Sisi Lain Labuan Bajo: Dominasi Wisata Laut, Jeritan Pelaku Industri Kreatif Lokal
- 01 Apr 2026 11:27 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat – Popularitas Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai destinasi pariwisata super premium terus meningkat. Namun, di balik pesatnya pembangunan hotel berbintang dan pesona Taman Nasional Komodo, muncul ketimpangan antara sektor wisata bahari dan darat, serta minimnya keterlibatan pelaku industri kreatif lokal.
Hal tersebut mengemuka dalam diskusi publik bertajuk “Sunset Talk: Dari Labuan Bajo untuk Dunia” yang diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) SP Labuan Bajo bersama Mawatu di Amfiteater Mawatu, Labuan Bajo, Minggu 29 Maret 2026.
Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Barat, Fransiskus Sales Sodo, mengungkapkan bahwa pola kunjungan wisatawan masih sangat didominasi sektor bahari.
“Hampir 95 persen kunjungan wisatawan berada di laut, khususnya di Taman Nasional Komodo. Wisatawan mancanegara mendominasi hingga 78 persen, sementara domestik hanya 22 persen. Di daratan atau mainland, kunjungan masih sangat minim,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah daerah dalam merancang kebijakan pariwisata yang berkelanjutan, terutama untuk menjaga daya tampung kawasan konservasi.
Sementara itu, perwakilan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Manggarai Barat, Kendy, menyoroti risiko ketergantungan terhadap wisata laut. Ia mengingatkan bahwa sektor pariwisata bisa mengalami penurunan signifikan saat musim barat dengan gelombang tinggi.
“Jika hanya fokus di laut, saat musim barat pariwisata bisa ‘tidur panjang’. Padahal investasi di darat seperti hotel membutuhkan tingkat hunian yang stabil,” katanya.
Dari sisi industri kreatif, pelaku usaha lokal juga menyuarakan keresahan. Rino, pelaku UMKM Chomabee, menilai produk UMKM masih kerap diposisikan sebagai pelengkap, bukan bagian utama dalam ekosistem pariwisata.
“Kami mengangkat bahasa dan budaya Manggarai melalui produk seperti kaos dan merchandise. Tapi perlu regulasi nyata, misalnya kewajiban hotel menggunakan produk tenun atau kerajinan lokal agar UMKM bisa berkembang,” ujarnya.
Hal senada disampaikan konten kreator asal NTT, Suci Maria yang menekankan pentingnya pelibatan kreator lokal dalam strategi promosi daerah.
“Selama ini lebih banyak orang luar yang bercerita tentang Labuan Bajo. Pemerintah perlu melibatkan kreator lokal sejak awal agar promosi lebih kuat secara emosional dan memiliki makna,” ungkapnya.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Pelaksana Tugas Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores, Andhy MT Marpaung, menyampaikan komitmen pihaknya dalam mendorong diversifikasi produk wisata.
“Kami terus mengembangkan desa wisata dan ruang kreatif seperti Wikenet Parapuar. Budaya dan kearifan lokal adalah kekuatan utama Labuan Bajo. Kami terbuka untuk kolaborasi agar pelaku kreatif lokal bisa mandiri secara bisnis,” katanya.
Diskusi ini juga melahirkan sejumlah gagasan, seperti pengembangan medical tourism atau wisata kesehatan, serta peningkatan fasilitas publik guna mendukung kenyamanan wisatawan selama berada di daratan.
Adapun dengan berbagai tantangan tersebut, diperlukan langkah kolaboratif antara pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas lokal agar pariwisata Labuan Bajo tidak hanya bertumpu pada laut, tetapi juga berkembang secara inklusif dan berkelanjutan di darat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....