan penting dalam perkembangan kanker serviks. Stres berkepanjangan, kelelahan, kurang istirahat, serta penyakit tertentu dapat menurunkan kemampuan tubuh melawan HPV.

Kurangnya deteksi dini juga menjadi faktor yang memperbesar risiko. Tidak rutin melakukan pemeriksaan Pap smear atau tes HPV membuat perubahan sel serviks sulit dikenali sejak awal.

Tenaga kesehatan menegaskan bahwa kanker serviks adalah masalah medis, bukan persoalan moral. Penyakit ini muncul akibat kombinasi berbagai faktor sehingga tidak dapat dikaitkan dengan satu perilaku tertentu.

Oleh karena itu, perempuan dianjurkan rutin menjalani skrining kanker serviks, menjaga kesehatan secara menyeluruh, dan memahami pentingnya pencegahan HPV. Langkah ini krusial untuk meningkatkan kesadaran, menghapus stigma, dan mendorong penanganan sejak dini.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....